
Siang hari, Alexa mengajak Ravendra untuk kembali ke Pent house.. Mereka kembali bersiap untuk meninggalkan rumah kediaman Nyonya Sarah, namun terlihat Lili menyiapkan beberapa goodie bag. Alexa mengerutkan keningnya melihat dua goodie bag besar ditenteng oleh perempuan itu. Rupanya Nyonya Sarah sengaja menyiapkan makanan sehat untuk dibawa ke Pent House.. mengingat kehamilan pertama putrinya. Perempuan paruh baya itu seperti terlupa siapa suami dari putrinya itu, dimana hanya dengan bilang apa yang diinginkan, dengan mudah Ravendra akan mendatangkan chef nya ke Pent House.
"Hati-hati Lexa.. jaga cucu mama dengan hati-hati.." Nyonya Sarah mengusap perut putrinya dengan kasih sayang. Tuan Thomas melihatnya dengan tersenyum, dan laki-laki itu mengecup kening gadis itu ketika Alexa memeluk papanya.
"Iya mom.. Lexa hanya akan di kamar saja, tidak akan pergi kemana-mana." Alexa menjawab keberatan Nyonya Sarah. Perempuan itu segera melepaskan pelukan dari mamanya, kemudian beralih berpamitan pada papanya.
"Langsung pulang ke rumah.. tidak usah mampir-mampir agar kamu cukup istirahat Lexa. Kasih kabar papa, jika ada apa-apa yang kalian berdua butuhkan." Tuan Thomas berpesan pada putrinya, sambil memberi pelukan erat pada Alexa.
"Iya pa.. jangan khawatir." ucap Alexa. Tuan Thomas segera melepaskan pelukannya pada gadis itu, karena melihat Ravendra sudah melihati mereka sejak tadi.
Ravendra segera menjabat tangan Thomas dan Nyonya Sarah, kemudian laki-laki itu merengkuh bahu gadis itu dan membawanya keluar dari dalam rumah.
"Tempatkan di kursi belakang saja Lili.. Nanti aku akan membawanya masuk ke dalam Pent House," melihat Lili berdiri menunggu Alexa masuk ke dalam mobil, gadis itu meminta asisten rumah tangga untuk memasukkan ke kursi ke dalam.
"Siap nona muda.." dengan sigap, Lili membuka pintu mobil kemudian menempatkan goodie bag ke kursi tengah mobil, kemudian perempuan itu menutup pintu mobil dengan perlahan.
__ADS_1
Melihat ART itu sudah menempatkan goodie bag ke kursi mobil, Ravendra segera mengaktifkan central lock mobil. Perlahan laki-laki itu mulai menginjak pedal gas, dan perlahan mobil sport yang dibawa sendiri oleh Ravendra, meninggalkan pelataran rumah Nyonya Sarah dan Uncle Thomas. Dua buah mobil mengikuti mobil sport tersebut untuk memberikan pengawalan dari belakang.
"Sebelum aku meluncur kembali ke hotel, apakah ada barang yang ingin kamu cari honey.. Agar kita tidak perlu bolak-balik, ingat tadi pesan mama, untuk menjaga baik-baik janin yang ada dalam rahimmu.." sambil mengemudi, Ravendra bertanya pada istrinya.
"Ga ada kak.. jika nanti memang ada, kita bisa memesan secara online saja. Lagian mama membawakan banyak makanan sehat untuk kita, pokoknya hari ini kita cukup menghabiskan waktu di dalam pent house," Alexa menjawab pertanyaan dari suaminya,.
Laki-laki itu tersenyum, dengan hati-hati Ravendra mengemudikan mobil. Duduk di sampingnya, terlihat Alexa menurunkan sandaran kursi, dan perempuan itu menyandarkan tubuhnya lebih rendah. Sambil memegang kemudi dengan tangan kanannya, Ravendra mengambil bantal kursi di belakang, kemudian meletakkan di sandaran kursi yang digunakan Alexa. Dengan cepat, Alexa menerima bantal kecil itu dan digunakannya untuk mengganjal sisi kepalanya.
Tanpa berbicara lagi, sengaja membiarkan istrinya istirahat Ravendra mengemudi dengan konsentrasi. Membawa istrinya yang dalam keadaan hamil, laki-laki itu betul-betul mengemudi dengan hati-hati. Bahkan jika melewati polisi tidur, laki-laki itu akan melambatkan kecepatannya khawatir jika guncangannya akan menimbulkan gangguan pada kehamilan istrinya.
Raveena membuka matanya perlahan, gadis itu merasa kebingungan dengan dirinya saat ini. Gadis itu tadi merasa terakhir kali dirinya dan Johan sedang berpelukan erat di sofa ruang tamu, tetapi kali ini dirinya tidur di atas ranjang. Gadis itu kemudian mengangkat tubuhnya ke atas, kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang. Setelah bisa menguasai pikirannya, Raveena melihat Johan duduk di atas sofa di dalam kamarnya, dan melihat ke arah gadis itu dengan tatapan serba salah,
"Kamu sudah bangun sayang.." suara lirih Johan mengejutkan Raveena, gadis itu seakan tidak percaya mendengar kata-kata yang terucap dari bibir laki-laki itu.
Melihat gadis itu tidak menjawab kata-katanya, namun hanya melihatnya dengan pandangan terkejut, Johan kemudian berdiri. Perlahan laki-laki itu melangkahkan kaki menuju ke samping ranjang tempat gadis itu bersandar. Johan menggeser kedua kaki Alexa ke samping, kemudian duduk di samping gadis itu.
__ADS_1
"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku.. apakah tidak suka mendapatkan panggilan seperti itu. Sebenarnya aku lebih suka memanggilmu dengan sebutan honey.. namun panggilan itu sudah menjadi brand image dari tuan muda Ravendra dan nona muda Alexa. Jadi hanya sebutan itu yang layak untukmu sayang.." melihat gadis itu tetap terdiam sambil menatapnya, Johan meraih telapak tangan gadis itu. Laki-laki itu memberi kecupan pada punggung telapak tangan gadis itu, dan jari-jarinya.
"Aku merasa kali ini aku sedang bermimpi kak Johan.. Benarkah apa yang terjadi saat ini, apakah benar-benar kak Johan yang berada di depanku." Raveena mengucap lirih, mencoba mengkonfirmasi apa yang terjadi di depannya. Laksana sebuah mimpi, laki-laki yang selalu berusaha menolak dan mengacuhkannya, tetapi kali ini Johan malah membuatnya melayang. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba sikap Johan berubah 360 derajat.
Johan tidak menjawab, laki-laki itu menundukkan wajahnya, dan tanpa bicara bibir laki-laki itu sudah memberikan ******* lembut pada bibir merah Raveena. Gadis itu terkejut, namun tidak lama kemudian.. gadis itu membuka sedikit celah di bibirnya, dan dengan sigap laki-laki itu kembali merangsek ke dalam. Akhirnya kembali kedua bibir itu saling bertaut.. namun ketika melihat gadis di depannya sudah terlena, Johan menghentikan gerakannya.
"Sayang.. kita harus membuat batasan dalam hubungan kita. Ada hal-hal yang belum boleh untuk kita lakukan, sebelum ada ikatan resmi di antara kita. Musim libur nanti, aku akan terbang ke Canada. Aku akan menemui Tuan Besar Abraham dan Nyonya Besar Nancy untuk memintamu menjadi pendamping hidupku selamanya." sambil menatap ke dalam kelopak mata Raveena, Johan mengucapkan sebuah janji.
Jantung Raveena terasa berdegup kencang menerima perlakuan ini. Otak Raveena belum bisa mencerna perlakuan lembut dari laki-laki di depannya itu, bahkan kata-kata yang keluar dari bibirnya tampak memabukkan. Air mata Raveena kembali menggenangi kelopak matanya, dan Johan melihatnya dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa air matamu kembali mengalir lagi sayang.." Johan bertanya dengan suara lirih, sambil terus menatap mata gadis yang sudah diberinya komitmen itu.
"Katakan jika saat ini Raveena tidak bermimpi kak.. Mustahil.. mustahil sepertinya keajaiban ini untukku saat ini." kembali Raveena tidak mempercayai apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
"I.m promise sayang..., kita akan menghadapi keluargamu bersama-sama. AKu tidak akan meninggalkanmu sendiri, begitu pula sayang.. jangan tinggalkan aku.." Johan kembali membuat kata-kata yang melambungkan hati Raveena.
__ADS_1
*********