Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Portal Dimensi


__ADS_3

Setelah mendapatkan gulungan kertas kuno dan sebuah ikatan untuk rambut perempuan, kelompok Ravendra masih berusaha untuk menemukan jalan keluar. Mereka menyebar untuk mendapatkan tanda-tanda penunjuk jalan. Ravendra sendiri tidak mau lepas dari Alexa, mereka juga membantu penyisiran tempat di sepanjang goa tersebut.


"Ataukah jalan untuk keluar dari dalam ruangan ini berada di luar goa?" Thomas berbicara pada dirinya sendiri. Laki-laki itu sudah berulangkali mengamati beberapa tempat, namun belum ada sedikitpun petunjuk yang ditemukannya.


"Aku akan mencari sekali lagi, siapa tahu karena aku kurang teliti saja sehingga terlewatkan untuk menemukan petunjuknya." Thomas kembali bersemangat untuk menelusuri tempat-tempat di sekitarnya. Namun, meskipun beberapa kali laki-laki itu mencoba melihat dan mencari kembali, tempat itu juga tidak kunjung ditemukannya.


Di tempat lain, sama halnya dengan Thomas, Johan juga melakukan hal yang sama. Laki-laki muda itu juga hampir merasa putus asa. Hampir setiap sudut goa, stalaktit sudah dilakukan penyisiran olehnya. Namun tanda-tanda keberadaan akses keluar dari goa itu juga belum dapat ditemukan. Mata laki-laki itu kembali mengedari tempat itu, dan terlihat nona muda Alexa juga tidak dalam keadaan yang lebih baik. Gadis itu sudah terlihat pucat, bisa jadi karena faktor kehamilan dan asupan nutrisi yang masuk ke perutnya tidak sebanding.


Ravendra terlihat sangat perhatian, dan jelas terlihat kekhawatiran di wajah laki-laki itu. Perlahan Johan berjalan menuju ke tempat tuan mudanya Ravendra dan nona muda Alexa berada. Laki-laki itu berniat untuk menanyakan apakah kedua atasannya itu membutuhkan bantuan darinya.


"Selamat siang tuan muda, apakah tuan muda membutuhkan bantuan saya?" dengan sopan Johan bertanya pada laki-laki itu.


Ravendra mengangkat wajahnya ke atas, kemudian laki-laki itu menatap Johan.


"Apakah kamu sudah menemukan tanda-tanda petunjuk jalan keluar dari tempat ini Johan? Lihatlah istriku.., dia sudah tampak kelelahan, aku tidak sampai hati melihatnya terus dalam keadaan itu." perlahan Ravendra menunjukkan kondisi yang dialami Alexa dengan dagu yang digerakkan ke arah Alexa.


"Iya tuan muda.. untuk itu saya datang ke tempat ini. Saya sejak tadi berkeliling dan mengitari tempat ini, namun belum sedikitpun tanda-tanda keberadaan penunjuk jalan dapat saya temukan." Johan menjawab pertanyaan Ravendra.


"Mungkin saya akan keluar dari dalam goa tuan muda.., mencoba untuk menelusuri tempat-tempat di luar. Siapa tahu penunjuk arah keluar, memang ada di luar goa." Johan minta ijin pada Ravendra.

__ADS_1


Tiba-tiba Alexa mengangkat tangannya ke atas, seakan memberi isyarat pada kedua laki-laki itu untuk tetap bertahan di dalam ruangan goa itu. Ravendra dan Joha saling berpandangan, tiba-tiba Thomas muncul dan sudah berada di belakang mereka.


"Putri papa gadis yang sangat kuat, bertahannya Lexa.. Kami berada di sini untuk menjagamu." melihat wajah pucat putrinya, laki-laki itu segera mendekat dan memegang tangan Alexa.


Gadis itu tersenyum pucat, kemudian menyandarkan kepala dan punggung di dinding batu yang ada di belakangnya. Beberapa saat kemudian, mereka mendengar suara gemuruh di belakang punggung Alexa. Dengan sigap, untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, Ravendra segera melompat dan mendekap tubuh Alexa dengan erat. Wajah Alexa bersembunyi di dada laki-laki itu, kemudian sebuah keajaiban terlihat di depan mata mereka.


Sebuah tempat yang luas dengan penyinaran yang redup menenangkan, terlihat menyejukkan mata. Ravendra melepas dekapannya, dan mengajak istrinya melihat penampakan itu.


"Indah sekali tempat ini, tempat apakah itu kak..?" mata Alexa berbinar cerah melihat pemandangan indah di depannya.


"Kita akan melihatnya sebentar lagi. Bangunlah honey.., aku akan di belakangmu." dengan suara lembut, Ravendra perlahan memapah tubuh istrinya.


Thomas dan Johan berada di depan untuk memimpin dan mencari jalan keluar.


********


Di tempat lain


"Mama.. ada dimana kita saat ini?" Andrew yang baru pertama kali berada di tempat ini bertanya pada Cathy.

__ADS_1


"Burung-burung itu membawa kita ke altar ibadah Andrew.. Mama yakin, burung itu punya maksud untuk menunjukkan pada kita tentang sesuatu. Kita harus bersabar untuk menunggunya." Cathy menjawab pertanyaan dari putranya.


Andrew terdiam, laki-laki itu mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu. Sebuah padang rumput yang tertata rapi, dengan penampakan gunung di kejauhan menambah keindahan tempat itu. Andrew merasa takjub, dan sekaligus merasa heran, karena selama hidupnya baru kali ini melihat ada tempat seindah itu di tengah hutan. Dia merasa sudah berkali-kali mengitari hutan tempat tinggalnya, tetapi tidak pernah menemukan tempat dimana saat ini dia dan Cathy berada


"Kenapa Andrew.. apa yang sedang kamu pikirkan?" Andrew tergagap, Cathy mengejutkannya dari lamunan kekaguman tentang keindahan alam tempat ini.


"Jujur ma.. Andrew merasa takjub dengan tempat ini. Namun di satu sisi, Andrew juga seperti tidak percaya bisa berada disini. Kenapa selama kita tinggal di hutan, baru kali kita bisa datang dan menemukannya." Andrew kembali mengatakan rasa kagum dan herannya pada mamanya.


Cathy tersenyum, perempuan itu tidak segera menanggapi perkataan Andrew. Setelah beberapa saat,..


"Andrew... dunia ini penuh dengan segala kemungkinan. Terkadang apa yang ada di depan kita, tidak akan bisa dipahami dengan akal kita. Seperti apa yang saat ini terjadi di hadapan kita. Namun.. tidak perlu kita untuk mencari tahu kebenaran di sebalik setiap kejadian. Semua hanya akan membingungkan pikiran kita." Cathy tersenyum sambil menjelaskan keadaan sedikit demi sedikit pada putranya.


"Baiklah ma.. meskipun banyak tanya berkelebat dalam pikiran Andrew, tapi lebih baik Andrew abaikan semuanya." ucap Andrew. Laki-laki itu berusaha menyenangkan hati orang tuanya.


Tiba-tiba Cathy dan Andrew mendongakkan wajah mereka. Mereka dikejutkan oleh suara gemuruh yang berasal dari belakang altar batu di tempat yang agak jauh dari mereka.


"Ada apa itu ma..?" kembali dengan rasa penasaran, Andrew bertanya pada Cathy.


"Mama juga kurang tahu Andrew.. Kita dekati saja altar ibadah itu, siapa tahu kita akan menemukan jawaban disana." Cathy mengajak Andrew berjalan mendekati altar

__ADS_1


Tanpa bicara lagi, kedua orang itu berjalan ke depan untuk lebih dekat ke altar ibadah. Suara gemuruh seperti sesuatu yang runtuh terus berlangsung. Tiba-tiba mereka terkejut melihat sesuatu yang terbuka di sisi belakang altar. Semua terlihat seperti sebuah portal dari dimensi lain yang terbuka, dan beberapa orang keluar dari dalam dimensi tersebut.


********


__ADS_2