
Alexa merasa risih karena dari masuk ke kastil, sampai kembali keluar mereka menjadi pusat pandangan dari orang-orang yang berada disitu. Apalagi ketika gadis itu memperhatikan, ternyata Ravendra yang menjadi pusat dari tatapan itu bukan pada dirinya. Dengan wajah tampan sedikit pucat, tubuh gagah dengan perut six pack, memang Ravendra menjadi pangeran impian dari para perempuan. Bahkan tidak jarang, beberapa dari mereka yang memberanikan diri untuk mendatangi laki-laki itu.
"Ada apa honey.., kamu seperti merasa kurang nyaman?" merasa gadis di sebelahnya kurang nyaman, Ravendra bertanya pada gadis itu.
"Merasa ga level saja kak.., Alexa disini. Terlalu berkelas restonya.." bisik Alexa sambil menutup mulutnya. Ravendra tersenyum melihat keluguan kekasihnya itu.
"Dimanapun.., merupakan tempat yang cocok untukmu honey. Hanya kamu satu-satunya perempuan yang memiliki level untuk jalan di sisiku." sambil memberikan kecupan di pipi Alexa, Ravendra mengomentari perkataan gadis itu.
"Hai Ravend.., bagaimana kabarmu?? Aku kangen dengan pelukanmu sayang.." tanpa diduga, tiba-tiba ada perempuan yang mendatangi Ravendra dan langsung memeluk laki-laki itu. Melihat perlakuan perempuan itu padanya, raut muka Ravendra langsung berubah menjadi marah. Emosi langsung menghampiri laki-laki itu.
"Johan.., kemari..!" tidak menanggapi perempuan itu, Ravendra langsung memanggil Johan untuk datang. Dari arah pintu samping, terlihat Johan bergegas menghampirinya. Melihat seorang perempuan menggelendot manja di bahu laki-laki itu, Johan langsung tahu apa yang telah terjadi. Tanpa bicara, Johan langsung memisahkan pelukan perempuan itu dari tubuh Tuan Mudanya. Alexa hanya terdiam, gadis itu seperti merasa shock melihat tidak percaya apa yang terjadi di depannya.
"Apa yang kamu lakukan padaku.., hey.. lepaskan! Apakah kamu demikian mudahnya melepaskan semua Alex. Kamar hotel menjadi saksi bisu percintaan kita.., apakah dengan mudah kamu melupakan itu semua?" perempuan itu meronta-ronta membebaskan dirinya dari tarikan Johan.
Melihat perubahan sikap Alexa, Ravendra langsung mendekap kekasihnya itu. Alexa tetap terdiam, gadis itu ingin tidak mempercayai pendengarannya. Tetapi kalimat yang diucapkan perempuan itu, terdengar jelas dan seperti rekaman kaset yang berulang-ulang di telinganya. Tanpa bicara, Alexa dengan cepat melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil.
"Johan.., akhiri semuanya. Jika perlu, gunakan kekerasan, dan beri peringatan pada gadis itu!" Ravendra memang selalu menekankan pada perempuan yang ditidurinya, jika mereka hanya melakukan one night stand, dan sesudahnya mereka harus menyudahi hubungan itu. Jika Ravendra masih menginginkan gadis yang sama untuk dia tiduri, maka itu merupakan faktor kebetulan saja. Melihat Alexa sudah berjalan meninggalkannya, Ravendra segera menyusul perempuan itu.
__ADS_1
Mendengar perintah tegas dari Ravendra, karena gadis yang dia tarik tetap mau mengejar Tuan mudanya, tiba-tiba..
"Plak..." tamparan keras Johan ditujukan ke pipi perempuan itu. Dengan sangat terpaksa, Johan memutuskan untuk segera mengakhiri drama itu.
Perempuan yang dari tadi meronta ingin mengejar Ravendra terkejut dengan tamparan itu, dia sama sekali tidak menyangka jika ada laki-laki yang menamparnya di muka umum. Wajah perempuan itu menjadi merah, dan dia teringat dengan laki-laki yang pernah menjadi temannya tidur itu. Ketika dia ditawari untuk menemani Ravendra, dia memang sudah diperingatkan oleh mucikarinya. Dia diminta untuk tidak menggunakan perasaan saat bercinta dengan laki-laki itu. Tetapi yang menjadi kenyataan, setelah selesai bercinta dengan Ravendra, perempuan itu tidak bisa lagi melayani laki-laki lain. Sepanjang ingatannya, hanya Ravendra yang dia bayangkan.
*********
Di dalam mobil
"Honey..., bicaralah sayang. Jangan diamkan aku!" Ravendra memeluk tubuh Alexa dari samping, tetapi dengan cepat Alexa bergeser lebih ke pinggir. Tiba-tiba gadis itu merasa muak dengan laki-laki yang duduk di sampingnya itu. Dengan santainya, laki-laki itu mendekati dirinya. Di sisi lain, dia sudah tidur dengan beberapa gadis di luar.
"Apakah honey tidak mau mendengarkan penjelasanku dulu..?" kembali Ravendra bertanya pada Alexa. Tetapi Alexa tetap tidak mau menanggapinya,
"Sebelum bertemu denganmu memang aku laki-laki yang tidak bisa mengendalikan diriku sendiri honey. Hampir setiap malam aku melakukan percintaan dengan gadis-gadis yang tidak aku kenal sebelumnya. Kamu bisa
menanyakan pada Johan, hanya one night stand.., tidak lebih dari itu. Aku laki-laki yang tidak bisa mengendalikan ha*sratku. Tapi itu dulu honey... *sekarang aku sudah berubah." dengan suara perlahan, Ravendra menjelaskan
__ADS_1
pada Alexa.
Tetapi Alexa belum berniat menanggapinya, apa yang dia dengar merupakan sebuah informasi baru yang masuk ke telinganya. Dia sendiri sampai seusia ini selalu membatasi pergaulannya, dan bahkan kata pacar selama ini tidak ada di dalam kamusnya. Dan sekarang, laki-laki yang selalu mengejar dan memaksanya untuk menjadi pasangan kekasih, ternyata sudah banyak melakukan affair dengan banyak gadis. Apapun alasannya, sepertinya dia belum bisa menerimanya untuk saat ini.
Sejenak mereka terdiam, mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Di kursi depan, Johan merasa khawatir dengan apa yang terjadi di kursi tengah. Tetapi, dia tetap bertahan untuk membukai tirai pembatas, apalagi dia tidak mendengarkan perdebatan antara kedua orang itu di belakang.
"Honey..., katakan padaku. Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa mengajakku bicara kembali?" kembali Ravendra berusaha untuk melunakkan hati Alexa. Sebenarnya bukan karena Alexa tidak mau mengajaknya bicara, tetapi gadis itu ingin sebuah proses untuk mencerna kejadian yang baru saja terjadi di depannya. Ravendra memberi kecupan di belakang kepala Alexa, tetapi gadis itu masih terdiam dan belum tertarik untuk mengajaknya kembali bicara. Akhirnya sampai di basement, mereka berdua tidak terjadi pembicaraan apapun. Sampai mobil berhenti, Alexa langsung membuka pintu sendiri dan meninggalkan Ravendra yang bergegas mengejarnya.
"Lepaskan tanganku Tuan Muda..., ini perusahaan, kantor tempatku bekerja. Kita harus bisa memisahkan mana urusan pribadi dan mana urusan kantor. Saat ini aku sedang tidak ingin berbicara denganmu, menjauhlah dariku untuk sementara. Aku perlu waktu untuk berpikir." dengan tegas, Alexa berbicara pada Ravendra. Gadis itu segera masuk ke dalam lift, ketika melihat pintu lift terbuka. Ravendra segera menyusul langkah gadis itu masuk ke dalam lift.
"Baiklah... aku akan menurut padamu saat ini. Ingat.., kita perlu untuk bicara. Aku akan mengantarmu pulang.., jangan tinggalkan aku untuk pulang lebih dulu..!" akhirnya Ravendra menerima perkataan Alexa. Dalam diam kedua
orang itu naik menuju ke atas dengan menggunakan lift. Begitu lift berhenti di lantai tujuh, Alexa langsung melangkahkan kaki keluar tanpa menoleh dan tanpa berpamitan pada Ravendra.
"Bukk.." Ravendra memukulkan genggaman tangannya di pintu lift.
***********
__ADS_1