
Dari dalam portal dimensi, Thomas dan Johan keluar lebih dulu. Di belakangnya disusul oleh Ravendra yang tampak merangkul Alexa untuk melindunginya. Ke empat orang itu merasa takjub dan heran dengan apa yang ada di depan mereka. Setelah ke empat orang itu berhasil keluar dan menembus dimensi, portal di belakang mereka tiba-tiba menutup dengan sendirinya. Ke empat orang itu membalikkan tubuh mereka ke belakang, namun sudah tidak ada yang dapat mereka lihat dengan pandangan mereka. Di belakang mereka, seperti tidak pernah terjadi apa-apa, hanya sebuah tembok dari dinding batu yang membatasi altar dimana mereka berada.
"Cucuku Alexa.. akhirnya kamu datang kesini juga cucuku.." tiba-tiba ke empat orang itu dikagetkan lagi dengan suara Cathy di belakang mereka.
Ke empat orang itu saling berpandangan, kemudian mereka menoleh ke belakang. mereka melihat ada satu perempuan tua, dan satu anak muda berwajah pucat. merasa mengenal perempuan itu, Thomas tersenyum dan berjalan menghampiri kedua orang itu. Sebaliknya, Ravendra dengan sikap over protective terus memegangi Alexa, dan melarang gadis itu untuk berjalan menghampiri perempuan dan anak muda itu.
"Bibi Cathy... bagaimana bibi dan putra bibi bisa berada di tempat ini. Jika begitu, Bibi mengetahui jalan keluar untuk keluar dari tempat ini." Thomas langsung dengan antusias bertanya pada perempuan itu. Laki-laki merasa jika perempuan itu yang akan menjadi penunjuk jalan bagi mereka, agar mereka dapat terbebas dari kungkungan hutan lebat.
Namun perempuan itu menggelengkan kepala, dan membuat Thomas kaget. Laki-laki itu kemudian menghentikan langkah dan kembali berjalan mundur ke belakang.
"Jika kemunculanmu di tempat ini bukan untuk menyelamatkan kami, lalu apa tujuanmu untuk datang ke tempat ini?" dengan nada pedas, Thomas bertanya pada Cathy.
"Jangan salah sangka, dan hentikan suaramu yang menyalahkan mamaku. Kami datang ke tempat ini, juga tidak kami sengaja. Kami tersesat pula di pusaran pepohonan di hutan, karena kami ingin mencari nona Alexa. Kami mengikuti kawanan burung untuk keluar dari dalam pusaran hutan, dan akhirnya kami sampailah di tempat ini. Kami malah tidak menyangka, jika kami akan bertemu dengan kalian. Kami malah melihat penampakan portal dimensi yang sudah lama tidak pernah muncul dan kami lihat lagi." Andrew membela Cathy. anak muda itu menanggapi kecurigaan Thomas pada mereka.
__ADS_1
Alexa terdiam, perempuan itu jujur menghargai upaya keras Bibi Cathy yang sangat menyayanginya, namun kali ini dengan adanya Ravendra bersamanya, Alexa tidak bisa menunjukkan perasaannya. Tanpa memberi celah pada gadis itu, Ravendra terus memegangi istrinya agar tidak kemana-mana.
"Sudah.. sudah., kita selesaikan salah paham ini. Kita harus segera mencari tahu bagaimana cara keluar dari tempat ini." akhirnya Johan menengahi.
"Kita bisa menunggu kedatangan kawanan burung ke tempat ini. Tetapi sejak mereka mengantarkan kami kesini, kami belum melihat lagi kelompok mereka terbang atau hinggap di tempat ini. Karena memang hanya burung-burung itu sebagai penunjuk arah utama bagi kita untuk dapat berkunjung maupun keluar dari tempat ini. Apalagi saat ini kita sedang berada di altar ibadah, ada baiknya kita segera menghaturkan persembahan kepada leluhur kita." Cathy menyampaikan penjelasan, dan meminta mereka untuk beribadah.
"Kalian saja beribadah, aku memiliki Tuhan dan keyakinan sendiri yang tidak sama dengan kalian. Lakukanlah, aku dan istriku akan menunggu di sisi sebelah sana," Ravendra merengkuh ALexa dan membawanya duduk di pinggiran altar.
********
Thomas dan Johan sudah hampir merasa menyerah mencari jalan keluar untuk meninggalkan tempat itu. Mereka memang merasakan sebuah atmosfer lain yang melingkupi tempat itu, merasakan seperti berada di tempat lain. Udara di tempat itu sangat segar, dan sesekali berhembus seperti harum dupa terbawa angin dan menerpa ke arah mereka. Pemandangan hijau yang menyegarkan, dengan latar belakang pegunungan, membawa suasana asing di negara Rumania yang banyak berisi hutan lebat, gunung kapur, dan lautan.
"Bagaimana kita akan keluar dari tempat ini Tuan Thomas.. apakah Tuan ada ide?" Johan bertanya pada laki-laki papa Alexa itu. Sejak tadi Thomas terlihat melihat-lihat ke tempat tersembunyi, dan mengira jika tempat itu merupakan jalan mereka untuk meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Aku sendiri juga bingung Johan.. Apalagi jika melihat putriku, saat ini Alexa sedang dalam keadaan hamil. Apa yang dikonsumsinya tidka berkualitas, dan aku khawatir akan berimbas dengan pertumbuhan janin di rahimnya. Betul-betul tempat ini membuatku putus asa.." laki-laki itu memang terlihat galau, karena mencemaskan keadaan putrinya. Tetapi Thomas sengaja menutup perasaannya itu dari putrinya ALexa. Hanya kepada Johan, Thomas berani mengutarakan perasaannya.
"Hmm.. jika begitu satu-satunya harapan sama dengan perkataan perempuan itu Tuan. Mungkin kita harus bersabar menunggu, sampai kawanan burung kembali datang ke tempat ini, dan mengantarkan kita kembali." akhirnya Johan mengiyakan perkataan Cathy.
Di tengah altar, masih terlihat bagaimana Cathy dan Andrew melakukan ritual ibadah dalam kekhusyukan. Mereka seperti mempercayai apa yang mereka lakukan, tanpa peduli dengan ke empat orang yang tidak mau membantu mereka. Tiba-tiba dari tangan patung laki-laki tua di tengah altar muncul cahaya yang menyilaukan. Orang-orang itu menutup mata mereka karena merasa silau. Ravendra langsung memeluk tubuh istrinya dengan erat, tidak mau melepaskan untuk melindungi dari sinar yang menyilaukan itu.
"Apa itu Johan.. apakah kamu melihatnya. Ada sinar terang muncul dari tangan di patung di tengah altar ibadah itu. Dan anehnya Cathy dan Andrew sedikitpun tidak merasa terganggu dengan kemunculan sinar terang itu." Thomas mengajak bicara Johan yang juga sedang menutup matanya, sambil sesekali berusaha mengintip ke arah datangnya sinar tersebut.
"Saya juga tidak tahu Tuan Thomas.. kita tunggu sebentar lagi. Siapa tahu sinar itu memiliki maksud kenapa muncul, dan menyilaukan mata kita." Johan memberikan tanggapan,
Semakin lama, sinar itu bersinar semakin terang. Tidak disangka-sangka, tiba-tiba sinar itu merubah arah sinarnya dan berkeliling menyinari ke enam orang yang berada disitu. Ravendra menutup mata Alexa, mencegahnya untuk terkena sinar tersebut. Meskipun dengan sinar yang berada di atas punggungnya, tiba-tiba Alexa merasa tersengal-sengal nafasnya. Dadanya terasa sesak, dan muncul keinginan dalam hatinya untuk melihat ke arah sinar itu secara langsung. Namun.. gadis itu tidak bisa melakukan apapun, karena tidak ada celah atau ruang bagi dirinya untuk membebaskan diri dari pelukan suaminya.
******
__ADS_1