Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Pramusaji


__ADS_3

Dari sudut lantai atas, Ravendra menatap ke bawah dengan geram. Laki-laki terlihat sangat jengkel dan emosi, ketika melihat Alexa tampak bercengkerama dengan dua laki-laki tampan. Jika tidak melihat ada dimana mereka saat ini sedang berada, mungkin laki-laki itu sudah akan memberi hadiah pada dua laki-laki tampan tersebut. Setelah mengambil nafas beberapa saat, kemudian menghembuskannya, baru Ravendra merasa lega,


"Ternyata aku tidak bisa melepaskan istriku sendiri di tempat ramai seperti ini. Banyak laki-laki mata keranjang yang mengambil keuntungan atas Alexa. Aku harus lebih berhati-hati.." gumam Ravendra dalam hati. Matanya terus mengamati pergerakan Alexa, sampai kaki Alexa melangkah masuk ke ruangan Anyelir.


Tiba-tiba mata Ravendra menangkap wajah orang yang terlihat membuat kekacauan di waktu siang hari, ketika mereka tadi mengadakan rapat. Melalui layar monitor, hasil rekaman dalam kamera yang dibawa oleh dua anak buahnya, Ravendra masih jelas menghafalkan detil wajah laki-laki itu.


"Aku harus mendekati orang tersebut, dan mencari tahu dari mana orang-orang itu berasal. Untuk apa orang yang menyuruhnya berani berurusan dengan Robin dan kawan-kawan." Ravendra langsung bergerak mendatangi laki-laki itu. Di dekat anak tangga menuju ke atas, Ravendra memegang pergelangan tangan laki-laki itu, dan laki-laki itu melakukan gerakan untuk berontak.


"Sssttt.., tenanglah!! Kita berasal dari pihak yang sama motifnya, tidak menginginkan jika Robin yang akan memimpin manusia vampire, karena akan menyebabkan perpecahan di antara kita." bisik ravendra di telinga laki-laki itu.


Mendengar suara Ravendra, laki-laki itu menjadi terkesiap. Secara reflek, laki-laki itu mengarahkan tatapannya pada Ravendra, dan dengan teliti melihat ke wajah Ravendra yang ada di dekatnya. Mendapatkan perlakuan sepertu itu, tiba-tiba Ravendra merasa jijik.


"Tuan ... tuan muda.., benarkah anda ini adalah Tuan muda Ravendra?" tiba-tiba tidak diduga, sebelum Ravendra bersikap lebih jauh, ternyata laki-laki itu mengenali keberadaan Ravendra.

__ADS_1


"Tuan muda pasti tidak mengenal siapa saya. Tapi saya sangat hafal dengan lekuk wajah dan semua guratan yang ada di wajah Tuan muda. Gambar tuan muda hampir memenuhi setiap sudut kastil tuan besar." laki-laki itu terus berbicara, yang malah mempertegas identitas apa yang dimiliki oleh laki-laki tersebut,


"Stop it...!! Berhenti bicara, apakah kamu tidak sadar atau lupa sedang ada dimanakah saat ini kita berada." tiba-tiba Ravendra membentak laki-laki itu, mengingatkan bahwa mereka tidak berada di tempat yang aman,


"Ooopss sorry Tuan muda., saya sedikit khilaf. Keberadaan saya dengan beberapa teman di kastil ini, karena sedang menjalankan tugas penyelidikan dari tuan besar Abraham. Beberapa sahabat Tuan Abraham meminta tuan besar untuk menghentikan dilantiknya Tuan Robin untuk menduduki jabatan sebagai pemimpin manusia vampire, Alasan yang diambil, karena beberapa aturan penting dari manusia vampire kita sudah dilanggar oleh laki-laki itu, Hal inilah yang menjadi alasan keberadaan saya disini Tuan muda.." laki-laki itu menjelaskan keberadaannya pada Ravendra.


Ravendra terdiam, dan tiba-tiba merasa beruntung bertemu dengan laki-laki utusan papanya itu. Meskipun tidak pernah ada kecocokan antara Ravendra dengan papanya, tetapi paling tidak Tuan Besar Abraham memiliki tujuan yang baik untuk keberadaan manusia vampire. Dengan keberadaan orang itu, paling tidak Ravendra akan bisa memanfaatkan dan mengajaknya untuk bekerja sama,


**********


Tetapi baru saja beberapa langkah kaki Alexa melangkah keluar, tiba-tiba pundaknya ditepuk seseorang dari belakang. Dengan menahan nafas, Alexa menoleh dan melihat seseorang yang berada di belakangnya.


"Kamu orang baru ya, sepertinya orang-orang di dalam menyukai pembawaanmu. Ambil kembali beberapa makanan, dan antarkan ke dalam. Setelah itu, tugasmu belum selesai, kamu masih harus menemani dan melayani orang-orang di dalam untuk menikmati makanan." seorang laki-laki yang sepertinya bertanggung jawab untuk urusan makanan, menahan Alexa.

__ADS_1


"Baik Tuan.. akan aku lakukan seperti perintahmu." sambil menahan perasaannya, Alexa memberi hormat pada laki-laki itu. Setelah melihat laki-laki itu tersenyum, perlahan Alexa berjalan meninggalkan laki-laki itu dan kembali ke ruang penyiapan makanan. Dalam perjalanannya menuju ruang tersebut, Alexa berpapasan dengan gadis-gadis yang bertugas seperti yang saat ini dia lakukan,


"Bagaimana gadis penampilanmu di dalam ruang Anyelir tadi, sepertinya orang-orang di dalam sana menyukaimu. Buktinya kamu bisa keluar dalam keadaan bersih dan mulus. Aku yakin, mereka masih memintamu untuk memberikan pelayanan lagi bukan..?" tiba-tiba perempuan paruh baya yang tadi pertama kali memberinya tugas, bertanya pada Alexa.


Alexa tidak menjawab, tetapi hanya menganggukkan kepala. Sebenarnya dalam hatinya, Alexa merasa jengah dan takut untuk kembali ke dalam ruangan itu. Apalagi melihat tatapan Robin tadi, tatapan mata yang menakutkan dan penuh dengan aroma haus darah. Tetapi, Alexa juga tidak berani untuk menolak perintah itu.


"Gadis... siapa namamu..? Maukah kamu bertukar tugas denganku, kamu melayani para tamu yang ada di ruang Edelwiss, sedangkan aku yang melayani di ruang Anyelir?" tiba-tiba seorang gadis yang mengenakan pakaian, sama persis dengan model baju yang dia kenakan memberikan penawaran kepada ALexa. Tanpa berpikir panjang, Alexa langsung menganggukkan kepala menyetujui pengaturan itu.


"Siapa kamu berani membuat pengaturan seperti itu disini. Apakah kamu mau, mendapatkan hukuman dari orang-orang di ruang Anyelir. Mereka sudah membuat pengaturan, agar nona ini yang memberikan pelayanan pada mereka, bukan kalian. Bercerminlah, dan berlatihlah bagaimana kalian agar dapat memuaskan orang lain!" ALexa tersentak, tiba-tiba perempuan paruh baya itu berbicara dengan nada keras, memberi peringatan pada perempuan yang mengajaknya untuk bertukar tempat dengannya.


"Baik Madam..., aku tidak berani." seperti tidak mau memperpanjang keributan, perempuan itu langsung menanggapi perkataan perempuan paruh baya itu. Alexa mengacungkan kedua telapak tangan di depan dadanya meminta maaf pada perempuan itu,


"No problem.., sudah biasa." sahut gadis itu cepat.

__ADS_1


Alexa hanya tersenyum pahit, ternyata lumayan berat bekerja di tempat itu. Mereka tidak bisa semudah itu, bertindak atas dirinya sendiri. Untungnya saja, dia hanya melakukan penyamaran di tempat itu, tidak bekerja sebagai karyawan seperti perempuan itu. Untuk menghilangkan kemarahan perempuan paruh baya itu, Alexa segera berjalan menuju ke tempat meja yang berisi nampan yang siap untuk dibawanya kembali.


**********


__ADS_2