
Pablo membantu istrinya Martha menyiapkan hidangan untuk Tuan Mudanya yang baru datang. Dengan tangan lincah dan trampil, Martha memotong-motong sayuran dan daging kemudian menempatkan di ware kecil yang sudah dia siapkan sebelumnya. Pablo membantu menjerang air untuk membuatkan minuman panas.
"Aku sepertinya mencium hawa manusia murni bang.., apakah abang juga menciumnya?" dengan suara pelan, Martha bertanya pada Pablo.
"Jaga bicaramu Martha.., jangan bicara terlalu keras. Aku tidak ingin Tuan Muda mendengarnya.." bisik Pablo mengingatkan istrinya.
Perempuan itu menatap wajah Pablo dengan sebuah tanda tanya. Pablo segera mendekatkan diri pada perempuan itu.
"Tuan Muda membawa seorang gadis ke mansion ini, dan sepertinya gadis itu memiliki hawa murni sebagai manusia. Tetapi sepertinya Tuan Muda sangat menyayangi dan memperhatikan gadis itu, jadi diamlah. Tugas kita hanya untuk melayaninya, bukan untuk meributkan keberadaannya disini." Pablo memberi tahu dan berpesan pada Martha. Perempuan itu menganggukkan kepala tanda menyetujui apa yang diberitahukan oleh suaminya.
"Bibi..., paman.. apakah ada air panas?? Aku ingin membuat secangkir kopi.." tiba-tiba Johan datang dari balik pintu.
"Kebetulan baru saja air yang kita rebus mendidih. Diamlah di meja saja Johan, paman akan membuatkannya untukmu." Pablo meminta Johan untuk berdiam di kursi, dan laki-laki asisten Ravendra itu mengikutinya.
Tidak lama, aroma kopi panas yang menyengat disajikan Pablo dalam sebuah cangkir. Laki-laki tua itu meletakkan cangkir tersebut di depan Johan, yang langsung diterima oleh laki-laki muda itu. Martha menambahkan beberapa roti tawar dengan selai disamping cangkir kopi tersebut. Johan tersenyum, kemudian mulai mengaduk brown sugar di dalam cangkir tersebut.
"Kopi bikinan paman selalu nomor satu, racikannya pas dan mantap." Johan memuji rasa kopi yang disajikan oleh Pablo.
"Itu kopi asli yang dibawa Tuan Muda waktu berkunjung ke Gayo di kota Aceh sana Johan. Memang rasa kopinya yang berbeda dengan hasil kopi dari tanah di wilayah sini, ada rasa masamnya yang jika dipadukan dengan brown sugar akan menguatkan rasanya." Pablo menanggapi pujian Johan tentang kopi buatannya.
"Jo..., apakah gadis yang dibawa Tuan Muda tadi itu yang akan menjadi Nona muda kita?" tiba-tiba tanpa diduga, Martha tidak bisa menahan rasa penasarannya. Tanpa memperhatikan pesan yang diberikan Pablo, Martha berusaha mencari tahu sendiri.
__ADS_1
Johan tersenyum melihat rasa penasaran pasangan itu. Laki-laki itu kemudian kembali mengaduk kopi menggunakan sendok kecil.
"Sepertinya demikian Bibi..., doakan saja agar terjalin ikatan di antara mereka berdua." Johan mengiyakan perkataan Martha. Padahal dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaan kedua orang itu. Tetapi melihat perubahan sikap dan perilaku dari Tuan mudanya saat sudah mengenal Alexa, Johan membuat kesimpulan jika Ravendra menyukai gadis itu.
"Tapi sepertinya Nona muda itu manusia murni ya Jo..? Aku sepertinya mencium aroma akrab dari seorang manusia murni?" tanya Martha melanjutkan rasa penasarannya. Pablo mencubit pinggang Martha, dia mengkhawatirkan rasa penasaran berlebihan dari istrinya.
"Kita sudah terbiasa berdampingan dan beraktivitas ratusan tahun dengan manusia kan Bibi Martha?? Jika mereka sudah memiliki ikatan, aku yakin dengan mudah gadis itu akan tunduk di hadapan Tuan Muda. Tidak ada manusia murni yang menolak ketampanan dan kekayaan dari tuan Muda." ucap Johan sambil tersenyum, dan tangannya mengambil garpu untuk menikmati potongan roti. Martha dan Pablo menggangguk-anggukkan kepalanya tanda memahami perkataan itu.
**********
Di dalam kamar
Ravendra tidak bosan menatap wajah Alexa yang tertidur lelap di atas ranjang. Laki-laki itu menelungkupkan tubuhnya di atas tubuh Alexa, dan melihati gadis itu dari atas. Senyuman muncul di bibir laki-laki itu. Tiba-tiba Alexa menggeliat, dan tidak lama mata gadis itu mengerjap dan akhirnya terbuka. Melihat tatapan tajam mata Ravendra di atasnya, Alexa menjadi kaget. Kedua tangannya mendorong dada Ravendra ke atas, mencoba untuk menyingkirkan dari badannya.
"Kak.." ucap Alexa merasa tercekat, gadis itu seperti tidak mampu melanjutkan kalimatnya.
"Diamlah honey..., aku ingin menatap wajahmu. Hari ini merupakan kebahagiaan bagiku.., dan aku tidak mau mendengarkan penolakan darimu. Kamu adalah ratuku Alexa.." kembali Ravendra membisikkan kalimat di telinga Alexa. Telinga dan pipi Alexa bersemburat merah, gadis muda itu tidak mampu menatap balik mata laki-laki itu.
Perlahan tangan Ravendra memegang dagu Naura, dan mengarahkan mata Naura ke matanya.
"Katakan honey..., bahwa kamupun juga merasakan hal yang sama. Katakan.., jika kamu juga menyayangiku.." tanpa bosan, Ravendra kembali mengucapkan kata rayuan untuk Alexa.
__ADS_1
Tanpa diduga, dan bahkan Alexa sendiri juga kaget dengan dirinya. Gadis itu menganggukkan kepalanya, dengan muka merah menahan malu. Mendapat isyarat jika gadis itu juga menginginkannya, Ravendra menundukkan wajahnya. Tanpa bisa menolak, kedua bibir laki-laki dan perempuan itu kemudian menyatu. Pagutan dan ******* tidak terhindarkan lagi antara keduanya.
"Uugh.., aakh.." terlepas suara lenguhan dan rintihan dari mulut Alexa, dan gadis itu sampai malu sendiri mendengar suaranya.
Ravendra terus meraup manis dari bibir gadis itu, dan mereka melakukan perpaduan dua bibir itu untuk waktu yang lama. Bahkan bibir Alexa seperti mati rasa, dan berubah menjadi tebal. Saat kemesraan keduanya terasa panas, dan tanpa sadar tangan Ravendra akan membuka kancing baju atasan Alexa...
"Tok.., tok.., tok.." suara ketukan di pintu kamar, mengagetkan Alexa. Gadis itu kembali mendorong tubuh Ravendra ke atas, dan menggulingkan tubuhnya ke samping dengan muka menahan malu. Tangan Alexa membetulkan kancing baju atasannya, kemudian duduk di pinggir ranjang. Dengan perasaan kesal, Ravendra berjalan ke arah pintu kemudian membuka pintu dari dalam kamar.
"Tuan Muda.., makanlah dulu! Makanan dan minuman panas sudah tersaji di meja makan." ucap Pablo, matanya melirik pada Alexa yang masih berada di tepi ranjang.
"Pergilah dulu.., aku akan menyusulmu." ucap Ravendra. Pablo kemudian meninggalkan laki-laki itu, dan saat Alexander akan melaRavendranjutkan aktivitasnya tadi, Alexa sudah berdiri dan akan menuju pintu.
"Mau kemana honey..?" tanya Ravendra sambil tersenyum smirk.
"Mau makan, lapar." jawab Alexa. Tanpa berkata apa-apa lagi, Alexa langsung keluar dari dalam kamar. Tatapan kekaguman muncul di wajah Alexa melihat kemewahan yang terlihat di depannya. Lampu kristal gantung yang sangat besar tergantung di tengah ruang tengah, dengan langit-langit yang sangat tinggi. Perabotan mewah juga menghuni tempat itu.
"Kenapa berhenti honey?" tanya Ravendra lembut dari belakangnya.
"Tempatnya dimana, Alexa tidak tahu." dengan tatapan polos, Alexa menjawab pertanyaan Ravendra.
Laki-laki itu tersenyum kemudian merangkul Alexa dan membawanya ke arah dapur. Di atas meja, sudah duduk Johan yang sedang menikmati minuman panas. Johan terkejut, melihat ekspresi kedua orang itu, dan dahinya berkerut menyimpan tanda tanya.
__ADS_1
***********