Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Peringatan Bahaya


__ADS_3

Di Gudang Tua


Dengan mata merah, Johan memegang leher laki-laki yang dalam keadaan terikat di depannya. Tatapan asisten pribadi Ravendra itu tampak menghunus tajan menatap laki-laki yang ada di depannya itu. Orang-orang suruhannya berhasil menangkap dua orang yang sudah melakukan tindakan ingin mencelakakan Alexa. Dengan koneksi, dan perangkat high class, hanya merupakan mainan anak kecil bagi Johan untuk menemukan orang-orang itu.


"Katakan padaku.., siapa yang menyuruhmu untuk mencelakakan Alexa!" dengan nada tinggi, Johan bertanya pada kedua orang tersebut,


"Cuihh.., sampai kapanpun kamu tidak akan dapat mengetahui jawabannya.." sambil meludah darah, satu dari laki-laki tersebut menjawab pertanyaan yang diberikan Johan.


"Bukk.., bukkk..., aauww..." pukulan beruntun di rahang kedua laki-laki itu, diberikan oleh Johan. Darah mulai mengalir keluar dari bibir kedua orang tersebut, sepertinya gigi mereka terlepas. Tetapi kedua orang tersebut, malah menatap Johan dengan tatapan mengejek dan meremehkan.


"Barjo.., apakah kalian sudah menemukan keluarga dari dua begundal ini?? Jika sudah habisi keluarganya, anak, istri atau kedua orang tuanya..?" tanpa diduga, Johan berteriak berbicara pada anak buahnya, untuk menggunakan cara lain dalam menekan dan meminta informasi dari kedua tawanan yang ada di depannya.


"Ha..., ha..., ha... cara-cara kuno untuk menekan lawan. Apakah begitu mudahnya bagi kalian.., dapat menemukan informasi keluarga kami hanya dalam waktu setengah hari?" dengan tertawa keras, orang-orang itu mengejek kalimat yang dikatakan oleh Johan.


"Mmmm..., kamu meragukan kekuatan yang aku punya.. Baiklah.., kita akan perlihatkan pertunjukan kepadamu teman. Prok..., prok..., prok..." dengan senyuman sinis, Johan menepuk kedua tangannya. Dua orang anak buah Johan, segera datang ke depan laki-laki itu sambil membawa sebuah laptop yang sedang memutar rekaman sebuah video.


"Buka mata kalian berdua.., lihatlah rekaman apa yang ada di screen laptop tersebut!! Kalian berani untuk meragukanku..., memang hukuman mati sangat layak untuk kalian berdua." Johan mengarahkan wajah kedua laki-laki di depannya untuk menatap layar laptop yang dipegang oleh salah satu anak buahnya itu. Sebuah film pendek yang menunjukkan seorang ibu sedang menyuapi putrinya, dan di sampingnya duduk seorang perempuan tua terlihat dalam layar laptop tersebut.

__ADS_1


Mata kedua orang itu terbelalak melihat rekaman video tersebut, kedua tangan mereka tergenggam erat seperti menahan sebuah emosi yang dalam. Mereka merasa, memiliki keluarga yang tinggal jauh di luar pulau Jawa, akan memberinya rasa aman dalam melakukan tindakan jahat, tetapi saat ini apa yang mereka lihat menunjukkan sebuah fakta yang lain.


"Bagaimana..., apakah kalian berdua tidak bisa mengenali dua keluarga yang ada di dalam video tadi?? Ataukah kalian berdua ingin berbincang-bincang pada mereka? Baik.., aku masih terlalu berbaik hati padamu kali ini. Aris.., lakukan sambungan telpon dengan kedua keluarga yang sudah berhasil kita tahan dan kita amankan itu. Agar kedua manusia laknat itu paham, tentang kekuatan kita.." dengan tersenyum licik, Johan kembali memerintah anak buahnya.


Tanpa banyak bicara, anak buah Johan yang bernama Aris melakukan sambungan telpon, dan tidak lama kemudian sambungan bisa dilakukan. Dengan cepat, Aris menyerahkan ponsel tersebut kepada laki-laki yang ada di depan mereka.


"Selamat malam..., bagaimana keadaan anak-anak saat ini ma..?" terdengar percakapan orang yang dalam keadaan terikat itu dengan keluarganya yang berada di seberang telpon. Dan temannya yang ada disampingnya terlihat pucat mendengar percakapan itu.


"Hentikan.., jangan libatkan keluargaku!! Aku akan memberi tahu kepadamu, siapa yang sudah menyuruhku untuk mencelakakan Miss Alexa tadi siang." beberapa saat kemudian, kedua orang itu meminta ampun agar Johan tidak melibatkan keluarganya.


"Hmmm..., baik katakan sekarang! Aku akan segera membebaskanmu.." ucap Johan tersenyum, sambil membalikkan badannya.


"Dorr..., dorr..." kedua orang itu tiba-tiba terkulai lemas terkena tembakan dari temoat yang tidak mereka perkirakan.


"****..., kejar mereka..!" teriak Johan. Laki-laki itu kemudian memegang pergelangan tangan laki-laki yang dia jadikan tawanan, tetapi mereka sudah tidak memiliki tanda-tanda kehidupan. Beberapa orang berlari keluar untuk mengejar laki-laki yang melakukan penembakan itu, tetapi rupanya mereka dengan cepat melarikan diri dengan menggunakan mobil yang menunggu mereka di luar.


"Lenyapkan jasadnya, bakar dan buang ke laut abu mereka..!" sambil berjalan keluar, Johan memberi perintah pada orang-orangnya.

__ADS_1


***********


Di Mansion Ravendra


Johan duduk di ruang tengah menunggu kedatangan Ravendra. Setelah sampai di mansionnya, Ravendra langsung masuk ke kamar untuk membersihkan tubuhnya. Beberapa saat kemudian, laki-laki itu keluar dengan mengenakan piyama, sebagai tanda jika Ravendra sudah siap untuk beristirahat.


"Ada apa Jo.., apa yang kamu dapatkan tentang penyelidikan pelaku yang ingin mencelakakan kekasihku." sambil duduk di atas sofa, Alexander mengambil gelas di depannya kemudian meminum semua isinya sampai habis tak tersisa.


"Failed Tuan Muda.., ada orang yang mengacaukannya. Ketika kedua orang itu akan mengaku, setelah kita menindas keluarganya, tiba-tiba terdengar dua kali suara tembakan, yang langsung menghabis kedua tawanan kita. Orang-orang kita sedang mengejar pelaku penembakan tersebut. Untuk kedua tawanan kita, sudah dibakar dan dilarung ke laut abu mereka." dengan lesu, Johan menceritakan apa yang sudah terjadi.


Tanpa sadar, Ravendra meremas gelas yang ada dalam genggaman tangannya, dan gelas tersebut hancur di tangan laki-laki itu. Dengan cepat, Ravendra mengibaskan pecahan gelas dari tangannya. Johan hanya melihatnya tanpa bicara.


"Siapa yang sudah berani bermain-main dengan kita?? Aku akan menghabisinya, dengan tidak ada informasi tentang pelaku kejahatan itu, berarti Alexa masih berada dalam bahaya. Kita harus memastikan keselamatan, dan memperketat penjagaan untuknya." sambil menerawang, Ravendra menanggapi kejadian itu.


"Bisakah Tuan Robin atau Miss Tami yang menjadi orang di belakang mereka Tuan Muda.. Karena sepemahaman saya, hanya dua orang itu yang mengetahui keberadaan gudang tua kita." tiba-tiba Johan menyebutkan dua orang dari vampire original kepada Ravendra.


"Jangan menuduh tanpa bukti, kita belum bisa memastikannya. Selidiki lagi.., aku juga akan menyelidikinya dengan caraku. Setahuku Robin pergi ke Rumania untuk mengikuti konggres pemilihan Ketua Vampire Original disana, mana ada waktu laki-laki itu mengurusi hal ini." dengan mata menyipit, Ravendra membuat sebuah perintah. Laki-laki itu kemudian berdiri, dan berjalan meninggalkan  Johan sendiri di tempat itu.

__ADS_1


Melihat Ravendra yang berjalan meninggalkannya, Johan kemudian berdiri dan ikut pergi meninggalkan ruangan tersebut. Tanpa bicara, Johan segera keluar dari mansion Ravendra, dan bergegas menuju mobil yang dia parkirkan di depan mansion.


***************


__ADS_2