
Dengan berurai air mata kemarahan, Rebecca kembali pulang ke rumahnya sendiri. Masih terbayang dengan tegas, bagaimana Ravendra meremehkan dirinya sebagai seorang perempuan. Bahkan istrinya Alexa, sedikitpun tidak terusik dengan cerita yang dibualkannya. Sepertinya tidak ada ketakutan sedikitpun, jika Ravendra akan meninggalkannya sendiri, dan perempuan yang sudah dipilih oleh Ravendra itu seperti sangat mempercayai suaminya.
"Kenapa aku dulu berlaku kekanak-kanakan seperti itu, sehingga menjadikan Ravendra pergi meninggalkanku.." sambil meminum dua sloki white wine tanpa jeda.., Rebecca terlihat menyesali perilakunya di masa dulu.
Masih jelas dalam ingatannya\, karena kepasifan Ravendra dalam memuaskan naf**su bi**rahinya. Alasan menunggu mereka untuk menikah\, selalu digunakan Ravendra untuk menolaknya. Rebecca sering mendatangkan laki-laki untuk memenuhi ha**sratnya. Itupun Ravendra tidak percaya\, meskipun teman-teman bisnis laki-laki itu sering melaporkan perilaku Rebecca kepadanya.
"Mama.. Sassy tidak ada teman bermain.. Barusan Sassy ke tempat Abhimana, namun pengawal melarang Sassy untuk masuk ke halaman.. Bagaimana mam..." terlihat wajah polos putranya menatap Rebecca dengan bersimbah air mata. Naluri keibuan Rebecca tiba-tiba muncul melihat anaknya yang menangis itu.
"Sabar ya sayang.. nanti Sassy mama masukkan ke Kinder Gaten saja agar memiliki banyak teman di sekolah. Saat ini.. Sassy istirahat dulu ya.. mama akan mencari informasi untuk mendaftarkan sekolah Sassy.." setelah berpikir sejenak, Rebecca akhirnya membulatkan tekadnya.
Sudah saatnya mulai saat ini, Rebecca harus mulai memperhatikan apa yang dibutuhkan oleh putri semata wayangnya, tidak lagi hanya berpikir bagaimana menyenangkan atau memuaskan hatinya. Apalagi.. kepindahannya di kota kecil ini, yang malah tidak sengaja bertemu dengan seseorang dari masa lampaunya, sukses membuatnya tersudut.
Sassy memeluk Rebecca dan membenamkan kepalanya di dada mamanya. Rebecca merasa sesak, karena tanpa dia sadari, putrinya merasa tersudut karena keegoisan dari orang tuanya sendiri. perlahan Rebecca mengusap rambut Sassy beberapa kali, dan memberikan ciuman di pucuk kepalanya.
"Maafkan mama sayang.. kita akan memulai kehidupan yang baru. Jika perlu.. kita akan segera pindah dari kota kecil ini sayang.. kita akan menempati kembali apartemen mama di pusat kota Swiss..' sambil terus mengusap kepala putrinya, Rebecca menenangkan Sassy. Beberapa saat hal itu terjadi, dan ternyata putrinya tertidur dalam dekapannya.
"Aku ternyata sudah sangat egois selama ini, aku sudah melupakan tanggung jawabku sebagai seorang ibu, seorang mama bagi putriku.." dengan hati-hati.., Rebecca mengangkat tubuh Sassy kemudian perlahan membawanya ke dalam kamar.
Tidak lama kemudian, setelah membaringkan tubuh putrinya yang sudah terlelap, Rebecca mengambil selimut kemudian menyelimuti tubuh putrinya. Sebelum keluar dari dalam kamar, untuk menjaga agar putrinya tidak merasa kedinginan, Rebecca menyalakan penghangat kamar.
__ADS_1
*******
Alexa tersenyum melihat putranya sedang bermain bola dengan suaminya di kebun belakang. Sambil menikmati teh panas, dengan kue-kue kecil yang masih hangat, Alexa melihat dua orang itu yang saling mengoper bola, kemudian menendangnya kembali, Ternyata hal-hal kecil seperti itu, terlihat sangat menyenangkan dan menenangkan hatinya.
"Drrtt... drtt..." tiba-tiba ponsel Alexa bergetar.
Alexa segera mengambil ponsel tersebut, dan melihat jika mamanya Sarah sedang melakukan panggilan masuk kepadanya. Dengan cepat, Alexa menekan tombol terima..
"Ya mam... Lexa di kastil. Apa ada sesuatu yang penting.." ALexa langsung menjawab panggilan masuk dari mamanya itu.
"Tidak begitu penting Lexa.. hanya mama dan papa akan memberi tahumu. Sudah dari kemarin, mama dan papa sudah kembali ke kota Batam.. Rupanya berada di luar negeri, sudah tidak dapat menyenangkan hati mama. Tetapi terbangun dan mendengar suara deburan ombak, seperti di rumah kita yang ada di pinggir pantai, itulah yang menenangkan dan menyenangkan hati mama.." Nyonya Sarah menjelaskan keberadaanya saat ini.
"Kapan-kapan kalau pas ada waktu senggang Ravendra.. ajak suamimu untuk berjalan-jalan pulang ke Indonesia. Bagaimanapun indahnya tempat dimana kita berpijak saat ini, tanah yang sudah menumbuh kembangkan dirimu pasti akan selalu teringat." Nyonya Sarah memberikan saran.
"Oh ya... by the way.. dimana Abhimana.. Oma sudah lama tidak berbincang dengan cucu oma.." tiba-tiba Nyonya Sarah menanyakan ABhimana.
"Masih main bola dengan Daddy nya mam.. nanti Lexa sampaikan untuk melakukan panggilan pada mama dan papa. Sepertinya usul mama bagus juga, nanti malam Lexa akan katakan pada kak Ravendr.. jika ingin kembali berkunjung ke Indonesia.." sahut Alexa yang wajahnya membayangkan bagaimana ombak berdebur di pantai. dan kaki telanjangnya berjalan menyusuri pantai di pagi hari.
"Okay.. mama sudahi ya Lexa.. sampaikan salam mama untuk suamimu Ravendra.. juga cucuku Abhimana.." tidak lama kemudian Sarah mengakhiri panggilan telponnya.
__ADS_1
"Baik mam.. nanti Lexa sampaikan pada mereka. Salam untuk papa ya mam.. Bye.." Alexa segera menutup kembali telponya.
Setelah meletakkan telpon di atas meja, Alexa meneguk beberapa teguk teh manis panas, dan memasukkan beberapa potong kue ke mulutnya. Setelah merasa perutnya tidak lagi perih, perempuan itu kemudian berdiri dan berjalan mendatangi putra dan suaminya.
"Mommy. tangkap momm..." terdengar teriakan Abhimana, dan bola dengan cepat mendatangi ALexa.
"Duakk.." dengan mengangkat satu kakinya, bola kembali meluncur ke arah Abhimana dan Ravendra. Alexa mengeluarkan ketrampilannya bermain bola, yang sudah lama tidak dilakukannya lagi.
"hebat.. hebat.. tendangan mama hebat.." ABhimana bersorak kegirangan, melihat mamanya ternyata bisa menendang bola dengan keras.
"Join ke sini momm.. kita main bola bertiga.." Ravendra memanggil Alexa. Abhimana juga terlihat ikut melambaikan tangan memanggil mommy nya.
Alexa segera menuju ke tempat yang masih kosong, dan memasang kuda-kuda untuk bersiap menangkap bola. Abhimana kegirangan, baru kali ini anak kecil ini merasa mendapatkan teman bermain. Tiga orang itu akhirnya bermain bola untuk beberapa saat. Dan, setelah beberapa saat terlihat Sonya dan Laura mendatangi halaman tempat mereka bermain bola, dengan membawa orange juice yang terlihat menyegarkan.
"Daddy haus Abhi.. kita istirahat saja dulu ya. Lain waktu kita lakukan lagi.." melihat orange juice yang tampak menggoda, akhirnya Ravendra mengajak mereka untuk segera beristirahat.
Ketiga orang itu akhirnya beristirahat, kemudian menyerbu meja untuk menikmati minuman dan snack yang disiapkan oleh maid. Laura dan Sonya saling berpandangan, mereka sangat gembira dan bahagia ketika melihat apa yang mereka bawa langsung dinikmati oleh majikan mereka.
*********
__ADS_1