
Tidak ada kesepakatan dalam pembicaraan mereka, empat orang manusia vampire mengelilingi Johan. Masing-masing sudah memegang senjata di tangan mereka, dan dengan sikap tenang Johan hanya melihat mereka sambil tersenyum. Tidak diduga, satu dari empat manusia vampire itu berinisiatif menyerang Johan lebih dulu, dan Johan hanya melompat ke samping menghindari serangan itu. Sebenarnya jika mau, Johan bisa menembaki mereka dengan senjata yang sudah diisi dengan peluru perak di dalamnya, tetapi laki-laki itu tidak mau menambah daftar kesalah pahaman di antara mereka.
"Jangan menghindar Johan...., hadapi kami.." teriak manusia vampire menatap Johan dengan marah,
"Aku tidak mau menambah daftar panjang dari kesalah pahaman kalian, dengan menyerang kalian secara membabi buta. Sepertinya kalian pasti juga sudah mendengar bagaimana track record ku dalam menghadapi musuh. Mungkin hanya sekali tembakan saja, sudah akan membuat kalian tersungkur disini." dengan senyum terkulum, Johan menanggapi perkataan orang itu.
"Sreettt..., trang..." dengan tangan kanannya yang memegang gagang senjata, Johan menghalau sebilah pedang yang diarahkan di punggungnya. Terkena benturan kekuatan Johan, pedang itu terpental jatuh ke tanah. Tiga orang manusia vampire berlari mengirimkan serangan secara bersama-sama pada Johan, tetapi sejak awal niat Johan hanya untuk menyelematkan nona muda Alexa. Sehingga laki-laki itu hanya lebih banyak berkelit dan menghindar. Sesekali laki-laki itu mengirimkan tendangan, jika manusia vampire itu akan mendekat kepadanya...
Kejadian itu berlangsung untuk beberapa saat, dan semakin lama rupanya para manusia vampire itu merasa kelelahan. Johan hanya tersenyum sambil berdiri di atas udara..
Tiba-tiba dari arah dalam kastil, terlihat beberapa manusia vampire tampak berlari menuju ke arah mereka. Sepertinya terlihat dari reaksi mereka, jika ada sesuatu yang akan segera mereka temukan. Tidak mau menambah daftar panjang kesalah pahaman, apalagi dengan matanya sendiri Johan melihat jika Thomas sudah berlari membawa Alexa, laki-laki itu memutuskan untuk kembali.
"Tidak akan ada manfaatnya aku tetap bertahan disini. Semoga Tuan Thomas sudah berhasil menyelamatkan nona muda Alexa. Aku akan pergi saja dari tempat ini, daripada keributan semakin menjadi." melihat banyaknya manusia vampire yang terbang meluncur ke arahnya, Johan mengarahkan senjata apinya ke udara.
"Dor.., dor.., dor.." tiga kali tembakan peringatan dikeluarkan oleh laki-laki itu. Melihat kilat putih dari peluru perak melesat ke atas, para manusia vampire itu menghentikan gerakan mereka. Beberapa di antara mereka, memundurkan diri mereka, mencoba menghindar agar tidak terserempet oleh peluru perak tersebut.
__ADS_1
"Hati-hati..., laki-laki itu memiliki senjata api dengan peluru perak di dalamnya. Kita tidak bisa bertindak sembrono untuk mengejarnya.." salah satu dari mereka berteriak membuat peringatan pada teman-temannya.
Kesempatan itu dimanfaatkan Johan untuk melesat, melarikan diri dari tempat itu. Beberapa saat di udara, Johan teringat tentang keberadaan Thomas dan Alexa. Karena ketika laki-laki itu mengedarkan tatapan ke depan, dan ke sekeliling tempat itu, sedikitpun tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka berdua.
"Kemana Tuan Thomas membawa pergi Alexa, apakah mereka tertangkap lagi. Di sekitar tempat ini, sedikitpun aku tidak bisa menggunakan indera penangkap aroma untuk menemukanya. Atau mungkin saja, laki-laki itu sudah membawa putrinya kembali ke kastil." Johan berpikir sendiri, sambil terus mencari keberadaan dua orang itu.
Beberapa saat tidak menemukan keberadaan Thomas dan Alexa, akhirnya Johan memutuskan untuk menghubungi orang kastil. Tetapi mereka melaporkan jika belum melihat kedatangan dua orang itu, hanya melihat kedatangan Nyonya Sarah bersama dengan rombongan para pengawal.
************
"Turunkan ALexa dulu pa.., kita istirahat sebentar. Alexa lihat, papa sudah sedemikian capainya." melihat nafas Thomas yang terlihat kelelahan, Alexa meminta papanya untuk mengistirahatkan diri.
"Tidak apa Lexa.., sebagai ganti lebih dari dua puluh tahun papa tidak pernah merawatmu, menggendongmu. Kali ini papa harus menguji masih sampai dimana kekuatan papa." Thomas menolak permintaan Alexa, malah menjelaskan jika hal itu dilakukannya, untuk menebus kesalahan-kesalahannya di masa lalu.
Alexa diam tidak membantah lagi perkataan papanya, mata gadis itu menelusur ke bawah. Terlihat dari atas, sebuah batuan berwarna putih, dengan sebuah gua di dalamnya. melihat pemandangan itu, jiwa petualangan mudanya tergelitik. Muncul ketertarikan gadis itu untuk menelusuri goa tersebut, dan ingin memanfaatkan waktu kebersamaan dengan papanya.
__ADS_1
"Papa.., Alexa melihat sebuah batu besar di bawah. Bagaimana jika papa membawa Alexa turun ke bawah, kita bisa berjalan-jalan sebentar di tempat itu." setelah berpikir beberapa saat, Alexa memberanikan diri untuk memberi tahukan hal itu pada Thomas.
Laki-laki itu melihat ke bawah, ke arah tempat yang ditunjukkan oleh gadis itu. Teringat masa mudanya, pernah bersembunyi dan bermain di tempat itu, akhirnya Thomas mengabulkan keinginan putrinya. Tanpa banyak bicara, laki-laki itu mengarahkan kakinya ke bawah menuruni tempatnya berada saat ini. Tidak lama kemudian, kedua kaki laki-laki itu sudah menapak kembali di atas tanah. Perlahan Thomas menurunkan Alexa.
"Tempat ini sangat indah sekali pa.., sangat disayangkan tempat ini tidak dilirik oleh pemerintah untuk dikembangkan menjadi tempat wisata." Alexa mengomentari penampakan di depannya itu. Sebuah sungai dengan banyak batuan dan air mengalir di dalamnya, terlihat ada di bawah gundukan batu yang mereka lihat di depannya itu.
"Tempat ini sebenarnya bukan merupakan tempat yang sembarangan, yang bisa dimasuki oleh manusia biasa, Ada kesepakatan tertulis antara pihak pemerintah dengan manusia vampire, dimana ada beberapa tempat yang antara kedua entitas ini tidak diperbolehkan saling mengganggu," Thomas yang lebih memahami tempat ini, memberi penjelasan pada putrinya.
Alexa berjalan melangkahkan kakinya ke depan mulut goa batu di depannya. Sebelum gadis itu memasukkan kakinya ke dalam, Alexa menoleh ke belakang meminta ijin pada Thomas.
"Masuklah tidak apa-apa, hanya saja kamu harus lebih berhati-hati di dalam. Tempat itu licin, karena dari stalaktit di dalam goa, meneteskan air jernih yang bisa dikonsumsi secara langsung. Papa akan mengikutimu di belakang." dengan sabar, Thomas membuat penjelasan pada putrinya.
"Baik pa.." dengan hati-hati, akhirnya Alexa mulai memasuki goa batu tersebut, Bau lembab sangat dominan dirasakan Alexa ketika gadis itu mulai masuk ke dalam. Tiba-tiba mata Alexa berbinar dan terbuka lebar, melihat keindahan di depan matanya.
*****
__ADS_1