
Alexa terkejut mendengar suara sedikit riuh di depan kamar yang digunakan istirahat Ravendra. Gadis itu kemudian menoleh ke arah pintu, dan terlihat pintu kamar didorong dari luar. Lima orang masuk ke dalam, dan Alexa merasa terkejut melihat Uncle Thomas ada bersama dengan rombongan itu.
"Uncle.." tanpa sadar keluar panggilan dari bibir Alexa melihat keberadaan Thomas. Laki-laki itu tersenyum kemudian mendatangi gadis itu.
"I,m not your Uncle.. Alexa.. I,m your daddy.., call me papa..!" Thomas mengingatkan posisinya bagi gadis itu.
"Papa.., selamat datang di kastil kak Ravend.. Maaf tidak bisa memberikan penyambutan yang layak untuk kedatangan papa." terucap lirih kata-kata ALexa untuk menyapa laki-laki paruh baya itu. Thomas mendekati Alexa, kemudian meraih pundak gadis itu dan memeluknya denga erat, ALexa seperti mendapatkan tempat untuk bersandar baru, di dada laki-laki itu, Alexa mengeluarkan tangisan.
"Papa tahu masalahmu Lexa.. Papa datang membawa Rahib yang akan memberikan pertolongan pada suamimu. Kita harus memberikan kesempatan pada ketiga Rahib untuk melepaskan gelang besi di tangan suamimu Ravendra." seperti ingat dengan tujuan utama mereka, Thomas melepaskan pelukannya terhadap ALexa. Laki-laki itu kemudian melihat kepada tiga Rahib yang berdiri di sampingnya.
"Rahib..., segera bebaskan Ravendra. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada menantuku." terdengar suara tegas Thomas meminta ketiga Rahib segera memberikan pertolongan pada Ravendra.
"Baik..., kami akan segera melepaskan gelang itu. Tetapi kami tidak akan bisa melakukannya jika banyak orang disini. AKu hanya butuh satu orang untuk membantu kami melakukan transfer energi pada tubuh nak Ravendra." salah satu Rahib segera memberi tanggapan pada perkataan Thomas.
"Ijinkan saya Rahib.., saya akan mendamping kak Ravend.. Jangan pisahkan kami..!" Alexa langsung maju mengusulkan dirinya,
"Alexa.., apa yang kamu katakan? Apakah kamu tahu bagaimana resiko orang yang akan melakukan transfer energi?" Thomas terkejut mendengar reaksi putrinya, segera laki-laki itu berteriak keras pada ALexa, Terlihat Ravendra juga memberikan isyarat untuk tidak mengijinkan ALexa melakukan kegiatan transfer energi itu.
__ADS_1
"Alexa tidak peduli papa..., Alexa akan melakukannya untuk kak Ravend.. Jangan larang saya papa.., Rahib ijinkan saya!" dengan tatapan permohonan, Alexa terus menginginkan melakukan transfer energi pada Ravendra. Melihat kebulatan tekad gadis itu, akhirnya Rahib menganggukkan kepala.
Melihat respon yang ditunjukkan Rahib, muka Alexa menjadi bersinar cerah. Dengan muka pucat, tanpa bicara Uncle Thomas mendahului keluar dari dalam ruangan itu. Dalam hatinya, laki-laki itu tidak mengijinkan putri yang belum lama ditemukannya akan melakukan kegiatan transfer energi, meskipun itu dilakukan untuk suaminya. Tetapi daripada menghalangi proses itu, akhirnya laki-laki itu menerimanya dengan hati terpaksa,
"Nak Johan..., kamu juga harus keluar. Jangan lupa sediakan air yang diambil dari sumur yang ada dalam kastil ini. Selain itu masih banyak perlengkapan lain yang harus disediakan. Aku sudah menulisnya di kertas ini." Rahib dengan halus juga meminta Johan untuk keluar dari ruangan, dan salah satu Rahib mengulurkan sebuah lipatan kertas pada Johan.
Laki-laki itu menerima kertas itu, kemudian membuka lipatan dan membacanya. Setelah beberapa saat kemudian..,
"Baik Rahib.., saya akan mencari semua perlengkapan ini. Tolong tunggu saya sebentar." Johan akhirnya juga mengikuti langkah Thomas keluar dari kamar perawatan Ravendra.
*******
"Nona Alexa kemarilah..., mendekatlah pada Rahib..!" Alexa mengikuti apa yang diucapkan oleh Rahib. Gadis itu mendekat pada ketiga Rahib tersebut, kemudian diminta duduk dekat dengan kepala Ravendra.
Rahib menyerahkan penutup kepala berbentuk seperti scarf, dan meminta Alexa untuk menutup kepalanya dengan kain tersebut., Scarf dengan warna dominan putih itu dengan cepat dililitkan menutup kepala Alexa. Sebuah mustika dengan bentuk lingkaran juga diberikan pada gadis itu, dan tanpa bicara Alexa mengikuti apa yang dikatakan para Rahib.
"Tuan Ravendra.., Nona Alexa.. upacara untuk melepaskan gelang besi akan segera dimulai. Kami harap Nona Alexa yang sudah memiliki kesediaan untuk melakukan transfer energi segera menyiapkan hati dan perasaanya," salah satu Rahib melakukan pembicaraan.
__ADS_1
Tanpa menjawab, Alexa menganggukkan kepala dengan kuat. Ravendra terharu melihat kesediaan istrinya, tanpa sadar air mata mengalir ke sudut mata laki-laki itu. Setelah beberapa saat, terlihat ketiga Rahib memejamkan matanya dan seperti membaca mantera, kemudian mengusap pucuk kepala Alexa perlahan.
Beberapa saat kemudian, ALexa merasa seperti tidak bisa mengendalikan ingatannya. Seperti ada sebuah kekuatan yang masuk ke tubuh gadis itu, dan terlihat sebuah lingkaran transparan mengalir keluar dari ubun-ubun gadis itu. Dengan menggunakan sebuah tongkat kecil, Rahib mengalirkan energi yang melingkari kepala Alexa ke dada Ravendra. Hal dilakukan untuk beberapa saat..
Salah satu Rahib mengeluarkan sebuah anak kunci kecil, kemudian dimasukkan ke dalam air yang diambil dari sumur yang ada di kastil tersebut. Dengan mengucap beberapa mantra, tiba-tiba keluar sinar dari dalam air tersebut. Keadaan seperti itu didiamkan oleh Rahib, mereka hanya mengamati pergerakan yang terjadi pada air tersebut. Bentuk hexagonal terlihat jelas dengan mata telanjang dalam air yang digunakan untuk merendam anak kunci tersebut.
Beberapa kemudian, salah satu Rahib yang paling tua mengambil anak kunci tersebut, kemudian kembali membacakan mantra. Sesaat.., anak kunci dimasukkan ke dalam lobang kecil yang ada di gelang besi di pergelangan tangan Ravendra. Seperti sebuah keajaiban terjadi, gelang besi itu berubah menjadi seperti bara api, Ravendra menggeliat seperti menahan rasa sakit, ketika kunci kecil itu masuk dalam gelang di tangannya. Terlihat Alexa juga mengalami hal yang sama, gadis itu sama sekali tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi pada dirinya.
"Klek...," setelah beberapa waktu kemudian, terdengar seperti suara kunci membuka. Para Rahib saling berpandangan dan tersenyum, dan Ravendra sudah terlihat tidak menderita rasa sakit lagi.
"Brukk.." tidak diduga, tubuh Alexa tiba-tiba ambruk ke depan menimpa tubuh Ravendra.
"Pindahkan Nona Alexa.., energi gadis itu sudah habis. Dia butuh istirahat untuk beberapa saat, selebihnya akan baik-baik saja." kedua Rahib segera mengangkat tubuh ALexa, kemudian membaringkan di single bed yang ada di kamar tersebut. Mereka mengambil lipatan selimut di dalam lemari, kemudian menyelimuti tubuh Alexa,
Para Rahib itu kemudian melepaskan gelang besi yang ada di pergelangan tangan Ravendra, kemudian menyimpannya dalam kotak besi, dan dimasukkan ke dalam tas yang mereka bawa.
"Kita harus keluar dulu, biarkan kedua orang ini istirahat dulu untuk memulihkan energi mereka. Tidak lama lagi, mereka akan siuman dengan sendirinya." para Rahib kemudian berjalan keluar dari kamar itu.
__ADS_1
*************