Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Kita akan Menyusulnya


__ADS_3

Mengetahui informasi keberadaan putri dan cucunya, Nyonya Sarah terus meminta suaminya Thomas untuk mengantarkan ke negara Swiss. Thomas sedikit keberatan untuk mengabulkan keinginan istrinya, karena harus berurusan dengan Ravendra, laki-laki yang sangat keras. Namun.. Nyonya Sarah terus mendesak, dan selalu membicarakan dan menunjukkan rasa khawatirnya, sehingga membuat Thomas menjadi tidak nyaman.


"Hmm.. okay.. okay.. mam.. Nanti sore kita menuju Swiss.. papa akan kondisikan ketersediaan kamar untuk dapat kita tempati selama berada di negara tersebut. Tapi ingat mam.. papa hanya akan mengantar kita ke negara Swiss. Setelah kita tahu jika putri kita Lexa, dan Abhimana memang berada di kastil Ravendra yang ada di pegunungan Alpen, kita tidak akan mengganggu kegiatan honey moon mereka." akhirnya Thomas dengan berat hati menyanggupi keinginan istrinya.


"Benar pap.. tidak ada kebohongan bukan dalam kata-kata papa.." Nyonya Sarah memastikan apa yang didengar dari perkataan suaminya.


Terlihat Thomas tanpa daya menganggukkan kepalanya, dengan senyum kecut tersungging di bibirnya. Laki-laki itu menarik tangan istrinya, kemudian mendudukkan perempuan muda itu di pangkuannya. Nyonya Sarah terkejut dengan perlakuan suaminya, tiba-tiba perempuan paruh baya itu merasa merinding, ketika hembusan nafas hangat menerpa belakang daun telinganya.


"Sayang kita sudah sangat lama tidak melakukannya.. apakah sayang mau menyiram rasa dahaga ini. Sebagai imbalan apa yang telah aku lakukan sayang.." bisikan lembut suara Thomas di telinga perempuan paruh baya itu, membuatnya semakin merinding.


Dengan mata yang mulai redup, Nyonya Sarah membalikkan tubuhnya, dan akhirnya pasangan suami istri yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi itu, saling duduk berhadapan. Baru Nyonya Sarah menyadari, ternyata sentuhan lembut dari suaminya, juga mampu membangkitkan kerinduannya untuk saling lebih dekat mereka saling menyentuh. Tidak diduga, tanpa kata Nyonya Sarah mengangkat pinggulnya sedikit ke atas, kemudian bibir mungilnya memberanikan diri memberikan kecupan ke bibir suaminya yang sudah mulai membukan. Dengan cepat, lidah Thomas menyambar dan membelit lidah Sarah, keduanya terlarut dalam aktivitas intim yang sudah sangat mereka rindukan itu.


"Papa.. akh..." tanpa sadar, bibir Nyonya Sarah berteriak kecil, ketika dengan ganasnya gigi Thomas menggigit lembut leher di bawah daun telinganya. Keduanya saling terlena, tidak menyadari saat ini mereka sudah berada dalam usia berapa. Keduanya saling membalas, saling melengkapi sentuhan dan rabaan di tubuh mereka masing-masing. Perlahan, Thomas berdiri sambil tetap membiarkan tubuh istrinya merangkul tubuhnya.


Tidak lama kemudian kedua tubuh yang saling merangkai itu, berpindah tempat ke atas king size bed dalam kamar hotel yang mereka tempati, Nyonya Sarah juga seperti terlupakan dengan usianya, perempuan paruh baya itu dengan aktif naik di tubuh suaminya. Tanpa malu, hentakan demi hentakan dilakukannya sampai dirinya merasakan kepuasan. Dengan mata redup, Thomas menatap istrinya dan senyuman serta le**nguhan terus mengiringi percintaan yang mereka lakukan.

__ADS_1


"Mam... papa sangat merindukan hal ini.. Papa tidak mau kita hanya berhenti sekali ini.. kita akan melakukannya lagi sayang..." ceracauan tidak jelas terus keluar dari bibir laki-laki itu, menambah rasa senang dan puas Sarah dalam memberikan layanan kepada suaminya.


Dua pasang manusia yang sudah tidak muda lagi itu akhirnya saling melepas kerinduan dan kepenatan mereka. Sudah sekian waktu, mereka tidak pernah melakukannya lagi karena kesibukan masing-masing, dan malam ini akhirnya tertuntaskan rasa yang tertahan dalam hati mereka.


********


Keesokan Harinya


Melihat Thomas dan Sarah sudah siap akan menuju ke bandara, Raveena segera mengajak Johan untuk mengiktui pasangan paruh baya itu. Sebenarnya Johan agak keberatan, karena memahami bagaimana karakter kakak iparnya, yang akan bisa marah melihat kedatangan mereka secara beramai-ramai. Namun mendengar rayuan dan rengekan secara terus menerus yang dilakukan Raveena, akhirnya Johan mengabulkan permintaan istrinya. Dengan rasa malas, akhirnya Johan keluar dari dalam kamar.


"Okay.. Uncle dan Auntie akan tunggu Johan. Masih lamakah Raveena keluar.." dengan ramah, Thomas berhenti menunggu pasangan suami istri muda itu keluar dari dalam kamar.


Tidak lama kemudian, dengan satu buah trolly kecil, terlihat Raveena dengan wajah ceria sudah berjalan keluar dari dalam kamar, Johan dengan sigap, mengambil alih trolly dari tangan istrinya. Ke empat orang itu kemudian berjalan keluar menuju ke arah lift.


"Uncle sudah booking room di kota Barne Veena.. Bagaimana dengan kalian berdua, apakah akan join dengan Uncle dan auntie sesampainya disana." untuk mengisi keheningan, Thomas mengajukan pertanyaan pada Raveena.

__ADS_1


Gadis muda itu melihat ke arah suaminya, dan sejak awal Johan mau menuruti keinginan istrinya, asalkan mereka berpisah dengan keluarga. Mereka murni hanya bertujuan untuk honey moon, menikmati udara dingin di negara tersebut, bukan dengan tujuan untuk menemui Ravendra dan Alexa serta keponakannya.


"Sepertinya tidak Uncle.. karena Veena ingin melakukan pendakian.di Mount Pilatus. Juga ingin berkunjung juga ke Air Terjun Rhine, jadi sepertinya kita harus terpisah Uncle. Tidak bisa bergabung dengan Uncle dan Auntie di hotel yang sama, tapi jangan khawatir nanti Veena share lock keberadaan tempat kak Lexa dan kak Vendra saat ini berada." dengan halus Raveena menolak tawaran dari Thomas.


"Tidak masalah Veen.. kita masing-masing juga punya urusan. Mumpung masih muda dan belum punya tanggungan, nikmatilah masa-masa kalian." sambil berjalan, Nyonya Sarah menanggapi perkataan Raveena.


"Iya auntie.." sahut Raveena singkat.


Tidak lama kemudian, akhirnya mereka segera masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkan mereka untuk menuju bandara. Tidak membutuhkan waktu lama, hanya dalam waktu tempuh sekitar satu jam saja, mereka dari Frankfurt menuju Barne akan segera dapat tiba di kota itu. Mobil segera meluncur meninggalkan lobby hotel, Raveena menyandarkan kepalanya ke bahu Johan.


Thomas tersenyum melihat pasangan muda itu, keduanya duduk di kursi paling belakang. Mereka menolak untuk duduk di kursi tengah, karena ingin bisa duduk berdampingan. Untuk mengurangi rasa sepi, dan meskipun sudah umur, muncul rasa iri melihat kemesraan pasangan muda di kursi yang ada di belakangnya. Laki-laki itu meraih leher Sarah, dan bermaksud menyandarkan kepala istrinya ke atas dadanya. Namun merasa malu dengan tindakan suaminya, Sarah menolak dan memelototi suaminya.


"Sayang.. papa pingin seperi Johan dan Raveena di belakang.." bisik Thomas di telinga istrinya Sarah. Setelah berpikir sejenak, akhirnya perempuan paruh baya itu menyetujui keinginan suaminya. Perlahan perempuan paruh baya itu bersandar di dada suaminya, dan sebuah kecupan diberikan Thomas di kening Sarah.


**********

__ADS_1


__ADS_2