Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Penyelamatan


__ADS_3

Alexa #


Setelah berbagi tugas dengan Raveena, ALexa segera pergi meninggalkan tempat penyekapannya dengan Raveena. Saat ini yang menjadi fokus keselamatannya adalah Abhimana putranya. Dengan memastikan jika bayi mungilnya itu aman bersama dengan Raveena, maka Alexa memiliki kebebasan untuk melakukan apapun yang dia suka. Dengan tidak adanya Ravendra dalam hidupnya, baginya kehidupan akan terasa hambar,


"Aku yakin Tuan Robert sebenarnya orang baik, laki-laki itu sedikitpun tidak memiliki niat untuk memisahkan kehidupan kami. Aku bisa membacanya melalui tatapan matanya. Dan amplop yang dikirimkan ke tempat tinggalku, aku yakin orang yang mengirimkannya, di bawah perintah laki-laki itu. Keberadaan laki-laki bertopeng itulah, yang menyebabkannya terpaksa untuk melakukan hal nista ini.." sambil berjalan mengendap, Alexa berpikir sendiri.


"Hmm.. sepertinya bangunan itu yang digunakan untuk menyekap kak Ravendra dan Johan., Benar seperti yang disampaikan Veena,, tidak ada pintu maupun celah untuk dapat masuk ke ruangan itu. Tadi aku juga sudah melihatnya sendiri." Alexa mengamati sekali lagi bangunan dinding yang ada di depannya.


Baru beberapa saat Alexa berpikir untuk memasuki bangunan itu, tiba-tiba perempuan muda itu mendengar ada orang yang bercakap-cakap dan menuju ke arahnya. Dengan cepat, Alexa segera mencari tempat untuk menyembunyikan dirinya.


"Apakah kamu tadi ikut mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Tuan Robert  pada laki-laki bertopeng itu??" salah satu dari dua orang itu bertanya pada teman yang ada di sebelahnya.


"Iya.. aku juga mendengarnya. Tuan Robert dalam tekanan, sehingga mau dan berani mengkhianati tuan muda Ravendra. Tetapi hal itu juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena istri dan keluarga tuan Robert berada dalam sekapan laki-laki bertopeng itu. Untuk mengamankan keluarganya, akhirnya tuan Robert berkhianat.." temannya menyahuti perkataan itu.


"Dan kalau keluarga tuan muda Ravendra tanggap.. sebenarnya tuan Robert juga sudah mengirimkan secarik kertas yang dikirimkan Antonius ke Indonesia. Tetapi itupun kalau keluarganya memiliki kemampuan untuk memahami pesan yang ingin disampaikan oleh tuan itu.." kembali mereka melanjutkan perbincangan mereka, sambil mereka berjalan melewati tempat persembunyian Alexa.


Setelah tempat itu kembali sepi, Alexa segera keluar dari tempatnya bersembunyi. Gadis muda itu merogoh tas di pinggangnya, kemudian mengeluarkan bungkusan dari dalam tasnya kemudian mengambil beberapa buah benda kecil di tangannya.


"Aku tidak boleh terlalu banyak membuang waktu. Kak Ravendra dan kak Johan tidak akan bisa menunggu lebih lama lagi.." setelah kembali menyimpan pack ke dalam tas, perempuan kuda itu segera kembali pergi menyelinap. Sambil bermain kucing-kucingan dengan para penjaga, Alexa menempelkan beberapa benda kecil ke dinding bangunan yang digunakan untuk menyekan Ravendra dan Johan,

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, tugas kecil itu sudah diselesaikan sendiri oleh Alexa. Perempuan muda itu kemudian berjalan sedikit menjauh, dan mencari tempat yang agak tinggi, sambil mengambil masker dari dalam tas, kemudian digunakannya untuk menutup mulut dan indera penciumannya, dari tempat yang lebih tinggi itu, Alexa bisa melihat apa yang terjadi di bawahnya. Beberapa orang tanpa memiliki kecurigaan terus lalu lalang, dan melakukan pemeriksaan tempat itu.


"Bluam... duaarrr..." tiba-tiba beberapa saat kemudian, di beberapa sudut bangunan, dalam waktu yang sama terjadi ledakan keras. Orang-orang yang berada di tempat itu segera berlarian menyelamatkan diri, dan dari atas Alexa bisa melihatnya dengan jelas. Dinding pembatas ambrol, dan debu-debu beterbangan menutup pandangan orang-orang yang ingin melihat kejadian tersebut.


Tidak mau didahului oleh orang lain, dengan mengenakan kaca mata dan masker, Alexa melompat ke dalam bangunan yang sudah meledak itu. Perempuan itu segera mencari Ravendra dan Johan.. dan begitu melihat dua tubuh yang tampak lemas bersandar di tengah kursi, dengan segera Alexa menarik tubuh dua orang itu. Tetapi karena sebagai seorang perempuan, dia saat ini sendirian dan harus menarik dua tubuh laki-laki, Alexa merasa keberatan.


"Aku akan membantumu.. jangan khawatir.." tiba-tiba Alexa kaget, melihat ada laki-laki yang sudah berdiri di belakangnya dan juga menawarkan pertolongan kepadanya.



***********


Di dalam sebuah ruangan yang tidak layak untuk disebut sebagai sebuah ruangan, Alexa dan Robert membaringkan Ravendra dan Johan yang masih tampak lemas. Alexa tidak menyangka, jika laki-laki itu akan memberinya pertolongan. Namun gadis itu tidak memiliki waktu lagi untuk berbincang-bincang.. karena kembali menghampiri suami dan adik iparnya.


"Tuan Muda Ravendra dan Tuan Johan masih lemas.. apa yang bisa aku lakukan untuk membantu mereka. Maafkan kesalahanku.." dengan muka menunduk, Robert mengajak bicara Alexa.


Gadis muda itu mengambil nafas, kemudian berpikir jika laki-laki yang kali ini sedang menolongnya itu sedang dalam keadaan terdesak, dan juga tidak berdaya. Sama dengan apa yang dilakukannya saat ini, untuk membebaskan suaminya, hal itulah yang juga terjadi dengan Robert.


"Carikan aku darah segar.. hanya itu yang bisa kamu gunakan untuk membantu dan menghapuskan kesalahanmu pada kami.." sahut Alexa cepat, tanpa melihat ke wajah Robert. Melihat keadaan suami dan adik iparnya itu, memang hanya darah segar manusia yang dapat membantunya untuk mengembalikan kekuatan.

__ADS_1


"Apakah aku tidak salah dengar, darah segar.. dari mana aku harus mendapatkannya..?" dengan tergagap tidak percaya, Robert menanyakan sekali lagi apa yang dikatakan oleh Alexa.


"Jangan tanya padaku... hanya itulah yang bisa memaafkanmu. AKu membutuhkan darah segar manusia saat ini untuk mengembalikan keadaan kak Ravend dan kak Johan agar pulih seperti semula. Aku akan membantumu untuk mempertimbangkan kesalahanmu di depan kak Ravendra, jika kamu berhasil melakukannya." sahut Alexa cepat. Perempuan muda itu segera kembali membersihkan debu yang mengotori wajah suaminya.


"Baik.. baik .. nona muda. Aku memahami apa yang kamu katakan.." Robert segera keluar dari tempat itu.


Wajah Ravendra terlihat sangat pucat, Alexa melihatnya sampai tidak tega. Dagingnya terlihat menipis seperti tinggal kulit yang menempel pada tulang-tulangnya. Dengan air mata yang mengalir, Alexa menciumi wajah Ravendra dengan perasaan yang tidak dapat diungkapkan.


"Uhuk.. uhuk.." tiba-tiba Ravendra terbatuk, dan mata laki-laki itu perlahan terbuka.


"Honey... honey.. is that you..?" dengan suara lirih, Ravendra seakan tidak bertanya dengan apa yang dia lihat di depannya.


Alexa meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya, meminta suaminya untuk berhenti berbicara. Dan tangan Ravendra memegang erat tangan Alexa, sebelum kemudian laki-laki itu kembali pingsan. Tanpa bicara, Alexa kembali meletakkan kepala suaminya, kemudian berpikir untuk membersihkan wajah Johan. Setelah membersihkan wajah Johan, perempuan muda itu kemudian kembali duduk memandang wajah suaminya.


"Apakah aku harus melukai tubuhku, dan memberikan pada kak Ravendr darah segarku..?" tiba-tiba ALexa memiliki ide untuk menggunakan darahnya sendiri.


Perempuan muda itu kemudian mengeluarkan pisau belati kecil dari dalam tasnya, Namun baru saja.. Alexa akan menggunakannya untuk menoreh kulit halusnya, tiba-tiba Robert sudah masuk  ke dalam dan membawakan satu gelas cairan merah segar.


*********

__ADS_1


__ADS_2