
Raveena mengambil alih gendongan ABhimana dari tangan kakak iparnya. Alexa bermaksud untuk mengganti popok dari bayinya. Setelah membuka popok tersebut, Alexa terkejut dan menatap wajah putranya dengan tajam. Seperti tidak masuk akal, beberapa saat berada di dalam gendongannya, ternyata popok Abhimana masih tetap kering dan bersih. Tidak terlihat sedikitpun kotoran atau basah air kencing di dalamnya. Namun karena sudah terlanjur membuka, Alexa tetap mengganti popok Abhimana.
"Kenapa kak.. apakah ada yang aneh.." melihat berubahnya reaksi yang ditunjukkan kakak iparnya, Raveena bertanya.
"No problem.. ayo kita segera mencari tempat penyekapan kakak dan suamimu Veena.." Alexa tidak menjawab, setelah selesai memasang popok pada putranya, perempuan muda itu segera mengajak adik iparnya bergerak.
"Sepertinya ruangan yang ada di tengah itu kak.. Namun aku belum berhasil menemukan pintu maupun celah untuk masuk ke dalamnya. Sepertinya ruangan itu memang sudah disetting kedap, dan bahkan aku yakin, kekuatan kak Ravend dan kak Johan sudah dilemahkan." sahut Raveena,
"Dimana tempat itu Veena, kita harus segera kesana. Karena jika apa yang kamu katakan benar, berarti kakak dan suamimu dalam bahaya.." Alexa segera antusias menarik raveena pergi.
Dengan segera Raveena segera berjalan di depan kakak iparnya. Mereka tadi berhasil membebaskan diri dari sekapan Robert dan anak buahnya. menggunakan peralatan untuk membuka pintu yang terkunci, akhirnya mereka bisa meloloskan diri dengan tepat waktu. Beberapa saat mereka berhasil keluar dari tempat itu, Robert dan laki-laki bertopeng datang dan masuk ke ruang tempat penyekapan mereka tadi.
Di samping bangunan yang diceritakan Raveena beberapa saat yang lalu, Alexa mengelilingi bangunan itu. Apa yang diceritakan adik iparnya itu memang benar adanya. Bangunan itu tidak memiliki celah sedikitpun untuk masuk ataupun keluar dari dalam. Alexa termenung memikirkan, bagaimana dia bisa masuk dan mengintip ruangan tersebut. Namun sampai beberapa saat, dirinya belum menemukan jawabannya.
"Bagaimana kak.. aku tidak berbohong bukan..?" tiba-tiba Raveena sudah berdiri di sampingnya.
"Benar Veena, dan kakak belum menemukan cara untuk dapat masuk ke dalam bangunan ini. Apakah kamu yakin Veen.. jika tempat ini yang digunakan untuk menyekap kak Ravend dan kak Johan." Alexa mencoba memastikan tentang bangunan itu.
"Veena mendengar sendiri kak, bagaimana orang-orang itu meributkan tentang suasana di dalamnya. Misalkan tempat itu dibukapun kak, Veena juga tidak akan dapat masuk ke dalam. Ruangan itu sudah dibuat kedap, dan akan melemahkan semua kekuatan Raveena, seperti yang terjadi pada kak Ravend dan kak Johan. Sepertinya ruangan ini sudah dipasang alat untuk melemahkan kekuatan manusia vampire.." sambil menggendong ABhimana, Raveena menyampaikan informasi.
__ADS_1
Alexa terdiam sejenak, gadis itu mencoba berbagai kemungkinan untuk membuka ruangan itu. Merasa tidak ada pilihan untuknya, meledakkan dengan peledak yang dirancang oleh mamanya, sepertinya merupakan satu-satunya cara.
"Veena.. menyingkirlah dan bawa Abhimana menjauh dari tempat ini. Kakak belum tahu, apakah Abhimana lebih dominan mewarisi gen dari kak Ravend sehingga darah vampire lebih kental padanya, ataukah lebih dominan mewarisi darah kakak dan mama Sarah. Kakak harap, kamu paham dengan apa yang aku maksud." untuk melindungi dampak buruk yang mungkin muncul, ketika bangunan itu diledakkan, Alexa meminta Raveena untuk membawa Abhimana pergi dari tempat itu.
Raveena menatap wajah kakaknya, sebenarnya Raveena keberatan untuk pergi dari situ, karena ingin melihat sendiri bagaimana keadaan Johan. Namun mempertimbangkan kemungkinan buruk, gadis itu akhirnya pergi meninggalkan tempat itu, sambil menggendong ABhimana.
*******
Mata laki-laki bertopeng itu menunjukkan kemarahan yang teramat sangat, sambil menyeret Robert laki-laki itu membawa pemilik tempat itu keluar dari ruangan tempat mereka mengurung Raveena dan Alexa. Anak buah Robert tidak ada yang berani untuk menyelamatkan majikan mereka, karena melihat larangan yang terlihat dari tatapan Robert kepada mereka.
"Bawa aku ke tempat dimana kalian semua menyekap Ravendra dan asisten pribadinya.." sambil berteriak, laki-laki bertopeng itu memerintah Robert.
Laki-laki bertopeng itu terhenyak sebentar, dia ingat jika ruangan itu diberi peralatan yang dapat meredam kekuatan manusia vampire. Jika dia memaksa untuk ikut masuk ke ruangan tersebut, maka kekuatannyapun akan ikut lenyap. Untuk mengelabui laki-laki di depannya, kemudian..
"Bawa aku ke ruang kendali saja.. tidak ada manfaatnya aku masuk ke ruangan kedap itu. Bisa-bisa malah Ravendra kabur dan menyelamatkan diri.," sahut laki-laki bertopeng.
"Siap tuan.. mari ikuti kami.." orang-orang itu kemudian berjalan meninggalkan tempat tersebut, mereka memasuki sebuah ruang kecil, tempat peralatan kendali berada.
"Selamat siang Tuan Robert.. ada yang bisa kami bantu..?" dari dalam ruangan tersebut, keluar dua orang laki-laki yang langsung menyapa pada Robert.
__ADS_1
"Siang.. kalian keluarlah sebentar. AKu dan Tuan bertopeng ini akan masuk ke dalam, kami akan melihat sendiri bagaimana tawanan kita yang berada di dalam ruangan tersebut. Sudah kering, atau masih tegak berdiri dan menantang pada kita.." Robert menanggapi orang-orang itu.
"Baik Tuan.. mari silakan masuk.." kedua orang itu segera keluar dari ruangan tersebut, kemudian mempersilakan orang-orang itu masuk ke dalam.
Robert segera mengajak laki-laki bertopeng segera masuk ke dalam. Anak buah Robert menutup pintu, dan tinggallah dua orang itu yang duduk di dalam ruang control tersebut. Robert memandu laki-laki bertopeng itu untuk mengaktifkan kamera pengawasan. Bibir laki-laki bertopeng itu membuka sebuah senyuman, ketika melihat dua orang yang ada dalam ruangan itu tidak berdaya. Kepala Ravendra dan Johan tampak terkulai lemas, dan kedua mata mereka telah tertutup.
"Hmm... bagus sekali kerja kalian, aku suka. Berapa lama kedua laki-laki itu bisa bertahan, dan sampai kapan tubuh mereka berdua kering tinggal tulang belulang." dengan sadis, laki-laki bertopeng itu bertanya pada Robert.
"Seharusnya proses itu sudah terjadi tuan.. tetapi tidak tahu kenapa proses pada dua orang itu terjadi sangat lambat. Harusnya dengan waktu satu minggu lebih berada dalam ruangan itu, keduanya sudah tidak mampu berdiri tegak. Tetapi lihatlah.. meskipun kepala mereka sudah terkulai lemas, dan kedua matanya terpejam, namun mereka masih tetap berdiri tegak." Robert menjelaskan.
"Apakah kamu tidak pastikan jika semua peralatan sudah dalam keadaan yang benar dan beroperasi?" seperti kurang percaya, laki-laki bertopeng itu bertanya.
"Ampun tuan.. saya sendiri yang mendampingi anak buah saya untuk memasang semua peralatan. Atau kita berdua melakukan pengecekan di dalam tuan.." Robert menawarkam.
Tapi belum sampai, laki-laki bertopeng itu menyampaikan jawabannya, tiba-tiba kembali terdengar suara ledakan, dan layar monitor di depan dua laki-laki itu mendadak padam.
"Blammmmm....."
*********
__ADS_1