Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Lunch Box


__ADS_3

Merasa sudah terjerat pada pesona Ravendra, akhirnya Alexa sedikit menyadari posisi mereka saat ini. Tanpa mengalihkan pandangan, Ravendra terus menatap pada Alexa. Gadis itu kemudian menggeser duduknya dan menurunkan kakinya ke lantai. Melihat pintu kamarnya yang masih dalam keadaan terkunci dari dalam, Alexa menjadi berpikir. Tidak mungkin mamanya akan mengijinkan seorang laki-laki untuk masuk ke kamarnya, padahal dia sedang tidur. Gadis itu kemudian berdiri dan mengambil air minum yang ada di atas meja. Setelah air dingin membasahi kerongkongannya, Alexa duduk di kursi yang ada di depan ranjang.


"Bagaimana kak Ravend masuk ke kamar ini?? Tidak mungkin mama akan mengijinkan ada laki-laki masuk ke kamar ini, terlebih Alexa sedang tidur." Naura bertanya pada laki-laki itu, dan sekaligus kalimatnya seperti menghakimi tindakan Ravendra.


"Jangan salahkan aku Lexa.., aku sudah menemui Tante dengan Johan. Tetapi tante sudah menindasku.., masa Ridwan saja diijinkan untuk menemuimu. Kenapa aku dan Johan tidak diijinkan bertemu denganmu." menyalahkan tindakan Nyonya Sarah, Ravendra menggunakannya sebagai alasan.


"Kenapa menggunakan mama sebagai alasan. Aku yang melarang mama untuk mengijinkan siapapun yang ingin bertemu denganku saat ini. Aku ingin istirahat, ingin menenangkan diri," ucap Alexa membela Nyonya Sarah. Ravendra tersenyum, dan terus memandang wajah Alexa. Gadis itu terlihat lebih menggemaskan jika sedang marah.


"Bukan begitu honey.., apakah kamu sama sekali sedikitpun tidak memikirkan aku?? Aku sangat mengkhawatirkanmu, begitu kamu pergi dari kamar di mansion pagi ini. Tidak akan ada kendaraan yang melintas di tempat itu, karena mansionku berdiri di atas puncak bukit. Seperti orang kesetanan aku mencarimu, dan ketika memasuki gang depan rumah, ketemu Ridwan yang dengan sombongnya bercerita jika pulang dari mengunjungimu. Dan ketika aku dan Johan meminta ijin pada Tante, dengan tegas tante menolak kami." Ravendra kembali menceritakan penolakan Nyonya Sarah untuk menemui Alexa.


Alexa diam, dia tidak berminat menanggapi perkataan laki-laki di depannya itu. Harusnya dia tahu, jika penolakan tidak akan berlaku pada Alexander.


"Honey..., apakah kamu masih kecewa terhadapku?" dengan pandangan sayu, Alexander kembali mengajukan pertanyaan pada Alexa.


"Lexa..., apakah kamu sedang mengigau?? Kenapa mama seperti mendengar kamu sedang berbincang dengan suara laki-laki..?" tiba-tiba terdengar suara Nyonya Sarah di depan pintu kamar Naura. Ravendra tersenyum, dan baru saja laki-laki itu akan membuka mulutnya.. Alexa bergerak maju dan menutup mulut laki-laki itu dengan telapak tangannya. Gadis itu tidak sadar, jika saat ini dia berada di atas tubuh Ravendra.


"Tidak ma.., Naura baru saja bangun. Sekarang baru melihat drama ma.. via you tube." Alexa menjawab pertanyaan Nyonya Sarah, untuk menghilangkan kecurigaan perempuan paruh baya itu.

__ADS_1


"Ya sudah.., jangan lupa makan siang. Mama akan ke tempat tante Yanti dulu.., tadi kirim pesan untuk menjahitkan baju kebaya. Mama akan mengunci pintu dari luar, untuk mencegah ada orang yang akan masuk tanpa ijin ke dalam rumah." akhirnya Nyonya Sarah berpamitan ke rumah tetangganya.


"Ya mam.., hati-hati.." ucap Alexa tanpa melepaskan tangannya dari mulut Ravendra.


Terdengar langkah kaki meninggalkan depan kamar Alexa, dan berjalan menuju pintu luar. Tidak mendengar lagi keberadaan Nyonya Sarah di dalam rumah, seperti memberi angin segar pada Ravendra. Dengan sekali rengkuh, laki-laki itu membalik tubuh Alexa.., dan posisi mereka sekarang berbalik posisi. Ravendra kembali berada di atas tubuh gadis itu, dan tidak tahu siapa yang memulai, ciuman pasangan kekasih itu kembali terjadi secara dalam.


"Lepaskan kak...\, jangan.. akh..." Alexa menghentikan tangan Ravendra\, dan tanpa sadar keluar rintihan dari bibir mungilnya. Tangan Ravendra tanpa sadar sudah mere**mas gumpalan padat dan kenyal di dada gadis itu. Melihat penolakan Alexa\, perlahan Ravendra melepaskan re**masannya\, dengan nafas kasar laki-laki itu kembali memberikan kecupan di kening gadis itu.


*******


Di ruang IT Design


"Irwan..., di atas meja ada box makan siang. Silakan kamu nikmati dengan teman-temanmu, aku traktir kalian semua makan siang ini." sambil melongok kubik Irwan, Ridwan mengatakan tentang makanan yang dia bawa.


"Makan siang Boss..., benarkah?" Irwan segera berdiri, dan matanya berbinar melihat lima box makanan sudah tersaji di atas meja.


"Iya.., makanlah kalian semua. Tadi saya membelinya sekali jalan dari tempat Alexa.., syukurlah gadis itu tidak apa-apa. Hanya kelelahan saja.." dengan perasaan senang, Boss Ridwan menceritakan tentang kabar Alexa.

__ADS_1


Irwan melirik ke arah Ronny dan Aniss yang sudah berdiri dan melongok dari kubik mereka masing-masing. Alana yang pernah kontra dengan Boss nya itu, tetap duduk di dalam kubiknya.


"Berarti Boss barusan ke tempat Alexa?? Kenapa tidak ajak-ajak kami Boss.., kan kebersamaan." maksud hati ingin pamer kedekatan dengan Alexa, Ridwan malah diprotes anak-anak IT Design. Laki-laki itu tersenyum kecut..


"Masa kita mau pergi kesana bersama-sama, ya tidak boleh dong. Alexa butuh istirahat, dia masih terlalu lelah. Tadi hanya saya saja yang diijinkan Nyonya Sarah untuk menemui gadis itu, selebihnya tidak diijinkan untuk menemuinya." Ridwan mencari alasan untuk meredakan protes dari anak buahnya.


"Ya sudah.., yukk kita makan siang dulu. Ijin sebentar ya Boss Ridwan..., nanti pas jam istirahat makan siang kita kurangi deh waktu istirahatnya. Soalnya belum makan dari pagi nih, boleh ya Boss... please..!" dengan puppy eyes, Aniss merayu untuk diijinkan makan siang sekarang. Karena hatinya baru senang, Boss Ridwan menganggukkan kepala. Laki-laki itu memberi ijin pada anak buahnya untuk mengajukan jam istirahatnya.


Melihat anggukan Ridwan, kelima orang segera mendatangi meja diskusi. Mereka langsung mengambil lunch box masing-masing, kemudian membukanya di atas meja diskusi. Melihat kekompakan dan keakraban anak buahnya, Ridwan hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Laki-laki itu kemudian berjalan keluar meninggalkan mereka.


Melihat Ridwan sudah keluar dari ruangan, Ronny berjalan menuju pintu dan memastikan jika laki-laki itu sudah tidak terlihat lagi. Setelah memastikan Ridwan sudah pergi, Ronny kembali bergabung dengan rekan-rekan kerjanya di atas meja diskusi.


"Guys.., kira-kira kalian percaya tidak jika Boss Ridwan bisa ketemu Alexa di rumahnya?" Ronny langsung konfirmasi pada teman-temannya. Jujur dalam hatinya, laki-laki itu memiliki keraguan jika Ridwan betul-betul datang ke rumahrekan kerja mereka itu.


"Ya percayalah.., kamu tahu kan bagaimana si Boss kita itu. Puelitnya minta ampun, ga bakalan dia akan traktir kita jika tidak merasa senang hatinya." sambil menyendok makanan ke mulut, Irwan menanggapi perkataan Ronny.


"Iya benar.., aku juga percaya. Cuman..., yah asal dia tidak salah persepsi dengan sikap Alexa saja." Aniss ikut menimpali.

__ADS_1


"Sudah tidak perlu kita bahas.., besok kita tanya langsung pada Alexa saja. Sekarang kita segera habiskan makanannya." Alana menghentikan bahasan itu.


*************


__ADS_2