Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Motif Pelaku


__ADS_3

Johan geleng-geleng kepala melihat hancurnya gudang penyimpanan mobil. Bekas-bekas bangunan maupun mobil tidak ada yang tersisa. Hal ini menunjukkan jika pelaku pembakaran bukan merupakan orang sembarangan. Untuk menghancurkan fasilitas seperti ini, dibutuhkan teknologi penghancuran dengan menggunakan teknologi terbaru. Bukan kerugian yang dipikirkan oleh Johan, namun berpikir siapa dalang yang ikut bermain melawan tuan muda Ravendra.


"Kami tidak tahu apa-apa tuan Johan... semua terjadi dengan tiba-tiba. Dua anak buah kita terjebak di dalam gudang, tidak sempat berlari keluar dari dalam, ketika dari bagian depan, gudang ini sudah meledak. Keluarganya juga sudah kami informasikan tuan..." penjaga gudang segera melapor kepada Johan.


Polisi Kepolisian Daerah Batam sudah berada di lokasi, dan melakukan penyelidikan. Tampak beberapa asap tebal masih terlihat, karena bukan hanya mobil saja yang berada di gudang ini. Tetapi banyak spare part, onderdil yang juga ada di gudang tersebut.


"Biarkan tim penyidik yang akan mengeluarkan pernyataan. Tugas kalian adalah memberikan penjelasan pada keluarga kedua korban, penuhi semua tuntutan yang diminta oleh keluarganya. Urus juga asuransi, Jamsostek dan santunan-santunan yang diberikan perusahaan yang lain." tidak mau diganggu dengan penglihatannya, Johan mengalihkan pembicaraan pada anak buahnya.


"Siap tuan Johan.. akan segera kami kondisikan. Permisi.." mendapatkan jawaban tegas dari laki-laki itu, anak buah segera pergi mengurus hal lainnya.


Johan berjalan mendekati puing-puing, dan terlihat tim investigasi handal yang memang dibentuk oleh perusahaan, tampak melakukan penyelidikan. Melihat kedatangan Johan, tim investigasi segera mendatangi laki-laki itu.


"Tuan Johan... sepertinya alat ini yang digunakan sebagai pemicu ledakan. Tetapi alat ini di remote atau dikendalikan dari jauh,, tidak dari lokasi gudang penyimpanan ini.." tim penyidik menyerahkan sebuah benda pipih stainless pada Johan.


Laki-laki muda itu segera mengambil dan mengamati benda tersebut. Berkali-kali Johan mencoba melihatnya dengan seksama, namun belum ada sesuatu yang berhasil ditemukan dari benda tersebut.


"Lanjutkan tugas penyelidikan kalian.. AKu akan membawa benda pipih ini dan menunjukkannya pada tuan muda Ravendra. Laporkan jika kalian menemukan informasi sekecil apapun.. semuanya akan dapat melengkapi penyidikan." Ravendra meninggalkan pesan pada petugas itu, kemudian membalikkan badan meninggalkan mereka. Namun baru saja laki-laki itu berjalan beberapa langkah, terlihat ada petugas kepolisian berjalan mendatanginya..

__ADS_1


'Selamat malam tuan Johan.. apakah kami bisa mengganggu kesibukan tuan malam ini.." dengan sopan, setelah memberi penghormatan pada Johan, polisi itu meminta ijin.


"Ehmm... terkait masalah apa ya pak. Jika masalah kebakaran gudang ini dan penyebabnya, saya sendiri belum bisa untuk memberikan jawaban pal. tetapi ada tim penyidik perusahaan yang sedang melakukan pemeriksaan. Temui laki-laki yang sedang berdiri itu, saya tidak punya waktu untuk melayani wawancara dari Bapak-bapak semuanya." Johan menunjuk ke arak Ketua Tim Penyidik.


"Baik tuan Johan... akan besar kebanggaan kami, jika suatu waktu tuan Johan berkenan menerima wawancara langsung dari pihak kepolisian." merasa mendapatkan uang keamanan yang sangat besar setiap bulannya, pihak polisi tidak berani menekan Johan.


Johan langsung berjalan meninggalkan polisi tersebut, kemudian menuju mobil dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Sambil memegang kemudi, laki-laki itu teringat jika tadi meninggalkan Raveena sendiri di kamar hotel, dan belum berpamitan kepadanya.


"Sayang... ada masalah urgent terkait dengan perusahaan. Maaf ya sayang.. aku meninggalkanmu sendiri." menggunakan voice note, Johan mengirim pesan pada Raveena.


*********


Di depan pintu ruang kerja, tampak maid membungkukkan badan memberi salam pada Johan. Tetapi laki-laki itu mengabaikannya dan langsung mendorong pintu ruang kerja tersebut. Terlihat ruangan itu sudah bersinar terang lampunya, dan Ravendra sedang merokok di balkon ruangan tersebut.


"Kak Ravend... ini yang berhasil ditemukan tim penyidik perusahaan kita.." Johan meletakkan lempengan stainless berbentuk lingkaran ke atas meja.


Ravendra mematikan rokok yang ada di tangannya, laki-laki itu kemudian masuk ke dalam ruangan. Melihat barang yang ditunjukkan oleh adik iparnya, Ravendra kemudian duduk kemudian memegang lempengan stainless tersebut.

__ADS_1


Beberapa kali, Ravendra memutar-mutar dan mengawasi detail dari barang tersebut, kemudian..


"Cari pembesar Johan, barang ini merupakan detonator yang memicu ledakan. Kita akan selidiki perusahaan mana yang berani menciptakan barang berbahaya ini, dan tidak menawarkan kepada kita. Berani sekali mereka memancing kesabaran kita.." dengan tersenyum sinis, Ravendra menemukan informasi penunjuk.


Tulisan dan logo kecil itu memang tidak terlihat dengan kasat mata, hanya orang yang memiliki ketelitian dan keawasan yang tinggi, bisa mengenalinya. Johan terdiam, sejak tadi laki-laki itu sudah berpikir dan menemukan petunjuk itu, tetapi belum mau membuat kesimpulan terlebih dulu. Tanpa bicara, Johan menyerahkan pembesar dari dalam saku bajunya. Ravendra segera mengambil pembesar itu, kemudian mengamatinya dengan teliti.


"Hmm.. manfuctured in Germany... perusahaan milik siapa ini, dan apa urusannya mereka mencoba mengusikku.." ucap Ravendra lirih sambil tersenyum. Tetapi senyuman itu terlihat sangat mengerikan bagi orang yang memahaminya.


"Nanti kita selidiki kak.. Untuk korban ada dua orang yang tidak bisa diselamatkan, tetapi tadi sudah saya sampaikan pada HRD dan manager pabrik untuk memenuhi tuntutan yang dimaui oleh pihak keluargaya. Semua santunan, dan hak-hak pegawai juga sudah disiapkan oleh perusahaan.." Johan kembali melaporkan apa yang sudah dilakukan oleh orang-orang di perusahaan.


"Iya.. manusiakan mereka. Aku sebenarnya sudah berhenti menggunakan tindakan kekerasan seperti ini, sudah bukan jamannya lagi. Tetapi orang-orang itu menantangku.. mereka seperti ingin membangunkanku yang sudah lama tertidur.." pikiran Ravendra menerawang, laki-laki itu mengingat-ingat siapa musuh yang sudah berani membuat masalah dengannya.


Johan juga terdiam, laki-laki itu membuat mapping orang-orang yang pernah berurusan dengan Ravendra atau perusahaan mereka. Tetapi semua perselisihan yang pernah terjadi, sudah merasa diselesaikan dengan baik, dan diakhiri dengan Letter of Agreement. Beberapa saat kedua orang itu merenung sendiri.. sebenarnya bukan masalah materi yang dipedulikan oleh mereka, Tetapi korban manusia, dan kehilangan akses pekerjaan orang-orang yang ada di perusahaan itu, menjadi hal yang dipikirkan oleh mereka.


"Robin.. apakah laki-laki itu. Menurut informasi terakhir, karena Tami tidak bisa diselamatkan, laki-laki itu melarikan diri dengan private jet dan dilindungi oleh pengusaha dari DUbai.. Apakah laki-laki itu yang sudah berhasil membangun kekuatan finansial melakukan serangan balik..?" tiba-tiba Johan menyebut nama Robin.


Ravendra tersenyum, karena yang disampaikan oleh Johan sama dengan yang melintas di pikirannya barusan.

__ADS_1


***********


__ADS_2