
Steven dan David meninggalkan Raveena sendiri di meja tunggu. Waiters sedang menyiapkan makanan yang sedang mereka pesan. Kedua anak muda itu sedang berjalan menuju ke arah toilet. Sambil mencuci tangan di depan wastafel, kedua anak muda itu berbicara.
"David.. apakah kamu tidak melihat ada hal yang aneh dengan Raveena. Apakah gadis itu benar-benar seorang gadis biasa, dimana dengan kekuatan seorang perempuan, pagi-pagi buta sudah berada di atas puncak bukit Dangas sendirian lagi. Menurutmu.. apakah Raveena saat ini tidak sedang berbohong pada kita,?" Steven mengajukan pertanyaan pada David. Untung karena masih pagi, belum banyak orang yang datang ke restaurant itu untuk melakukan sarapan pagi.
"Akupun merasa agak aneh dan ragu dengan Raveena.. Steven. Namun... apa yang perlu kita khawatirkan, asalkan gadis itu tidak membuat kita celaka. Apalagi posisi kita saat ini sedang berdua, sedangkan dia sendirian. Dengan bertempat tinggal di Pent House,.. bisa disimpulkan jika Raveena bukan gadis sembarangan. Hanya pemilik atau putri dari pemilik saham terbesar di hotel tersebut, yang dapat menempati fasilitas terbaik dari sebuh hotel." sahut David menenangkan Steven.
Steven terdiam, dan memaknai kata-kata yang diucapkan oleh sahabat karib yang juga saudara sepupunya itu. tetapi tiba-tiba laki-laki itu teringat dengan mobil Jeep Cherokee yang sejak tadi terlihat selalu mengikuti perjalanan mereka, dan bahkan saat ini mobil itu terparkir di halaman parkir restaurant ini.
"David.. ingatkah kamu dengan Jeep Cherokee yang tadi terlihat berhenti di puncak bukit Dangas. Tadi.. aku melihatnya, jika mobil itu selalu mengikuti mobil kita meskipun tetap menjaga jarak. Dan bahkan.. mobil itu parkir di sebelah mobil kita di depan restaurant ini." Steven kembali berbicara dengan sedikit keras kepada sahabatnya itu.
"Mmmm... aku juga mencurigainya. Mungkin sebenarnya Raveena memiliki hubungan dengan mobil itu, hanya saja gadis itu berpura-pura mengabaikan dan mengacuhkan ketika sedang bersama kita. Tapi kita lihat saja dulu.. jika penumpang dalam mobil itu mencari gara-gara dengan kita, kita tinggal call orang-orang kita. Namun.. jika ternyata tidak ada aksi dari mobil itu, ignore.." sahut David sambil melangkah keluar dari rest room untuk men itu.
Steven segera mengikuti langkah David, tanpa mampir mereka langsung melangkah ke meja yang sudah diduduki oleh Raveena. Mereka melihat gadis itu sedang menyeruput teh panas, sambil tangannya bergulir di atas layar ponsel.
"Asyik sekali Veena.., semakin memperkuat temuan sebuah riset penelitian dengan judul A Girl's Relationship with Social Media.." David memberi komentar tentang fokusnya Raveena di depan layar ponselnya.
"He.. he.. he.. okay I.m agree dengan komentarmu David. Tetapi sayangnya komentar itu tidak match untukku. Aku menggunakan ponsel bukan untuk bertindak alay di media sosial. Look at this.." Raveena menunjukkan layar ponselnya pada kedua laki-laki di depannya. Sebuah tampilan laporan keuangan sebuah perusahaan tergambar di layar tersebut, dan kedua laki-laki itu tidak memahaminya. Mereka sudah terbiasa untuk menyerahkan tanggung jawab terkait hal itu pada manajer keuangan perusahaan mereka.
__ADS_1
"Woww.. kamu mau meluangkan waktumu untuk hal itu Veena. Mmm.. jika aku sorry malas banget, dan biasa hal itu hanya dikerjakan dan diurusi oleh manajer keuangan*, not me.*." David tersenyum kecut memberikan tanggapan pada Raveena.
"Terbalik berarti denganku.. Aku lebih suka mencermati laporan ini, dan uang mengalir masuk ke rekeningku. Dari pada harus bersusah-susah melakukan rutinitas kerjaan kantor setiap hari. Aku akan kurang menikmati hari-hariku.. he.. he.." sahut Raveena sambil menyuapkan salad sayur ke bibir mungilnya.
Sambil berbincang, ketiga orang itu tanpa sadar menghabiskan semua makanan dan minuman yang sudah mereka pesan.
********
Raveena terkejut melihat Johan berdiri di depan pintu seakan menunggunya. Tanpa kata, di depan David dan Steven, gadis muda itu ditarik langsung Johan dan dibawa ke Jeep Cherokhee. Raveena mencoba menolak dan menghindar dari ajakan laki-laki itu, namun Johan tetap memaksanya.
"Lepaskan tanganku kak Johan.. aku belum mau pulang.." Raveena mencoba menarik pergelangan tangannya dari cekalan laki-laki itu. Tetapi kekuatan Johan masih menang jauh dengan tenaganya.
"Apa pedulimu.. ini adalah urusanku, my business.. Tidak ada sangkut pautnya dengan diri kak Johan.. Semua urusanku, mau tertipu, mau terbuai.. bukan menjadi urusan kakak. Lepaskan tanganku.." Raveena terus berteriak dan berusaha melepaskan pegangan tangan Johan.
David dan Steven saling berpandangan melihat pertengkaran Johan dengan Raveena. Kedua laki-laki itu segera berlari ke arah Raveena dan Johan, kemudian menarik krah kemeja yang dikenakan oleh laki-laki itu.
"Lepaskan temanku... bukk.." David mengirimkan serangan tangan ke arah Johan, namun dengan mengangkat satu sudut bibirnya, Johan menangkap tangan laki-laki itu kemudian mendorongnya ke belakang.
__ADS_1
"Brukk.." tubuh David terjerembab jatuh ke belakang. Steven berlari untuk memberi pertolongan pada sahabat karibnya itu, kemudian membangunkan laki-laki itu kembali.
"Menyingkirlah dari hadapanku.. jika tidak aku akan dengan mudah menghajar kalian berdua." Johan memberi ancaman pada Steven dan David.
Petugas keamanan restaurant dan tukang parkir berlari mendatangi tempat keributan itu. Melihat tamu VVIP dari member card, sedang didorong sampai terjerembab ke belakang, dengan cepat security mendatangi Johan. Laki-laki itu dengan pandangan tidak suka melihat ke arah petugas keamanan tersebut.
"Jangan buat keributan di restaurant ini, atau tidak lama lagi petugas Polres akan datang untuk meringkusmu." dengan ucapan sedikit kasar, security memberi peringatan pada Johan.
"Huh.. hanya itukah yang bisa kalian lakukan. Apa kamu pikir, aku takut menghadapi anggota polisi, atau pengacara yang akan kamu kirim untuk melawanku.. " dengan senyum melecehkan, Johan balik bertanya pada petugas security itu.
Tidak tahu kapan laki-laki itu mengambilnya, tiba-tiba di tangan kanan Johan sudah memegang sepucuk senjata api dengan peredam. Laki-laki itu dengan cepat menodongkan senjata yang ada di tangannya ke leher security yang mengajaknya berbicara. Orang-orang memundurkan diri ke belakang, mereka tidak mau terkena imbas dari kejadian itu.
"Menghabisimu disini secara langsung saja, polisi tidak akan berani untuk menindakku.. Apalagi kamu datangkan mereka kesini untuk berhadapan denganku.." Johan balik menekan security.
Melihat Johan yang sudah tidak bisa diajak bicara secara baik-baik.., akhirnya gadis itu memutuskan untuk mengalah. Raveena mengangkat kedua tangannya dan mengalungkan pada leher laki-laki itu.
"Sudahlah kak.. aku setuju untuk kembali bersamamu. Jangan buat keributan di tempat ini.." ucap Raveena di telinga laki-laki itu, matanya melihat ke arah David dan Steven...
__ADS_1
Tanpa bicara, Johan segera mengangkat tubuh Raveena kemudian mendudukkan gadis itu di kursi depan berdampingan dengannya. Setelah menutup pintu, Johan segera naik ke atas kursinya, kemudian perlahan meninggalkan halaman restaurant tersebut.
********