
Di ruang kerja Ravendra
Dengan gelisah, Ravendra menatap layar screen yang menayangkan aktivas Alexa di ruang kerjanya. Ingin rasanya laki-laki itu menculik gadis itu, dan membawanya kesini. Sehari tidak merasakan kulitnya yang halus ketika bergesekan dengan kulitnya, membuat laki-laki ini seperti merasa sakau. Candu..., yah.. tidak disadari ternyata Alexa memang sudah menjadi candu bagi laki-laki itu. Setiap hari Ravendra harus merasakannya, dan menyesapnya untuk menghilangkan mati rasa di seluruh perasaannya.
Alexa sedang terlihat menerima panggilan telpon, kemudian gadis itu kembali meletakkan gagang telpun ke tempat semula. Seeprti mendapatkan sebuah perintah, terlihat Alexa memasang flashdisk ke drive kemudian membuka sebuah file draft konsep pekerjaan. Warna biru turquisse terlihat mendominasi desain yang dikonsep oleh Alexa kali ini, entah apa yang melatar belakangi gadis itu dalam membuat desain. Setelah memindahkan soft file ke dalam falash disk, Alexa terlihat berdiri dan memanggil Irwan.
"Ir..., help me please..!" terlihat Alexa meminta bantuan pada rekan kerja laki-lakinya. Laki-laki yang dipanggil dengan nama Irwan tersebut melongokkan kepala di atas pembatas kubik.
"Apaan?" tanya laki-laki itu singkat.
"Anterin dong flash disk ini ke ruang kerja boss mesum kita. Tahu sendiri kan Ir..., bagaimana aku merasa jijik jika ketemu Boss mesum itu. Tatapannya menjijikkan seperti menembus ke dalam pakaianku. Bantuin ya..., please,...!" dengan tatapan puppy eyes, terlihat Alexa memaksa laki-laki itu untuk membantu pekerjaannya.
"Hah..., lagi-lagi aku yang kamu kirimkan ke kandang singa itu Lexa.. Kenapa tidak yang lain sih.., kan ada Ronny atau Rado yang bisa kamu mintai tolong?" sambil mengomel, Irwan mengambil juga flash disk dari tangan
Alexa kemudian membawanya pergi.
Tetapi baru saja laki-laki itu separuh jalan, tiba-tiba laki-laki bernama Irwan itu berbalik kembali mendatangi Alexa.
"Lexa.., kamu menyingkir dulu gih..! Bisa berabe jika Boss tahu kamunya disini, masa aku yang mengantarkan pekerjaanmu ke ruangannya. Kamu ke food court atau menyelinap kemana saja dulu. Lagian sudah selesai kan
__ADS_1
pekerjaanmu..., tidak ada salahnya kamu istirahat sebentar." ternyata Irwan meminta Alexa untuk meninggalkan ruangannya sebentar, sehingga laki-laki itu memiliki alasan pada Boss Ridwan.
"Harus begitu ya Ir..." terlihat Alexa berpikir sebentar. Gadis itu kemudian mematikan dan melakukan shut down di perangkat komputernya, kemudian mengambil tas selempangnya.
"Ya udahlah.., nanti aku bawakan kopi dengan brown sugar Irwan. Kamu selalu baik deh.. padaku. Thank you..." terlihat Alexa menjawil dagu Irwan, kemudian bergegas keluar dari dalam ruangan. Irwan berjalan mengikuti
gadis itu di belakangnya sambil geleng-geleng kepala.
Melihat perlakuan Alexa yang dengan mudahnya menyentuhkan kulitnya ke laki-laki rekan kerjanya itu, membuat muka Ravendra sedikit geram. Laki-laki itu tidak rela jika ada yang mengganggu atau menyentuh barang-barangnya. Sejak kejadian di mansion tengah hutan, Ravendra sudah melakukan claim jika Alexa adalah miliknya.
Masih merasa kesal melihat interaksi Alexa dengan Irwan, Ravendra mematikan perangkat laptop di meja kerjanya. Laki-laki itu kemudian berdiri dan juga membawa ponselnya. Baru saja Ravendra akan membuka pintu, terlihat Johan sudah lebih dulu mendorong pintu dari luar ruangan. Di tangannya banyak terdapat berkas yang membutuhkan tanda tangan dari laki-laki itu.
"Tuan Muda mau kemana.., ada berkas yang harus segera ditanda tangani?? Rencana ekspansi perusahaan kita di Rumania.., sebagai donatur utama kegiatan koloni kita Tuan Muda." Johan menyampaikan jika ada berkas penting yang harus segera ditanda tangani. Tetapi boro-boro mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu, Ravendra malah langsung berjalan keluar meninggalkan Johan yang sendiri berdiri di balik pintu.
********
Robin dan Tami menemui tetua koloni vampire di kastil itu. Mereka berdua diminta untuk menunggu oleh pelayan rumah, karena tetua sedang beristirahat. Sudah banyak majalah lama yang dibolak-balik dan dibaca oleh dua orang itu. Tetapi laki-laki tua yang mereka tunggu belum juga datang menemui mereka. Seorang perempuan tua meletakkan dua gelas berisi cairan merah pekat ke depan meja yang mereka duduki. Dari sekilas melihatnya, orang sudah akan mengetahui jika perempuan tua itu menyajikan darah segar. Mata Tami langsung berkilat, dan tanpa menunggu dipersilakan, tangannya langsung mengambil gelas itu kemudian meminum isinya sampai tandas. Perempuan tua itu tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah perempuan muda itu.
"Hadeh Tam..., Tam.., kamu ini seperti satu abad saja tidak minum darah segar." Robin menegur adik perempuan kesayangannya itu. Tangan kanannya mengambil tissue, kemudian mengusapkan di sudut bibir Tami yang masih tersisa tetesan darah disana.
__ADS_1
"Darah segar di kastil ini memiliki kualitas yang bagus kak.., coba saja kalau kakak mau." gadis itu membela dirinya, dan bahkan meminta Robin untuk mencobanya. Laki-laki itu hanya tersenyum, kemudian melanjutkan lagi
bacaannya. Setelah beberapa saat mereka duduk di situ...,
"Tuan Muda.., Nona Muda..., Tuan besar Arsent menunggu di ruang kerjanya." seorang laki-laki tua memanggil Robin dan Tami untuk memasuki ruang kerja Tuannya. Tanpa menjawab, kedua manusia vampire itu mengikuti
laki-laki tua itu menaiki tangga ke lantai atas. Bangunan tua itu tampak megah, tetapi bagi orang kebanyakan akan merasa ngeri jika memasuki bahkan hanya dengan melihatnya. Sinar matahari tidak mampu menembus ke bagian dalam kastil itu, hanya ada titik-titik sinar yang menerobos lewat ventilasi.
"Silakan duduk Tuan Muda.., Nona Muda! Sebentar lagi Tuan Arsent akan turun menemui kalian berdua." laki-laki tua itu meninggalkan mereka sendiri.
Robin tersenyum ketika mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Susunan furniture yang akrab sejak pertama kali dia dibawa masuk ke ruangan ini. Rasa nyaman dan tentram jika berada di dalam ruangan ini, mengingatkannya dengan kampung halaman di Transylvania, Rumania. Karena perebutan kekuasaan, memaksa
Robin dan Tami harus melakukan eksodus sehingga berakhir di negara ini.
"Sudah lama kalian menunggu..?" suara tegas berwibawa datang dari arah pintu masuk yang ada di belakang tempat duduk mereka. Mendengar suara itu, sontak Tami dan Robin berdiri kemudian membalikkan badan dan menyambut seorang laki-laki tua. Tampak wajah kebapakan, dengan raut wajah yang putih bersih dihiasi dengan senyum tulus menerima mereka dengan hangat. Robin langsung memeluk laki-laki tua itu, kemudian merangkul dan membawanya untuk duduk di kursi. Tami mengikuti kakaknya, perempuan muda itu juga duduk di sebelah kiri Tuan Arsent.
"Hanya berdua saja kalian datang kemari..? Apakah aku ini sudah terlalu tua, sehingga generasi yang lebih muda sudah jarang berkunjung padaku?" dengan suaranya yang besar dan tegas, Tuan Arsent bertanya pada Robin dan Tami. Kedua orang yang lebih muda itu saling berpandangan..
"Akan kami informasikan kepada semua saudara kita Dad.., kesibukan di dunia nyata sering menghabiskan waktu kita untuk memikirkan koloni." Robin menanggapi perkataan laki-laki tua itu, dan generasi muda pada kaum vampire
__ADS_1
memang memanggil Tuan Arsent dengan sebutan Daddy.
***********