
Alexa ketap-ketip tidak bisa tidur di kamar Ravendra. Matanya masih terlihat jernih.., dan jarum jam sudah menunjukkan hampir mendekati pukul 12.00 malam. Tiba-tiba gadis itu merasa bulu kuduknya merinding, dia juga tidak tahu apa sebabnya. Suara detak jam di kamar Ravendra, menambah ketakutan datang mendekatinya. Gadis itu kemudian menyalakan televisi, dan beberapa saluran televisi sedang menayangkan film-film horor, sehingga Alexa kembali mematikan pesawat televisi tersebut.
"Apa aku menelpon kan Ravend saja ya.., bilang jika aku takut berada sendiri di kamar ini." tiba-tiba Alexa memiliki pikiran untuk mencari Ravendra.
"Tapi kan aku lagi marah sama kak Ravend.. Nanti dipikir kak Ravend aku merindukannya.." Alexa membatalkan keinginannya, rasa gengsi masih lebih tinggi dalam hatinya.
"Atau kak Johan saja yang aku beritahu, jika malam ini aku merasa ketakutan." kembali Alexa memiliki ide, tetapi karena mengingat jika Johan tidak akan pernah meninggalkan Ravendra, Alexa kembali membatalkan niatnya itu.
Alexa tiba-tiba kembali membaringkan tubuhnya dan menutup tubuh dengan menggunakan selimut tebal. Tetapi di dalam selimut, gadis itu malah merasa sesak. Dia seperti merasa terkurung tidak bisa melarikan diri.
"Akh .. kenapa juga aku masih berpikir tentang gengsi. Aku betul-betul merasa takut malam ini.." Alexa segera menyibakkan selimut dari atas tubuhnya. Gadis itu segera bergegas keluar dari dalam pintu.
Sesampainya di luar kamar, melihat lampu temaram membuat gadis itu semakin takut. Alexa mengedarkan pandangannya, dia berusaha mencari dimana ruang kerja Ravendra. Gadis itu merasa menyesal karena tadi tidak memperhatikan kemana Ravendra dan Johan pergi, dia langsung masuk ke dalam kamar setelah menyelesaikan makan malam.
Melihat saklar lampu, Alexa segera menekan tombolnya. Dan..., byar... sinar terang tampak langsung menyinari tempat itu. Alexa sedikit merasa lega, dia bisa melihat sekitarnya dengan tatapan jelas. Melihat kamar yang terlihat terang di lantai dua, Alexa memastikan jika itu merupakan ruang kerja Ravendra. Tanpa berpikir lagi, gadis itu segera melangkahkan kaki menuju kesana. Begitu sampai di depan pintu, sejenak keraguan kembali menghampirinya. Samar-samar terdengar keributan kecil di dalam ruang kerja itu.
__ADS_1
"Jangan kamu campuri urusanku Alberto..., ambil apapun yang kamu inginkan dariku. Aku tidak akan melarangmu.., tetapi aku ingatkan jangan terlalu jauh masuk dalam kehidupanku." terdengar dengan jelas suara Ravendra menahan emosi sedang berbicara di dalam ruangan.
"Ini bukan masalah ikut campur..., tetapi memang seharusnya begitu Ravendra. Semua orang dalam kaum kita mengharapkanmu.., kami tidak menginginkan Robin yang akan memimpin kaum kita. Sejak kami ada, dan kami sudah dikenalkan oleh orang tua kami jika kamu adalah pemimpin kami di masa depan. Tidak ada lagi alasan untuk menghindar." tiba-tiba terdengar suara Alberto menanggapi Ravendra.
"Aku pikir apa yang dikatakan Tami adalah benar, jika kamu sudah terbuai oleh cinta dengan seorang manusia murni. Benarkah itu Ravendra..., apakah gadis bernama Naura tadi yang sudah mempengaruhimu?" Angelo ikut menimpali Alberto.
"Jangan urusi urusanku, kamu ingat itu..!" suara Ravendra seperti sebuah ancaman menggema di ruangan itu, dan dengan jelas Alexa mendengarnya dari luar pintu.
"Jika perempuan itu sebagai penghalang, dan akan menodai keturunan dari vampire original.., maka kami tidak segan-segan untuk menghabisi gadis itu." terdengar ancaman dari Alberto.
"Berani kamu melakukan itu, aku sendiri juga akan menghabisimu.." Ravendra menjawab perkataan mereka.
Tiba-tiba jam di lantai bawah berdentang dua belas kali, yang menandakan jika malam ini tepat berada di tengah malam.
"Pletakk..., grrrrr.." tiba-tiba terdengar suara menyeramkan dari ruang kerja Ravendra Merasa ketakutan dengan suara jam di lantai bawah, dan suara geraman dari dalam ruang kerja Ravendra, Alexa sudah tidak mampu berpikir jernih. Perempuan itu segera mendorong pintu ruang kerja..., dan tatapannya langsung tertuju pada laki-laki yang berada di ruangan itu.
__ADS_1
************
Alexa terpuruk di balik pintu, perempuan itu tidak dapat menggerakkan kakinya untuk berlari keluar dari ruangan itu. Di depannya, dengan jelas terlihat sepasang taring muncul di bibir Ravendra.., matanya merah menyala, pada laki-laki yang saat ini sedang menjalin hubungan dengannya. Di sampingnya, Alberto dan Angelo juga sama. Mata kedua laki-laki itu dengan beringas menatap tajam pada Alexa.., dan perempuan itu menggigil tidak bisa menahan ketakutannya..
Tiba-tiba.., tanpa ada yang menghalang Alberto melompat ke arah Alexa.., dan gadis itu tidak mampu menghindar. Tetapi ketika.. Alberto mau menerkamnya, tiba-tiba dengan ganas, Alexander menyerang Alberto dari belakang. Kedua laki-laki itu bergumul dan bertarung di depan Alexa, dan gadis itu hanya memandang pertarungan itu dengan mata kosong. Angelo sudah menatap Alexa dengan pandangan nanar dan penuh minat. Tetapi Johan segera bergeser mendekati Alexa, dan berdiri di depan gadis itu untuk melindunginya.
Melihat Ravendra yang akan menggigit Alberto, tiba-tiba Alexa berlari menghampiri laki-laki itu. Meskipun hatinya menolak dan tidak menyukai penampilan kekasihnya dalam wujud seorang vampire, tetapi hati kecilnya tidak menginginkan Ravendra melukai seseorang.
"Kak Ravend.., jangan lakukan! Jangan buat Alexa takut kak..." Alexa memeluk punggung Ravendra dari belakang. Air mata membasahi punggung laki-laki itu, dan tiba-tiba mata merah Ravendra lambat laun menghilang. Cengkeraman tangan Ravendra di leher Alberto tiba-tiba mengendor dan terlepas dengan perlahan. Taring yang semula muncul.., perlahan juga ikut menghilang. Suasana hening tiba-tiba melingkupi ruang kerja Ravendrar. Alexa masih terisak dengan memeluk erat tubuh Ravendra dari belakang, mulut Johan ternganga melihat kejadian itu. Laki-laki itu tidak mempercayai penglihatannya, tangisan Alexa ternyata bisa meredakan kemarahan dan kutukan malam purnama yang selama ini diderita Ravendra.
"Pergilah sekarang dari hadapanku.., sebelum aku musnahkan kekuatanmu.." dengan nada tinggi, Ravendra mengusir Alberto dan Angelo untuk pergi dari ruangan itu. Tanpa menunggu lagi, kedua laki-laki itu langsung melompat terjun melalui arah balkon kamar yang terbuka.
"Tenanglah honey.., aku tidak apa-apa..!" Ravendra membalikkan badannya, kemudian memeluk Alexa dengan erat.
Dengan mata berbinar, Johan mengambil nafas lega. Laki-laki itu berpikir, jika Alexa ternyata memiliki kekuatan magic yang bisa menghentikan perubahan tubuh Ravendra. Setiap malam bulan purnama, selama ini Ravendra selalu mengalami gangguan yang menyiksa. Laki-laki itu akan berubah dengan sendirinya menjadi seorang vampire meskipun dia sendiri menolaknya. Dari waktu di sore hari, sifat temperamen juga akan menguasainya. Mereka menganggap itu merupakan sebuah kutukan, tetapi mereka tetap menjalani masa itu setiap bulannya. Saat ini, ternyata tanpa sengaja Alexa.., gadis yang saat ini sudah menjadi kekasih Ravendra seperti ditakdirkan memiliki kemampuan itu.
__ADS_1
"Kak Ravend.., Alexa takut.." seperti melupakan marahnya pada laki-laki itu, Alexa semakin memeluk tubuh Ravendra dengan erat. Ravendra mengusap punggung perempuan itu dengan menaik turunkan tangannya ke atas dan ke bawah.
***********