
Begitu mendapat persetujuan untuk berdiri sendiri dan re sign dari perusahaan yang dimiliki oleh kakak iparnya, akhirnya Johan mengajak istrinya Raveena untuk segera berpamitan. Karena, Johan tidak bisa langsung pergi begitu saja meninggalkan perusahaan. Johan harus mengatur sampai perusahaan mendapatkan ganti sebagai asisten pribadi dari Ravendra, kemudian juga mengatur pengambil alihan kekuasaan. Ravendra tidak bisa diharapkan,. karena laki-laki itu sudah memutuskan untuk menarik diri dari kehidupan di dalam perusahaan.
"Negara mana kak Johan yang akan pertama kali kita singgahi.." selagi mereka masih di dalam kamar, raveena bertanya tentang rencana yang dimiliki oleh suaminya.
"Kita ke Indonesia saja dulu sayang.. Karena kak ravendra memiliki banyak perusahaan di negara itu, dan beberapa selama ini diurus langsung oleh Kak Ravendra dan diriku. Untuk itu, banyak persiapan untuk pengambil alihan wewenang, kita harus membereskannya dari segi hukum dan juga aturan perusahaan." ternyata Johan masih memiliki rasa memiliki perusahaan dan asset Ravendra. Laki-laki muda itu ingin membereskan semua urusan dulu, baru benar-benar pergi dari perusahaan tuan mudanya.
"Ternyata Veena ga salah pilih. Suami Veena memang berbaik hati.. pakai banget lagi.." Raveena memeluk erat tubuh suaminya, karena tidak langsung pergi meninggalkan kakaknya. Tapi Johan masih berpikir untuk menyelamatkan kepemimpinan Ravendra.
"Tidak perlu banyak berpikir, ayo kita keluar dan segera berpamitan dengan kak Lexa juga kak Ravendr.." Johan mandorong trolly bag kecil keluar dari dalam kamar. Raveena segera mengikuti laki-laki itu.
Sesampainya di luar kamar, terlihat Alexa sedang memangku Abhimana dalam pangkuan. Ravendra berada di samping istrinya, sambil tidak berhenti mengamati putranya. Johan mengajak Alexa menghampiri pasangan suami istri itu, kemudian...
"Kak Ravendr... kak Lexa.. kami akan segera berangkat menuju bandara.." ucap Johan menyela aktivitas pasangan suami istri itu.
Alexa tersenyum kemudian menoleh melihat pada pasangan muda itu. Ravendra mengambil alih untuk memegangi Abhimana. Keduanya menatap Johan dan Raveena yang sudah siap untuk meninggalkan kastil.
"Jadi mau berangkat sekarang Veena... Johan.. makanlah dulu.." dengan suara pelan, Alexa menanggapi pasangan muda itu.
__ADS_1
"Sudah kak.. tadi sebelum bersiap, kita sudah makan cream soup dan beberapa potong bruscheta. Kami bermaksud untuk berpamitan sekarang, karena dalam satu jam lagi, private jet sudah akan membawa kami ke Indonesia." Johan menjawab perkataan Alexa.
Ravendra masih terdiam, meskipun laki-laki itu sudah mengijinkan Johan pergi dari sisinya, tetapi mereka bukan hanya dalam waktu yang pendek menjalankan bisnis berdua. Bahkan.. operasional perusahaan, selama ini Johan yang lebih banyak menanganinya. Kedekatan emosional antara kedua laki-laki itu sudah terjalin erat, melebihi hubungan antar saudara, sehingga ketika melihat salah satunya pergi, rasa berat sangat mengganjal di hatinya.
"Hati-hati di jalan ya.. dimanapun kalian berada, sering-seringlah kalian kirim kabar. Apalagi beberapa perusahaan Johan juga masih terconnect dengan perusahaan papanya Abhimana bukan.. " Alexa menyampaikan beberapa pesan pada pasangan suami istri itu. Alexa merunduk kemudian memeluk erat tubuh kakak iparnya itu. Keduanya berpelukan erat, dan tanpa sadar air mata menetes dari sudut kelopak mata Alexa.
"Pergilah Jo.. terima kasih untuk semuanya.." ucap Ravendra singkat. Laki-laki itu kemudian berdiri dan memeluk tubuh Johan dengan erat pula.
Beberapa saat kemudian, dua pasang suami istri itu tenggelam dalam suasana haru. Namun karena mereka harus segera berkejaran dengan waktu, akhirnya mereka melepaskan pelukan. Johan merangkul pundak Raveena, kemudian keduanya berjalan naik ke atas tangga. Karena mereka berada di Berne bagian dalam, dimana untuk mencapai kota membutuhkan waktu lama jika mereka menempuhnya dengan mobil, Ravendra menyiapkan helikopter untuk mengantar Johan dan Raveena ke bandara.
*********
"Kak Ravendr.. istirahat dululah. Sejak tadi Lexa intip, kakak terus mencermati laptop dan juga ponsel. Lexa bawakan hot Americano dan pisang goreng kak. Tidak sengaja melihat di dapur, ternyata ada banyak buah pisang, yang mau dibuat cake oleh maid. Lexa ambil beberapa untuk dibuat camilan pisang goreng.. yah lumayanlah untuk mengobati rasa kangen akan masakan Indonesia." Alexa segera meletakkan cangkir panas, dan piring kecil di meja yang ada dalam ruang kerja tersebut.
"Thank.s honey.. istriku memang paling mengerti aku.." Ravendra berdiri kemudian menghampiri istrinya yang sudah duduk di atas sofa.
Laki-laki itu menundukkan kepalanya ke bawah, dan sebuah kecupan singkat di bibir Alexa diberikan Ravendra, kemudian Ravendra duduk disamping Alexa.
__ADS_1
"Bagaimana kak.. masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan..?" Alexa memijit pundak Ravendra.
"Tidak begitu honey.. karena Johan sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Anak itu memang sangat bisa untuk diandalkan, Raveena sangat beruntung bisa memiliki Johan sebagai suaminya.." Ravendra memberikan pujian pada Johan, meskipun anak muda itu tidak ada di tempat itu.
Alexa tersenyum, gadis itu memahami bagaimana kedekatan emosional yang dimiliki suaminya terhadap adik iparnya itu. Bahkan ketika saat-saat awal Alexa dan Ravendra bertemu, Johan juga memegang peran yang sangat penting untuk mendekatkan mereka.
"Kenapa honey jadi senyum-senyum sendiri.." Ravendra meletakkan cangkir kembali ke atas meja, dan dengan heran bertanya pada Alexa.
"Bukan begitu kak.. Lexa hanya ingat saja ketika pertama-pertama kali kita bertemu. Bagaimana Johan berusaha melayani kakak, dan berusaha mendekatkan kita. Semuanya lucu, dan sepertinya baru terjadi kemarin sore saja. namun semuanya dengan cepat.. sudah berganti.." sambil tersenyum kecut, Alexa menanggapi perkataan suaminya.
"Iya honey.. inilah hidup. Aku akan selesaikan semua urusan secepatnya, setelah itu aku akan memutuskan untuk berhenti dari semua pekerjaan. Kita hanya akan fokus mengawasi tumbuh kembang putra kita Abhimana, itu jauh lebih penting sayang.." melihat rasa kehilangan yang dirasakan istrinya ALexa.., Ravendra kemudian menghibur istrinya.
.
"Lexa paham kak... daun saja bisa mengalami perubahan bentuk beberapa kali. Tunas, daun muda, daun tua, kering dan akhirnya jatuh ke tanah lagi. Begitupun kita juga kak.. ada saatnya kita harus mulai menjauh dari hingar bingar dunia.. seperti yang kak Ravendr katakan. Kita biarkan uang yang bekerja untuk kita, bukan lagi kita yang bekerja untuk uang.." ucap Alexa.
Ravendra memegang leher istrinya, kemudian menyandarkan kepala Alexa di bahunya. Beberapa kali, laki-laki itu memiringkan wajahnya untuk memberikan kecupan di kening Alexa. Perlahan gadis itu memejamkan matanya perlahan, seakan meresapi detik demi detik, waktu kebersamaan dengan suaminya.
__ADS_1
*******