
Ravendra berjalan dengan santai memasuki kastil dari depan. Laki-laki ini sedikitpun tidak menutupi identitasnya, dia malah membuang topi yang sejak tadi digunakan di atas kepalanya. Banyak orang yang mengenalinya, mereka merasa terkejut. Karena dari informasi yang masuk, ravendra sudah melupakan dunia manusia vampire, karena terlalu terbawa oleh manusia biasa,
"Tuan muda..., benarkah anda tuan muda Ravendra..?? Bagaimana dengan informasi yang selama ini beredar tentang keberadaan tuan muda.." salah satu dari orang tersebut bertanya dengan muka terkejut pada Ravendra.
Ravendra hanya tersenyum, kemudian mengangkat tangannya ke atas. Sedikitpun laki-laki itu tidak memiliki niat untuk memberi jawaban pada laki-laki itu. Ravendra terus masuk ke dalam kastil. dan beberapa pengawal menghadang Ravendra untuk memeriksa dan menghentikannya.
"Sejak kapan, orang-orang yang di Barn Castle memperlakukanku seperti ini. Apakah aku sudah dianggap sebagai sebuah noktah noda, yang tidak layak untuk dilayani di kastil ini lagi?" sambil tersenyum sinis, Ravendra bertanya pada para pengawal itu.
Para pengawal itu terdiam, mereka saling berpandangan. Meskipun keputusan terakhir dari komunitas manusia vampire yang ada di kastil tersebut memutuskan Robin sebagai pemimpin baru mereka, namun mereka juga tidak memandang rendah Tuan Besar Abraham, papa dari tuan muda Ravendra.
"Maafkan kami Tuan muda.., kami hanya menjalankan tugas yang dibebankan pada kami. Jika tuan muda, ingin menghadiri pertemuan yang sudah memutuskan untuk menetapkan Tuan RObin sebagai pemimpin baru kita, maka kami akan mengantarkan tuan muda masuk ke dalam. Tetapi jika ada urusan lain, maka mohon maaf kami tidak bisa melayani tuan muda." satu dari pengawal tersebut, berani bicara pada Ravendra.
Mendengar perkataan dari salah satu pengawal tersebut, Ravendra menatap langsung pada pandangan mata laki-laki itu. Aura dingin seperti mengalir keluar dari tatapan laki-laki itu, tiba-tiba aura dingin seperti menyelimuti ruangan tersebut. Beberapa pengawal merasa kedinginan menatap tajamnya pandangan Ravendra,
"Aku tidak meminta kalian untuk memberi pelayanan kepadaku. AKu hanya minta, kalian minggir dari hadapanku, dan jangan berani menghalangi langkahku.." dengan mata yang mulai memerah, ravendra perlahan menunjukkan jati dirinya. Orang-orang yang berada di garda depan itu merapatkan badannya, mereka merasa takut mendapatkan tatapan mengintimidasi dari Ravendra.
__ADS_1
"Prok..., prok..., prok... sejak kapan kedatangan tuan muda Ravendra mendapatkan penolakan dari kaum rendahan seperti mereka." tiba-tiba muncul laki-laki mengenakan pakaian seperti bangsawan. Hidung yang mancung membingkai jelas di wajah bersih laki-laki itu, dia adalah Fredrick Henderic, seorang manusia vampire yang berasalah dari negara Belanda. Laki-laki ini datang untuk menghadiri acara conference di Rumania, dan memutuskan bergabung di Transylvania begitu mengetahui ada pertemuan di Barn Castle. Senyuman lebar muncul di bibir laki-laki itu, dan dengan perasaan senang yang ditunjukkan lewat senyumannya, laki-laki itu berjalan menghampiri Ravendra.
"Sejak kapan kamu menunjukkan wajah bersahabatmu padaku Hendrick.." dengan wajah datar, Ravendra menyapa laki-laki yang saat ini sudah berdiri di depannya itu.
"Relax guys... kita sudah sama-sama berumur. Tidak pantas lagi kita saling berseteru, sudah saatnya kita saat ini untuk bermitra. Bagaimana menurutmu.., bagus bukan ide gagasanku." dengan tetap tersenyum, hendrick menanggapi respon yang ditunjukkan Ravendra. Tangan Hendrick di angkat ke atas dan berhenti di atas pundak Ravendra. Tanpa menunggu balasan dari laki-laki itu. Hendrick menarik tubuh Ravendra ke depan, dan memberikan pelukan pada laki-laki itu.
*************
Akhirnya dengan ditemani Hendrick, manusia vampire berkebangsaan Belanda, Ravendra masuk dan menyela keramaian. Mata laki-laki itu beredar ke sekeliling tempat tersebut, berusaha untuk menemukan keberadaan Alexa. Namun laki-laki itu belum juga untuk menemukannya. Hendrick mengajak Ravendra duduk dalam satu meja dengannya, dan menyadari status keluarga dari Frederick Hendrick, akhirnya dengan ringan hati, Ravendra mengikuti laki-laki tersebut,
"Terserah apa yang ada di pikiranmu Tuan Hendrick. Tetapi asal kau tahu, sejak dari dulu, dan sampai kapanpun aku tidak akan berniat untuk duduk di kepengurusan manusia vampire. Aku memilki kehidupan sendiri yang jauh lebih glamour dan menarik daripada kehidupan manusia vampire." celetuK Ravendra sambil memandang tajam pada Hendrick.
Melihat tatapan membunuh Ravendra yang diarahkan padanya, tiba-tiba Hendrick merasa ngeri. Sebenarnya kemunculan di kastil ini, hanya ingin beranjang sana dengan sesama manusia vampire lainnya. Laki-laki ini juga sama sekali tidak peduli dengan keputusan bersama hasil penetapan kepengurusan manusia vampire beberapa periode ke depan. Keisengannya mendekati Ravendra, malah memancing kemarahan laki-laki yang terkenal dengan sikap dinginnya itu.
"Sudahlah tuan muda Ravendra.., kita bisa bermitra. Ayolah masuk ke ruang utama, di ball room bersama denganku. Kamu tidak akan menghadapi keribetan untuk melakukan registrasi, karena kebetulan pengawalku sudah mendaftarkanku duluan di tempat ini." akhirnya Hendrick memutuskan untuk mengalah.
__ADS_1
Akhirnya Ravendra berjalan di belakang laki-laki itu, dan setiap orang hanya memandang pada Ravendra. beberapa ada yang merasa jengah mengenali laki-laki itu, tetapi sebagian ada yang berbinar matanya seakan menemukan satu figur baru,
******
Di dalam ruang transit
Seorang pengawal mendatangi posisi duduk Robin, kemudian berbisik pada laki-laki itu. Robin merasa terkejut dilihat dari reaksi yang muncul di wajahnya, dan laki-laki itu kemudian berdiri serta menarik pengawal itu untuk bersama dengannya.
"Apa katamu.., apakah kamu melihatnya sendiri, jika Ravendra ada di kastil ini saat ini?? Bukannya pesawat yang dikendarai itu sudah meledak saat masih di wilayah Dubai...?" Robin menatap tidak percaya pada informasi yang dibawa oleh pengawalnya. Kedua tangannya sampai berada di atas krah baju laki-laki itu.
"Benar tuan muda.., bahkan kami juga melihat Tuan Frederick Hendrick dari Belanda langsung menarik tuan Ravendra ke mejanya. Saat ini mereka sedang duduk bersama di round table." pengawal melanjutkan memberikan informasi yang diketahuinya.
"Lebih mudah untuk menyudutkannya. Beri tahu bagian pantry, untuk menyajikan minuman khusus untuk laki-laki itu, Kamu tahu bukan, apa yang aku maksud tanpa menjelaskan secara detail padamu?" sambil menatap pengawal itu dengan tatapan menakutkan, Robin memberikan sebuah perintah.
"Baik Tuan Robin, kami paham apa yang anda maksud, Kamu juga akan memperketat pengawalan di tempat ini, siapa tahu Tuan Ravendra membawa anak buah datang ke kastil ini." pengawal itu cepat-cepat pergi dari hadapan Robin, khawatir akan kemarahan dari laki-laki itu.
__ADS_1
*************