
Beberapa saat mencari tempat untuk berteduh, akhirnya Johan menemukan goa tempat Alexa dan Thomas berada di dalam. Dengan senyum kegembiraan, Johan segera memberi tahu tuan mudanya. Laki-laki itu segera terbang kembali, ke tempat Ravendra sedang mengamati batu-batuan di sisi tebing. Tidak mau mengganggu fokus dan perhatian tuan mudanya, Johan pelan-pelan berjalan menghampiri laki-laki itu.
"Sudah belum Johan.. kamu menemukan tempat untuk kita berteduh. Jika belum kita bisa di pinggir tebing batu ini. Lihatlah batu-batuannya membentuk sebuah payung, sehingga kita bisa duduk atau tiduran di pinggiran ketika terjadi hujan di hutan ini." Ravendra mengusap batu-batuan itu dengan menggunakan tangan kanannya.
"Tadi Johan melihat di sisi sebelah sana, ada goa yang terbuat dari batu Tuan muda. Namun.., Johan belum masuk ke dalam goa tersebut, karena ingin memberi tahu tuan muda terlebih dahulu." Johan memberikan tanggapan atas perkataan tuan mudanya,
"Mmmm.. baiklah." Ravendra memberikan tanggapan secara singkat. Terlihat laki-laki itu masih tertarik mengamati tebing batu yang ada di depan mereka saat ini.
"Jika tuan muda ingin menghabiskan malam di sini juga tidak masalah tuan muda. Hanya saja, angin malam akan langsung menerpa kita, karena tidak ada penyekat di depan tebing ini yang melindungi kita dari hempasan angin. Tampias air hujan juga masih bisa masuk.." Johan memberi penjelasan tentang keadaan mereka jika tetap memutuskan untuk berada di tempat ini.
Ravendra terdiam tidak memberikan tanggapan. Laki-laki itu malah menggoyang-goyang batu di depannya itu, kemudian mematahkan dengan tangannya. Dahi Ravendra berkerenyit ketika melihat penampakan batu permata yang ada di tangannya.
"Apakah ada sesuatu yang aneh tuan muda.., sepertinya tuan muda sangat tertarik melakukan pengamatan pada batu-batuan ini?" Johan merasa turut penasaran. Ravendra memberikan batuan di tangannya pada Johan, dan laki-laki itu melihat dan mengamatinya dengan seksama. Tidak lama kemudian, sebuah senyuman takjub terbit di bibir Johan. Laki-laki itu bergeser lebih mendekati Ravendra.
__ADS_1
"Tuan muda.., bukankah ini bukan batu-batuan biasa. Ini batuan permata yang masih mentah tuan muda, kita bisa merubahnya menjadi bebatuan berharga yang memiliki nilai jual yang tinggi. Sungguh aneh kenapa kita bisa menemukan batuan seperti ini di tempat yang tidak mudah untuk ditemukan manusia. Pemerintah negara sebenarnya juga bisa melakukan eksplorasi, sehingga bisa menjadi tempat untuk lokasi pertambangan." mulut Johan langsung menyerocos mengomentari batu yang ada di tangannya itu.
"Otakmu saja yang sudah dibutakan dengan uang. Aku curiga, tempat ini merupakan kawasan tua tempat kehidupan vampire di waktu dulu. Selain itu, sepertinya ada aura yang tidak tampak, yang sengaja menutupi tempat ini, sehingga tidak semua orang bisa ditakdirkan untuk datang ke kawasan ini." Ravendra berbicara dengan serius. Laki-laki itu bergeser ke tempat yang ada di sampingnya, dan kembali melakukan hal yang sama. Jenis batu-batuan berharga yang dia dapatkan kali ini, berbeda dengan jenis batuan yang berada di tangan Johan.
Johan menatap punggung Ravendra yang berjalan meninggalkannya. Tidak mau ditinggal di tempat itu sendirian, laki-laki itu bergegas menyusul tuan mudanya.
"Sepertinya tempat ini betul-betul merupakan misteri manusia vampire Johan.. Ingatkan kamu mendengar cerita tentang hubungan stone dan vampire, dimana pada masa dulu.., kaum kita sangat menyukai batu-batuan jenis ini. Hingga akhirnya terjadi pertumpahan darah, dan perebutan kekuasaan dikarenakan dari batu-batuan ini." Ravendra menyampaikan secuil cerita masa lalu yang sering didengarnya,
"Ya tuan muda.. saya juga teringat." jawab Johan singkat, dan karena merasa tidak mau terbawa ke masa lalu, akhirnya laki-laki itu meletakkan potongan batu di sela-sela bebatuan,
*********
Di dalam Goa
__ADS_1
Thomas yang meninggalkan Alexa untuk mencari kunci petunjuk yang diinformasikan melalui mimpi putrinya itu, masih berada dan mengamati stalaktit di sekitarnya. Tanpa kenal lelah, sepanjang malam laki-laki itu terus mencari posisi stalaktit yang dimaksudkan. Sampai rasa putus asa mendatangi Thomas, karena dengan mata mengantuk dan kaki kelelahan laki-laki itu belum juga menemukan barang yang dia cari.
"Apakah mimpi Alexa tadi hanya sebuah hiasan tidur saja? Aku sudah mengelilingi setiap sudut goa ini, namun tidak ada apa-apa yang dapat aku temukan." sambil duduk berselonjor, Thomas bergumam sendiri. Wajah lelah dan bosan sudah mulai tampak jelas terlihat dalam raut wajahnya. Namun harapan untuk dapat keluar kembali ke dunia manusia, menjadikan laki-laki itu terus berusaha untuk menahan dirinya.
"Tapi aku tidak boleh menyerah. Semua demi putri dan cucuku, garis keturunanku. AKu tidak bisa hanya membiarkan putriku melewati masa kehamilan dan bisa jadi kelahiran cucuku hanya dengan berada di dalam hutan ini. AKu harus berusaha dan tidak boleh pantang menyerah." mengingat kembali pada putrinya yang sedang mengandung, Thomas berusaha membangkitkan semangatnya kembali.
Perlahan laki-laki itu mencoba kembali untuk berdiri, dan tiba-tiba seekor kelelawar menyambar punggungnya. Thomas menolehkan wajahnya ke arah binatang itu, dan kelelawar itu kembali menerbangkan sayapnya meninggalkan laki-laki itu. Tetapi keanehan terjadi, kelelawar itu berhenti dan berpegangan erat pada pucuk atau ujung dari sebuah stalaktit. Mata Thomas membesar, tiba-tiba sebuah harapan baru muncul di pikiran laki-laki itu. Sebuah sinar kecil yang muncul, hilang, dan muncul lagi tampak terlihat di pucuk stalaktit yang digunakan untuk bergantung kelelawar itu.
Thomas tersenyum, sebuah pemikiran baru melintas di otak laki-laki itu. Perlahan Thomas membalikkan badan, kemudian kakinya melangkah menuju ke tempat stalaktit tempat kelelawar itu bergantung. Kaki Thomas sedikit mencengkeram erat, karena bebatuan yang diinjakknya sangat licin. Di bawah kakinya terlihat genangan air dingin, yang terlihat dalam, dan Thomas tidak mengetahui kedalaman dari air tersebut.
"Apakah kelelawar itu ingin memberiku sebuah petunjuk." sambil terus berjalan menuju ke tempat stalaktit itu, Thomas berpikir sendiri.
"Hmmm.. sepertinya iya. Melihat tatapan kelelawar itu terlihat seperti ada yang aneh. Mata binatang itu terlihat jernih, tidak seperti mata seekor binatang, malah lebih dominan menyerupai mata manusia." Thomas bergumam sendiri.
__ADS_1
Tidak mau terlalu lama terlena dalam lamunannya, akhirnya Thomas sampai tepat di bawah stalaktit tempat kelelawar itu bergantung. Seperti memberi petunjuk dan ruang bagi Thomas, begitu laki-laki itu menatap ke atas, kelelawar itu menatap mata Thomas sejenak. Selang beberapa saat., binatang itu kembali terbang meninggalkan Thomas sendirian,
*****