
Di Kastil
Memendam rasa tidak enak karena tidak bisa menemukan keberadaan Johan, Ravendra bergegas meninggalkan Barn Castle dan langsung menuju mobilnya. Tanpa memberi kabar pada pra pengawalnya satupun, laki-laki itu menginjal pedal gas membelah kesunyian kanan kiri bukit yang menjadi satu-satunya akses jalan menuju ke kastil tersebut, Tidak berapa lama, karena mengabaikan traffic light di jalan-jalan, mobil yang dikendarai laki-laki itu sudah memasuki halaman kastil, Melihat kedatangan tuan muda mereka, para pengawal segera berlari mendekat dan menghampiri laki-laki itu.
"Selamat sore Tuan Muda.., kami siap untuk memberikan pelayanan untuk tuan muda.." para pengawal mengucap salam menyambut kedatangan laki-laki itu.
"Ada dimana Johan.., kenapa laki-laki itu tanpa pemberi tahuan meninggalkan aku sendiri di Barn Castle?" sambil melangkahkan kaki menaiki teras, laki-laki itu bertanya pada pengawal.
"Ampun Tuan Muda.. mungkin ada maksud kenapa Tuan Johan melakukan itu. Sepengetahuan kami Tuan Johan merupakan asisten pribadi tuan muda, yang tidak pernah mengecewakan tuan muda.." tanpa sadar pengawal itu memberikan pembelaan pada Johan.
"Aku bertanya padamu dimana Johan sekarang, bukan memintamu untuk memberikan penilaian pada laki-laki itu. Jawab.., ada dimana anak muda itu sekarang.." dengan nada tinggi, Ravendra berbicara dengan reaksi marah,
Belum sempat para pengawal itu menjawab, dari dalam kastil muncullah Nyonya Sarah. Melihat mama mertuanya datang, Ravendra terdiam kemudian mengulurkan tangan menyalami perempuan itu.
"Johan sepertinya berusaha menyusul ALexa dan papanya Thomas di tengah hutan Ravend.. Istrimu dibawa lari manusia vampire, dan membawanya masuk ke dalam hutan. Papanya meminta kami segera keluar meninggalkan hutan, dan papanya pergi sendiri untuk menyelamatkan putri kami. Sepertinya hal itu juga yang dilakukan oleh Johan." dengan menundukkan wajah, Nyonya Sarah memberi penjelasan pada putra menantunya.
"Bastard.. makhluk tanpa identitas itu kembali membuat kekacauan. Mama tetap di rumah, Ravend mau menyusul Alexa ke dalam hutan. Ravendra sendiri yang akan berurusan dengan mereka." tanpa melihat lagi pada mama mertuanya, laki-laki itu segera melompat dan kembali masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Tidak mendengarkan panggilan dari para pengawalnya, Ravendra menginjak pedal gas dan mobil segera melesat keluar dari halaman rumah. Para pengawal saling berpandangan, dan beberapa dari mereka segera masuk ke dalam mobil, kemudian mengikuti mobil yang dikendarai Ravendra. Tidak lama kemudian, tiga mobil beriringan melesat memasuki kawasan hutan.
**********
Di tempat mobil Johan diparkirkan, Ravendra melakukan hal yang sama. Laki-laki itu segera melompat keluar dari dalam mobil, kemudian melompat ke atas melewati dahan demi dahan. Sepertinya anak muda itu sudah mengenali situasi dan keadaan hutan yang dimasukinya. Tidak berapa lama kemudian, laki-laki itu melihat Johan yang duduk dengan beberapa manusia vampire di depannya.
"****.. apa yang dilakukan Johan di tempat itu. Ada dimana Alexa istriku..?" melihat Johan duduk sambil berbicara dengan banyak orang disitu, Ravendra salah berpikir. Laki-laki itu sempat berpikir jika laki-laki itu berkhianat kepadanya. Melakukan sebuah konspirasi untuk melakukan penculikan kepada istrinya.
Tanpa berpikir dengan bijak, Ravendra tidak melihat ke kanan kiri, laki-laki itu langsung melompat dan turun di depan Johan. Tatapan kemarahan diarahkan laki-laki itu ke mata Johan, kemudian diedarkan ke seluruh tempat disitu,
Johan diam tidak membalas tamparan yang diberikan oleh laki-laki itu. Johan langsung berdiri dan menundukkan kepala di depan Ravendra. Para manusia vampire yang berada di kastil itu, menatap Ravendra dengan tatapan tajam, mereka seperti mendapatkan umpan yang empuk, yang datang sendiri ke kandang mereka tanpa perlu untuk bersusah payah mencari dan membawanya datang kesini.
"Nona muda sudah dibawa pergi Tuan Thomas tuan muda.., saya berada disini untuk mengalihkan perhatian mereka, sehingga Tuan Thomas bisa membawanya menjauh dari tempat ini." Johan menjelaskan keberadaan Alexa.
"Ikut denganku mencari istriku. AKu masih sangsi dengan kemampuan laki-laki tua itu dalam menjaga istriku," Ravendra mengajak Johan untuk meninggalkan tempat itu.
Tetapi tidak diduga, belum sampai mereka berhasil pergi dari tempat itu, sekumpulan orang sudah berkeliling mengitari Ravendra dan Johan. Dengan tatapan sengit, Ravendra menatap para vampire itu dengan pandangan menyeramkan,
__ADS_1
"Apa kalian pikir, aku memiliki banyak waktu untuk meladeni kalian semuanya. Minggir dan beri kami jalan, atau aku musnahkan kalian semua dan tempat kalian bermarkas ini." dengan nada tinggi, Ravendra mengancam orang-orang itu, Johan berjalan ke depan Ravendra, dan mengeluarkan senjata api yang sudah diisi dengan peluru perak.
"Minggirlah.., kalian pasti paham dan mengerti bukan. Untuk apa guna senjata api ada di tanganku." dengan sinis, Johan memainkan senjata api di tangannya. Melihat kilatan warna perak putih terlihat, manusia vampire itu dengan sendirinya menyingkir. Mereka bergegas melarikan diri dari tempat itu.
Tidak menunggu lama, Ravendra dan Johan segera melesat meninggalkan tempat tersebut. Beberapa saat mereka mengelilingi hutan, tetapi mereka belum menemukan tanda-tanda keberadaan Alexa. Ravendra menghentikan terbangnya sejenak, dan Johan berhenti di depan laki-laki tersebut.
"Apakah kamu punya ide, kemana lagi kita akan menemukan istriku Johan?" merasa tidak menemukan jalan keluar, dengan suara pelan Ravendra bertanya pada Johan.
"Iya Tuan muda, kita seperti terjebak dalam dead lock. Apakah nona muda dan tuan Thomas berada pada pusaran pepohonan untuk menjebak manusia ya Tuan muda? Namun.. posisi persisnya, saya sendiri belum bisa menemukannya." dengan hati-hati, Johan menanggapi perkataan Ravendra.
"Pusaran pepohonan.. aku juga pernah mendengarnya. Tapi untuk letak pasti keberadaannya, siapa yang mengetahuinya. Apakah laki-laki yang sudah hidup lama di dunia ini, juga belum tahu letak keberadaannya, Hari sudah menjelang malam Johan.., kamu paham artinya bukan. Manusia vampire akan meningkat kekuatan mereka, jika hari sudah malam hari. Semakin malam, kekuatan mereka semakin kuat. Aku sangat memikirkan keselamatan istriku." Ravendra terlihat sangat putus asa. Laki-laki itu mengacak-acak rambutnya sendiri, dia merasa bingung tidak dapat menemukan keberadaan Alexa.
Di sampingnya, Johan juga terlihat tidak jauh lebih baik. Laki-laki itu belum mengisi perut sejak siang tadi, dan berada di tengah hutan seperti ini, nafsu untuk mengonsumsi darah segar membuatnya lemas. Tetapi untuk menyampaikan keinginannya pada laki-laki yang sedang kalut di depannya itu, Johan merasa tidak sampai hatinya.
"Johan.. masih ingatkah kamu dengan perempuan tua yang pernah ditemui istriku di hutan ini. Aku yakin, perempuan itu bisa memberikan pada kita jalan keluar untuk menemukan istriku." tiba-tiba Ravendra mengingat tentang Bibi Cathy, dan langsung mengingatkannya pada Johan.
************
__ADS_1