
Nyonya Sarah kaget ketika mendengar bel pintu berbunyi. Perempuan paruh baya itu melihat jam yang dipasang di dinding, waktu baru menunjukkan pukul dua siang. Berarti tidak mungkin jika putrinya Alexa sudah pulang ke rumah. Dengan enggan, Nyonya Sarah berjalan keluar untuk membukakan pintu. Melihat sebuah punggung laki-laki berdiri di terasnya, membuat dahi Nyonya Sarah berkerut.
"Siapakah anda, apakah ada yang bisa saya bantu?" dengan suara pelan Nyonya Sarah bertanya pada laki-laki itu. Laki-laki itu perlahan membalikkan punggunggnya, dan terlihat sejenak laki-laki itu menunjukkan ekspresi terkejut melihat Nyonya Sarah. Demikian pula dengan Nyonya Sarah, perempuan itu tidak kalah terkejutnya.
"Sarah Emilton... is that you dear??" laki-laki paruh baya itu dengan tercekat memanggil Nyonya Sarah. Laki-laki itu sama sekali tidak menyangka, niatnya untuk bertemu dan menyelidiki keluarga Alexa, malah bertemu dengan perempuan yang pada masanya, pernah menjadi rebutan di kampusnya. Dalam usianya saat ini, Nyonya Sarah masih terlihat awet muda, dengan postur tubuh proporsional.
"Thomas..., untuk apa kamu kesini? Kehidupanku sudah jauh berubah, jangan kamu ganggu aku dan keluargaku. Saat ini, aku sudah menjalani hidupku jauh dari masa lalu." dengan tatapan penuh rasa khawatir, Nyonya Sarah berbicara pada laki-laki itu. Tampak kecemasan terbayang di wajahnya yang ayu.. Alexa.., hanya nama putri yang sekian lama disembunyikannya, yang saat ini ada di ingatannya.
"Tidak perlu seperti itu Sarah. Kita bukan orang lain.., dan bahkan jika bukan karena Edward biadab itu, kamu saat ini sudah menjadi Nyonya Thomas.. Kamu masih terlihat cantik dan menawan Sarah.., tidak sia-sia aku berada di tempat ini. Tidak sengaja menemukan berlianku yang sudah lama hilang." Thomas kembali teringat dengan masa lalunya, dimana dia hampir gila dan putus asa. Perempuan yang sangat dicintainya, tiba-tiba menghilang dibawa lari oleh saudara sepupunya. Saat ini perempuan yang sudah sekian lama meninggalkannya, berdiri dengan anggun di depannya, di sebuah rumah kecil yang jauh dari kata mewah. Tiba-tiba kesedihan membayang di pelupuk mata laki-laki paruh baya itu, terbayang bagaimana kepedihan dan kesulitan bagi perempuan di depannya itu dalam menjalani hari-harinya.
"Thomas... tidak ada masa lalu dan masa depan untuk kita saat ini. Pergilah dari sini, aku tidak mau terlibat lagi dengan kalian semua, juga pada keluarga kalian. Aku sudah menikmati jalan hidupku..., dan jangan ganggu aku dan keluargaku." dengan penuh permohonan, Nyonya Sarah meminta Thomas untuk meninggalkannya.
Perempuan itu teringat dengan masa lalunya. Bagaimana keluarga Thomas, menggunakan berbagai cara untuk memisahkan mereka. Hanya Edward yang peduli dengan dirinya saat itu. Jika tidak ada Edward kala itu, mungkin dia hanya tinggal nama sampai saat ini. Saat ini, laki-laki yang telah menorehkan cerita itu ada di depannya sekarang.
"Sarah sayang .. semua terjadi di luar kendaliku saat itu. Kembalilah padaku .., kamu selalu menyimpan semua masalahmu saat itu. Kita akan mengarunginya hari-hari ke depan dengan penuh kebahagiaan." Thomas mendekati perempuan paruh baya itu, dan ketika tangannya ingin meraih tangan Sarah, perempuan itu langsung mengibaskannya. Thomas melihat ke wajah Sarah sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
"Pergilah dari hadapanku untuk saat ini dan selamanya Thomas. Cerita kita sudah berakhir..!" Sarah kembali.mengusir laki-laki yang berdiri di depannya itu. Laki-laki yang pernah melambungkan angan dan impian, tetapi laki-laki itu juga mengkandaskan mimpi dan harapannya. Air mata mengalir dari pelupuk mata perempuan itu.
"Baiklah Sarah sayang... kali ini aku akan pergi dulu. Aku yakin kamu shock karena tidak menyangka akan bertemu denganku. Lain waktu aku akan kembali mendatangimu. Pikirkan dan pertimbangkan kembali." tidak diduga, setelah mengucapkannya perkataan itu, Thomas berjalan ke depan. Tiba-tiba laki-laki itu memeluk erat tubuh Sarah, dan seperti enggan untuk melepaskannya. Tanpa permisi sebuah kecupan diberikan Thomas di kening perempuan paruh baya itu. Dengan mata terbelalak, Sarah tanpa.kata menatap kepergian laki-laki itu.
**********
Beberapa saat Thomas terdiam duduk di belakang setir kemudinya. Laki-laki itu teringat kembali, bagaimana dia dan Sarah di waktu lalu. Percintaan mereka seperti tidak ada yang akan dapat memisahkan. Tetapi dengan liciknya kala itu, orang tuanya memberikan tugas untuk pergi ke Perancis. Ketika dia pergi, ternyata Sarah diculik oleh mereka dan memaksa gadis itu untuk meninggalkannya. Karena saat itu, Sarah menolak, maka kedua orang tuanya menyekap perempuan itu.
"Alexa..., jangan -jangan..." tiba-tiba sekelebat pikiran Thomas teringat tujuannya datang ke rumah Sarah.
"Alexa... apakah dia putriku.. atau putri Edward??" tiba-tiba Thomas teringat dengan hubungan mereka di masa lalu.
"Melihat usia Alexa saat ini, jika gadis itu benar-benar putri Sarah. Hanya aku dan Edward yang mungkin menjadi papa gadis itu." kembali Thomas berbicara pada dirinya sendiri.
"Aku akan menyelidiki masalah ini terlebih dahulu. Yang penting identitas kedua orang itu sudah ada di tanganku." gumam Thomas.
__ADS_1
Perlahan Thomas menyalakan mesin mobil, dan perlahan mobilnya meninggalkan tempat itu.
*******
Nyonya Sarah terduduk lemas di sofa ruang tamu. Wajah perempuan itu terlihat pucat, dan jantungnya masih berdetak kencang. Perlahan Nyonya Sarah mengambil minuman yang ada di depannya, kemudian menenggaknya langsung.
"Aku harus membawa Alexa pergi dari tempat ini. Aku tidak mau Thomas mengambil dan membawa putriku satu-satunya." Nyonya Sarah berbicara pada dirinya sendiri.
"Keluarga Thomas terlalu kejam, aku tidak ingin Alexa menjadi korban kesewenang-wenangan mereka." setelah bergumam, Nyonya Sarah kemudian berdiri. Perempuan itu segera masuk ke dalam kamar, kemudian menarik trolly bag dan membersihkannya.
Tanpa banyak bicara, Nyonya Sarah memasukkan pakaian ke dalam tas tersebut. Perempuan itu tidak mau mengambil resiko, jika Thomas dan keluarganya membawa pergi Alexa. Masih teringat jelas, bagaimana keluarga laki-laki yang dicintainya itu menyekapnya dalam sebuah ruangan bawah tanah. Edward sepupu Thomas yang melihatnya saat itu, membawanya lari melintasi hutan lebat. Tanpa memperdulikan keselamatannya, Edward membawanya lari menggunakan speed boat melintasi lautan lepas.
Air mata mengalir di pipi Nyonya Sarah, saat teringat betapa menderitanya kala itu. Tetapi teringat dengan janin yang dikandungnya, perempuan itu bertekad untuk menyelamatkan diri.
***"
__ADS_1