Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Tawanan


__ADS_3

Di sebuah barak yang ada di tengah hutan, tampak sebuah ruangan kedap suara dengan penampakan batangan-batangan perak tampak memenuhi ruangan tersebut. Di dalam ruangan tersebut, terlihat dua orang laki-laki tidak berdaya, dengan rantai di tangan dan kakinya. Kesalahan memprediksi hutan yang ada di pegunungan Alpen tersebut, menjadikan dua laki-laki itu mengalami nasib yang mengenaskan. Di luar tampak seorang laki-laki yang mengenakan topeng di wajahnya, tampak tertawa melihat penderitaan dua manusia itu.


"Ha.. ha.. ha.. bagaimana Robert.. kerja bagus untukku. Aku tidak akan pernah melupakan bantuanmu padaku.." tampak laki-laki bertopeng menepuk-nepuk pundak laki-laki yang bernama RObert itu.


"Aku paham Tuan.. tetapi Tuan harus menepati janji padaku. Jangan pernah sebut dan libatkan namaku dalam perseteruan kalian. Kekejaman dan tangan besi Tuan MUda Ravendra beserta asisten pribadinya Tuan Johan, tidak dapat dijangkau oleh orang-orang seperti kamu. Tanpa adanya tekanan dari pihak Tuan, kami tidak akan berani mengkhianati kedua orang itu." laki-laki benama Robert itu kelihatan ketakutan.


Jika tidak mengingat semua anggota keluarganya dalam tawanan laki-laki di depannya itu, Robert tidak akan mau berurusan dengan Ravendra dan Johan. Tetapi karena semua upaya yang dilkukannya saat ini untuk dan atas nama keluarga, begitu mendengar semua anggota keluarganya berada dalam tawanan laki-laki di depannya itu, akhirnya Robert menciptakan teknologi untuk menjebak dan menangkap Ravendra dan Johan.


"Kamu jangan terlalu khawatir Robert... hanya hitungan hari, jam, menit, ke detik.. tubuh dua orang di dalam ruangan kedap itu akan mengering. Ha.. ha.. ha..., tanpa adanya asupan darah segar dalam kurun waktu yang lama, dengan batangan perak dalam ruangan tersebut, mana ada manusia keturunan vampire dapat bertahan." laki-laki itu terlihat puas dengan kekejaman yang dilakukannya itu.


Robert diam saja, dalam hati kecilnya laki-laki itu terus memohon maaf pada dua orang yang terjebak dalam ruangan kedap tersebut. Tetapi keberadaan manusia bertopeng di depannya, membuat laki-laki itu tidak dapat berkutik. Harapan untuk dapat menemukan keberadaan putri dan istrinya, memaksanya untuk menuruti keinginan dari orang tersebut.


Tiba-tiba manusia bertopeng mengambil jubah yang ada di di loker di luar ruangan kedap tersebut, kemudian mengenakannya. Jubah itu merupakan pakaian untuk menetralisir efek dari penyerapan perak ke dalam tubuh manusia vampire, sehingga tidak kehilangan tenaganya. Robert hanya menatap manusia kejam, tanpa bisa berbuat apapun. Tidak diduga, setelah mengenakan jubah laki-laki bertopeng itu melompat ke atas dan masuk ke dalam ruangan kedap, kemudian menutup kembali pintu tempat masuk.


"Prok.. prok.. prok.., ha.. ha.. ha... betul-betul sebuah tontonan yang menarik. Seorang tuan muda penguasa perusahaan di seluruh dunia, kali ini seperti tikus got terpasang pada jebakan tikus. Demikian juga dengan asisten pribadinya, seperti seekor anjing yang mengais sampah di jalanan, tak berdaya... ha.. ha.. ha.." laki-laki bertopeng itu bertepuk tangan, dan tertawa sambil menghina Ravendra dan Johan.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga, Ravendra dan Johan yang sudah tidak memiliki tenaga, berusaha mengangkat kepalanya ke atas, kemudian menatap laki-laki bertopeng itu dengan tatapan garang. Tetapi menyadari dengan lempengan perak yang berada mengungkung tubuhnya, laki-laki tidak berbicara ataupun melakukan gerakan apapun.


"Memohonlah padaku Ravendra... ciumlah kakiku. Maka aku akan berpikir untuk membebaskanmu, atau langsung menghabisi nyawamu disini.. Ha.. ha.. ha.." masih dengan tertawa, laki-laki bertopeng mengajak bicara Ravendra.


"Cuih.." tidak disangka, Ravendra membuang ludah di depan laki-laki itu.


"Ternyata masih kamu tunjukkan kesombonganmu di depanku Ravendra. Terimalah ini..." laki-laki bertopeng itu menekan tuas dan menariknya ke bawah.


"Aaaaaawww..." sambil menggigit jari, Ravendra dan Johan tampak menjerit kesakitan, namun keduanya menahan untuk tidak berteriak mengeluarkan suara. Keringat sudah membasahi semua anggota tubuh mereka, dan dengan mata merah kedua laki-laki muda itu menatap laki-laki bertopeng yang tampak sombong memperlakukan mereka.


**********


Raveena turun di bandara Dusseldorf, dan beberapa orang sudah menunggunya di bandara tersebut. terbiasa melakukan perjalanan sendiri menjelajah dunia, membuat gadis itu memiliki banyak teman dan relasi. Apalagi orang tua, dan perusahaan yang diberikan kepada Raveena oleh kedua orang tuanya selalu mengirimkan uang ke rekeningnya, sehingga uang bagi gadis itu bukan merupakan masalah.


"Nona Veena.. kita sudah menyiapkan helipad untuk nona muda pergunakan melintasi pegunungan Alpen. Tetapi saya sarankan dulu, agar nona muda istirahat terlebih dulu. Indonesia menuju Dussseldorf Jerman, bukan perjalanan yang pendek, kami yakin nona muda sangat lelah." orang-orang yang ditugaskan untuk mendampinginya melakukan perjalanan, meminta Raveena untuk beristirahat.

__ADS_1


Raveena tersenyum masam, tidak mengetahui keberadaan kakak dan suaminya, membuat gadis itu seperti kehilangan semangat untuk beristirahat. Segera menuju ke lokasi, tempat hilangnya signal perjalanan kakak dan suaminya, merupakan pilihan terbaik untuknya saat ini. Dia bertekad tidak akan membuang waktu dan tenaga, hanya untuk beristirahat. Sedangkan bagaimana kabar orang-orang terdekatnya belum bisa diketahuinya.


"Siapkan makanan di dalam helipad, aku akan melakukannya di dalam pesawat. Siapa yang akan membersamaiku di dalam helipad.." Raveena balik bertanya, sambil berjalan turun dari private jet yang membawanya.


"Baik nona muda.. ada lima orang yang nanti akan membantu nona muda. Tetapi para pengawal yang lain akan mencoba menyusul dengan perjalanan darat. Afda beberapa titik yang sudah kami tandai, sebagai tempat yang disinyalir merupakan tempat persembunyian orang-orang itu." dengan cepat orang itu menjawab pertanyaan yang diucapkan Raveena.


Tanpa terasa mereka sudah sampai di bawah helipad yang akan membawa Raveena. Tampak beberapa orang sudah bersiap di bawah helipad, dan siap untuk memberikan pengawalan pada gadis muda itu.


"Silakan masuk nona muda.. di dalam nona muda bisa menikmati makanan dulu. Baru kita akan berani untuk melanjutlkan perjalanan mengingat medan yang akan kita datangi." salah satu pengawal menyampaikan rencana yang akan mereka lakukan.


Tanpa menjawab Raveena segera masuk ke dalam helipad. Terlihat ada sebuah meja kecil berisi beberapa makanan, tanpa bicara dengan cepat gadis muda itu segera datang dan mengambil beberapa makanan, dan langsung menyeruput minuman hangat yang juga sudah disiapkan. Tidak membutuhkan waktu lama, Raveena sudah selesai menyantap makanan dan minuman, kemudian memerintahkan para pengawal untuk menyingkirkannya.


"Bawa helipad ini sekarang juga, kita berkejaran dengan waktu.." Raveena memberikan perintah pada pengemudi helipad.


"Siap nona muda.." dengan sigap pilot segera memberi kode pada pengawal yang masih berada di luar.

__ADS_1


Tidak beberapa lama, beberapa orang sudah masuk ke dalam helipad, dan segera pintu helipad ditutup dengan rapat. Raveena langsung bersandar pada kursi, kemudian memejamkan matanya. Tanpa bicara apapun, pilot segera menerbangkan helipad dari bandara tersebut.


********


__ADS_2