
Alexa tersenyum pahit melihat ke wajah Abhimana dalam gendongannya. Tatapan lembut dari bayi yang berada dalam gendongannya itu, terlihat mengalirkan semangat pada diri perempuan muda itu. Alexa merogoh tas pinggangnya, dan perempuan itu kembali melakukan pengecekan tentang barang-barang yang dibawanya. Barang-barang kecil yang dia bawa bukan merupakan barang sembarangan, karena barang itu merupakan hasil ciptaan mamanya Sarah. Tanpa ijin, Alexa mengambil beberapa barang yang sengaja disembunyikan oleh perempuan paruh baya itu, karena khawatir jika tercium oleh kelompok penjahat.
"Mam.. maafkan Lexa sudah mengkhianati kepercayaan mama. Kita akan lihat betapa besarnya daya ledak, dan daya hisap barang-barang buatan mama. Alexa mam.. yang akan menjadi pengujinya pertama kali.." sambil mengambil barang-barang itu, Alexa tersenyum.
Setelah merasa sudah memiliki perbekalan yang cukup, Alexa dengan mengendap mulai memasuki daerah yang dijaga oleh beberapa pengawal di sekelilingnya. Perempuan muda itu cukup waspada, sebelum mencoba untuk menerobos masuk, matanya diedarkan mengelilingi tempat tersebut. Namun beberapa saat Alexa merasa ada kejanggalan disitu.
"Kenapa aku tidak melihat satupun penjaga di tempat ini, harusnya tempat ini merupakan tempat yang harus memiliki keketatan penjagaan. Apakah aku melewatkan sesuatu..?" melihat tidak adanya orang disitu, ALexa bertanda tanya.
"Ini adalah kesempatan baik untukku, aku tidak perlu pusing untuk meributkannya. Sepertinya ini bukan jebakan, siapa tahu sudah ada yang mendahuluiku masuk kesini. Jadi aku hanya memanfaatkan upayanya saat ini.." Alexa kemudian membuka rantai kawat yang sudah digunting, dan sambil memberikan ciuman di pipi Abhimana, perempuan muda itu perlahan melangkah masuk ke dalam.
Beberapa saat, Alexa masih terus mengendap berjalan masuk ke dalam. Tetapi belum satupun perempuan muda itu menjumpai pengawal yang berjaga. Meskipun hal tersebut menimbulkan tanda tanya, namun Alexa tidak terlalu memikirkannya. Hanya terus berjalan masuk, hal itulah yang selalu ada dalam pikiran perempuan itu.
"Ekh.. ekh.. mmmm.." tiba-tiba telinga Alexa menangkap ada suara berisik dalam sebuah ruangan. Perempuan muda itu segera merapat ke balik tembok, tetapi tidak terdengar ada langkah kaki sedikitpun di tempat itu.
"Suara apakah itu, aku akan mencoba untuk menengok sejenak.." dengan masih berhati-hati, Alexa mendekati tembok, dimana tadi di dalamnya terdengar suara berisik. Ada sebuah pintu, dan tanpa sengaja Alexa mendorong pintu itu, dan ternyata tidak dikunci dari dalam. Pintu itu terbuka.. dan Alexa terkejut. Ternyata di dalam ruangan itu, terlihat beberapa orang, yang sepertinya adalah para pengawal diikat satu sama lain, dengan mulut disumpal oelh gumpalan kertas, dan ada yang menggunakan gumpalan kain. Alexa tersenyum..
__ADS_1
"Hmmm... rupanya aku sudah dipermudah jalanku oleh orang baik.., dan aku cukup tinggal merapikan kalian" ucap Alexa. Tangan gadis itu masuk ke dalam tas yang ada di pinggangnya, kemudian perempuan itu melemparkan sesuatu, yang tidak lama kemudian mengeluarkan bunyi yang seperti menghipnotis orang-orang itu. Tidak lama kemudian, orang-orang itu terkulai lemas.
"Aku harus segera meninggalkan tempat ini, dan mencari tempat yang lain. Siapakah yang sudah sampai lebih dahulu ke tempat ini.." dengan penuh tanda tanya, Alexa melanjutkan pencarian.
Perempuan itu segera melakukan pengecekan ke beberapa tempat di sekitar areal situ, tetapi belum menemukan apapun. Tiba-tiba kening gadis itu berkerut, melihat sebuah ruangan yang tidak memiliki akses untuk masuk ke dalamnya.
"Ruangan apa ini, kenapa tidak ada pintu juga tidak ada jendela disini. Bagaimana orang bisa masuk ke dalamnya, dan untuk apa ruangan ini.." Alexa menempelkan telinganya di dinding yang ada di depannya itu, namun perempuan itu tidak mendengarkan suara sedikitpun.
Alexa kembali mengedarkan pandangannya, namun tetap tidak ada jawaban yang ditemukannya. Tiba-tiba telinga Alexa menangkap ada suara keributan tidak jauh dari tempat itu. Perempuan muda itu kemudian berhenti, dan mempertajam pendengarannya.
"Ha.. ha.. ha.. tidak perlu aku mencari.. satu persatu keluarga tuan muda Ravendra sudah terjebak datang ke tempat ini.. Keluarga itu sebentar lagi akan hancur.. ha.. ha.." samar-samar Alexa mendengar suara laki-laki tertawa keras.
Tiba-tiba ABhimana dalam gendongannya menggeliat, mata bayi itu terbuka dan menatap mata Alexa dengan tajam. Alexa terkejut, seperti ada magnet dalam tatapan putranya itu.
"Abhi.. pahami mama sekarang sayang.. Kita akan mencari papa..." dengan suara lirih, Alexa mengajak putranya bicara. Sebuah ciuman di kedua pipi ABhimana, kembali diberikan oleh perempuan itu.
__ADS_1
Tiba-tiba tidak disangka, Abhimana mengangkat satu tangannya kemudian menjatuhkan tangan ke arah kanan. Alexa kaget dengan apa yang dilihatnya, sambil terpukau menatap pergerakan putranya terus mengamati Abhimana. Namun.. sepertinya ALexa memahami apa yang dimaksud oleh gerakan yang dilakukan putranya.
"Kenapa aku tidak mencoba untuk menterjemahkan petunjuk dari gerakanmu Abhi.. Abhimana adalah putra Ravendra dan Alexa, cucu dari Tuan Abraham dan Nyonya Nancy. Juga cucu dari ilmuwan terkemuka Nyonya Sarah dan Tuan Thomas, aku yakin gerakanmu adalah petunjuk untuk mama sayang." Alexa tersenyum, kemudian menganggukkan kepala.
Perempuan itu kemudian melangkahkan kaki menuju arah yang ditunjukkan oleh jatuhnya tangan putranya tadi. Dengan perasaan yakin, kembali Alexa berjalan mengendap-endap. Beberapa saat kemudian, perempuan itu berhenti dan kembali merapatkan tubuhnya ke dinding sambil mendekap Abhimana. Terlihat di seberang dinding, seorang laki-laki sedang menodongkan senjata ke arah seorang perempuan,
Meskipun tidak bisa melihat wajahnya secara langsung, namun ALexa tidak mudah untuk dibohongi. Melihat sepatu dan pakaiannya, Alexa yakin jika perempuan itu adalah Raveena adik iparnya. Alexa menjadi teringat, jika saat ini bukan hanya suaminya Ravendra yang hilang, namun juga Johan suami dari gadis itu.
"Raveena rupanya sudah sampai terlebih dahulu ke tempat ini. Bagaimana gadis itu bisa masuk sendirian kesini, apakah sebenarnya tanpa diketahui keluarganya, ada yang disembunyikan oleh Raveena.." Alexa membatin tentang adik iparnya itu.
"Tapi aku tidak boleh melepaskan kesempatan ini, mumpung fokus laki-laki yang tampak berpengaruh itu pada Raveena, aku bisa memanfaatkan untuk memasang jebakan di tempat lain." dengan cepat, ALexa memanfaatkan peluang.
Perempuan muda itu memutar tubuhnya ke belakang, tetapi baru berjalan beberapa saat tiba-tiba terlihat dua laki-laki yang menghadangnya sambil tersenyum.
"Sangat hebat dan sangat luar biasa sekali. Tenryata kehidupan tuan muda Ravendra sangatlah berwarna. selalu dikelilingi oleh perempuan-perempuan cantik, dan mau berkorban untuknya. Prok.. prok.. prok.." tiba-tiba satu laki-laki di depan Alexa itu menyeringai sambil tertawa melihat ke arah perempuan itu.
__ADS_1
Melihat sikap dan perilakunya yang tenang, ALexa meningkatkan kewaspadaannya. Perempuan muda itu memundurkan kakinya satu langkah ke belakang, namun tidak diduga sebuah tangan sudah memegangi punggungnya.
**********