
Beberapa saat terbang mengikuti penunjuk signal keberadaan Alexa, akhirnya Johan mendengar suara keributan. Tidak memperhatikan sekeliling, mata laki-laki itu terbelalak melihat beberapa vampire sedang memegangi pintu mobil yang dibawa pengawal. Johan melihat ke belakang, kemudian tangannya memberi kode beberapa pengawal di belakangnya untuk membantu para pengawal lainnya. Johan sendiri langsung terbang menghampiri mobil dimana terdapat Alexa di dalamnya.
"Lepaskan tangan kotormu itu dari pintu mobil..!" terdengar teriakan keluar dari mulut Johan. Dengan mata beringas dan tajam, bola mata Johan menatap ke arah manusia vampire yang ingin menangkap ALexa.
"Bawa nona muda menyingkir dari sini. Cepat..!" melihat keberadaan Alexa yang nyaris tertarik tangannya oleh manusia vampire di depan pintu mobil, Johan berteriak memberi peringatan pada driver mobil yang mengendarainya. Untungnya setelah mendengar teriakan Johan, driver dengan cepat menginjak pedal gas. Dengan cepat pula, Johan menarik manusia vampire yang masih berpegangan di pintu mobil. Setelah Johan berhasil menarik dan menyingkirkan beberapa manusia vampire itu, pintu mobil tertutup dengan keras. Mobil segera meluncur meninggalkan tempat itu.
"Siapakah kalian ini, dan atas perintah siapa bermaksud untuk menangkap nona muda kami..?" sambil memberikan pukulan ke rahang manusia vampire yang ada di tangannya, Johan berteriak meminta penjelasan.
"Ha.., ha.., ha.. apakah semudah itu kamu akan bisa mendapatkan informasi dariku.. Jangan bermimpi Johan, penjilat sepatu Ravendra.. ha.., ha.. ha.." bukannya menjawab, tetapi malah perkataan hinaan yang keluar dari mulut laki-laki itu.
Mendengar perkataan itu, telinga Johan menjadi merasa panas. Keputusannya semula adalah hanya ingin memberikan peringatan pada manusia-manusia vampire agar tidak mengganggu lagi ke depannya. Tetapi mendengar lontaran kata-kata penghinaan untuknya menjadikan wajah Johan memerah, laki-laki itu menjadi tidak stabil emosinya.
"Puakk... dukk.. tutup mulut kotormu itu Ba**jingan.. " tamparan keras dan tendangan kaki Johan melayang di perut manusia vampire yang ada di depannya. Tubuh manusia vampire itu terbang melayang menjauh dari Johan, dan akhirnya membentur batang pohon yang banyak terdapat di hutan itu.
"Pergilah kalian, mundurlah atau aku bumi hanguskan kalian dengan peluru perak yang ada di tubuh kami." Johan berteriak memberi ancaman pada manusia-manusia vampire itu.
Beberapa pengawal yang membersamai Johan mengeluarkan senjata laras panjang di tangan mereka. Peluru perak terlihat berkilat ada di tangan para pengawal itu. Manusia-manusia vampire itu menjadi terlihat panik, dan saling berpandangan.
__ADS_1
"Dor,.., dor.." Johan menembakkan peluru perak ke atas sebagai bentuk pemberian peringatan kepada para manusia vampire itu.
Tanpa menunggu lagi, beberapa manusia vampire yang tadi melakukan penyerangan pada Alexa berlarian meninggalkan tempat itu. Johan bernafas lega, kemudian laki-laki itu memberi isyarat pada para pengawal yang bersamanya untuk segera kembali ke kastil Ravendra. Memang di hutan ini, banyak manusia vampire yang sengaja menjauh dari kehidupan manusia biasa, dan jarang atau bahkan tidak manusia yang berani menjamah hutan ini terlebih di waktu malam hari. Karena jika mereka tidak beruntung, mereka akan dimangsa oleh para manusia vampire yang menghuni di hutan ini.
"Apa rencana kita selanjutnya Tuan Johan.., apakah kita akan mengejar mereka." salah satu pengawal bertanya pada Johan.
"Tidak perlu, yang paling utama adalah keselamatan nona muda Alexa. Kita harus segera kembali ke kastil untuk memastikan keselamatan nona muda itu, atau nyawa kita yang akan menjadi taruhannya." Johan segera mengajak para pengawal untuk kembali.
"Siap Tuan Johan.., kita akan mengikuti arahan Tuan Johan."
Akhirnya Johan dan beberapa pengawal vampire terbang mengawal para pengawal yang menggunakan sepeda motor menembus kegelapan hutan.
**********
"Siapkan air hangat untuk membersihkan luka-lukanya." ALexa berteriak memberi aba-aba, agar para maid segera mengobati pengawal yang terluka itu.
"Kalian angkat dan baringkan tubuh pengawal ini di kamar tamu. Kalian harus segera mengobatinya, jika perlu hubungi dokter keluarga kak Ravend. Laki-laki ini harus segera mendapat perawatan, untuk memastikan agar luka-lukanya tidak menimbulkan infeksi." Alexa terus membuat pengaturan,
__ADS_1
Para pengawal yang sudah berada di halaman, segera mengangkat tubuh pengawal yang terluka itu, kemudian membawanya ke dalam kamar tamu. Salah satu maid segera berlari ke dalam untuk melakukan panggilan keluar pada dokter keluarga.
Tidak lama kemudian, dari arah dapur terlihat salah satu maid membawa air hangat ke dalam kamar. Alexa memberi isyarat agar pengawal laki-laki membersihkan luka-luka di tubuh pengawal itu. Setelah memastikan semua berjalan sebagaimana mestinya, Alexa berjalan keluar dari dalam kamar itu. Merasa dokter keluarga belum datang, Alexa merasa tidak enak untuk masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Perempuan itu berjalan ke ruang tengah, kemudian mendudukkan badannya di atas sofa.
"Nona muda.., apakah nona muda sebaiknya tidak beristirahat saja dulu. Biar kami yang menjaga pengawal yang terluka itu, sembari menunggu kedatangan dokter." salah satu maid mendekati Alexa, dan meminta perempuan itu untuk beristirahat.
"Biarlah aku akan menunggu sampai dokter datang, baru nanti aku istirahat. Siapkan untukku satu cangkir teh manis panas." Alexa akan menunggu kedatangan dokter.
"Baik nona muda.., akan segera saya siapkan." maid itu segera bergegas meninggalkan Alexa. Tidak lama kemudian, maid itu sudah kembali dengan membawa nampan berisi teh panas.
"Sediakan juga minuman panas untuk pengawal itu." tanpa melupakan pengawal yang sakit, ALexa juga meminta maid itu menyediakan minuman untuknya.
Maid itu segera kembali masuk ke dalam dapur untuk melaksanakan perintah Alexa. Sepeninggal maid itu, Alexa mengangkat kakinya ke atas, kemudian meluruskan di atas sofa. Satu tangannya mengambil bantal kursi, kemudian menggunakannya sebagai bantal di atas kepalanya. Merasa sepi, Alexa mengambil remote televisi kemudian menyalakan televisi untuk menemaninya di ruang tengah. Melihat keberadaan Alexa di tempat itu, tidak ada satupun yang berani mengganggu perempuan itu. Mereka hanya mengawasi ALexa dari tempat yang cukup jauh, berjaga-jaga jika gadis itu membutuhkan sesuatu.
Tiba-tiba terdengar suara kericuhan di ruang tamu. ALexa berpikir jika yang datang itu adalah dokter yang barusan ditelpon oleh salah satu maid. Tetapi di luar dugaan, tiba-tiba Johan datang dan masuk ke ruang tengah. Dengan tatapan tajam, laki-laki itu menatap ALexa dengan tatapan bermusuhan.
"Ada apa kak Johan.., apa ada yang salah denganku? Jika kejadian tadi kakak anggap sebagai kesalahanku, aku minta maaf. Tetapi sampai kapanpun, Alexa tidak akan bisa membiarkan orang lain yang kesusahan untuk tidak memberikan bantuan kepadanya." merasa jika laki-laki itu marah kepadanya, Alexa meminta maaf terlebih dulu pada Johan.
__ADS_1
***********