
Alexa tersenyum sinis menatap Alberto dan Tami secara bergantian. Di depan gadis itu, kedua orang itu menatap Alexa dengan tatapan merendahkan. Mereka merasa di atas angin menatap Alexa yang tidak memiliki perlindungan di tempat itu.
"Siapa yang akan menolongmu ja**lang...?? Tidak ada Ravendra di tempat ini yang akan menyelamatkanmu. Kamu hanya sendiri, dan memang sudah menjadi garis takdirmu. Kamu harus mati hari ini..." jari tangan Tami diarahkan ke wajah Alexa. Tetapi dengan cepat, Alexa menangkap tangan Tami dan menghempaskan ke samping.
"Hanya begini saja kekuatanmu Tami... Mengajak orang lain untuk menindasku..." dengan tersenyum sinis, Alexa memberi komentar pada Tami. Mata gadis itu berkilat menatap wajah Tami di depannya.
"Menyingkirlah Alberto..., cukup aku untuk memberi pelajaran pada ja**lang ini." Tami mengangkat tangan meminta Alberto untuk pergi meninggalkannya.
Tanpa menjawab, Alberto mundur dan menjauhkan diri dari mereka berdua. Tetapi laki-laki itu tidak keluar dari roof top, Alberto menunggu di akses menuju sisi pintu masuk lewat lift.
"Kali ini aku sendiri disini ja**lang, aku pingin melihat apa yang akan bisa kamu lakukan. Sepertinya tidak akan menarik jika aku langsung membunuhmu disini. Tidak akan ada hiburan. Tetapi dengan menghancurkan mukamu, dan tidak akan ada klinik yang sanggup memberi penyembuhan, sepertinya akan lebih mengasyikkan." dengan tatapan sadis, Tami memberikan ancaman pada Alexa.
Alexa diam tidak menjawab, dan tiba-tiba sepasang taring muncul di kedua sudut bibir Tami. Kuku tangan perempuan itu, tiba-tiba seperti tumbuh dan terlihat runcing berada di depan Alexa.
Dengan tatapan penuh kehati-hatian, Alexa mundur ke belakang. Tetapi pembatas taman terasa menghalangi gerakannya. Di depan wajahnya, dengan seringai menyeramkan Tami menatapnya dengan senyum melecehkan Alexa. Tiba-tiba kedua tangan Tami berada di atas bahu Alexa, dan gadis itu mencoba untuk melepaskannya. Tetapi, terasa tangan Tami seperti berat membebani pundak Alexa.
"Kamu mau mencoba untuk melawanku.., keluarkan semua tenagamu!" dengan ucapan menghina, kuku tangan Tami ditempatkan di leher Alexa.
Merasa tidak memiliki tenaga, Alexa memejamkan mata. Mau berteriak, tetapi Alexa merasa malas menimbulkan keributan di hotel tersebut. Gadis itu terlihat seperti pasrah menerima nasib yang akan menimpanya.
"Lakukan Tami.., puaskan apa yang ingin kamu lakukan padaku. Aku tidak takut..." Alexa tersenyum memanas-manasi Tami.
__ADS_1
"Plak.." sebuah tamparan diberikan Tami di pipi kanan Alexa. Gadis itu merasa panas dan kesakitan merasakan tamparan itu. Terlihat bekas tamparan itu berwarna merah membekas di pipi gadis itu.
"Sepertinya tamparan ini tidak bisa membuatku mati Tami... huh.." Alexa malah berbicara semakin ngelantur. Mendengar perkataan Alexa, emosi ini mengalir di hati Tami.
"Kamu masih berani untuk bersikap sombong di depanku ja**lang?" kedua tangan Tami tiba-tiba sudah berada di leher Alexa.
Alexa semakin melebarkan senyumnya mendapatkan perlakuan itu. Tidak sedikitpun terlihat rasa takut pada dirinya. Mata merah Tami dan jari-jari tangan yang mencengkram di leher bahkan tidak membuatnya gentar.
"Besar juga nyalimu ja**lang, aku tidak akan memberi ampun padamu." teriak kalap Tami. Perempuan itu memiringkan kepalanya, dan dengan tatapan marah mulai mengarahkan bibirnya ke leher Alexa. Anehnya, melihat hal itu, Alexa merasakan aliran darahnya berdesir, dan mengalir ke atas seakan mau membuat benteng dan perlindungan.
"Clap.." tiba-tiba sebuah trisula kecil hampir menyerempet lengan Tami. Trisula itu dengan anehnya tertancap di dinding sebelah kanan kepala Alexa.
Secara reflek, Tami menoleh ke belakang. Terlihat Thomas dengan gagahnya berjalan menghampirinya yang sedang memegang leher Alexa. Begitu melihat kedatangan Thomas, Alberto langsung melompat roof top hotel tersebut, dan berpindah ke bagian lain hotel tersebut.
"Kamu terlalu naif Tami.. Saat ini apa yang sedang kamu lakukan pada leher gadis itu?? Apakah kamu akan melanggar peraturan koloni, dimana kita tidak dibolehkan menindas orang yang lemah." di luar dugaan, Thomas menggunakan alasan peraturan koloni untuk mengingatkan Tami.
Dengan jengkel dan marah, Tami melepaskan cengkraman di leher Alexa. Merasa terbebas dari perempuan itu, Alexa bergeser ke samping menjauh dari Tami.
"Tami bermaksud memberikan pelajaran pada gadis ini Uncle.. Agar dia tahu diri, dan tidak mencari masalah atau berurusan dengan kaum kita." Tami membela diri.
"Pelajaran...?? Apa maksudmu, aku hanya akan memberi tahu padamu Tami... kendaliku dirimu. Jangan membawa-bawa koloni kita jika kamu berurusan dengan manusia. Kita memang ditakdirkan berbeda dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tetapi pesan dari pemimpinnya besar kita di Santorini, kita harus rukun berdampingan dengan manusia." Thomas melanjutkan bicara untuk memberi nasehat pada Tami.
__ADS_1
"Baik Uncle... Tami mau kembali ke kamar" ucap Tami sambil menundukkan kepala dengan perasaan jengkel. Perempuan itu kemudian berjalan meninggalkan Alexa dan Thomas berdua di roof top.
Sepeninggalan Tami, Thomas berjalan mendekat pada Alexa. Laki-laki itu tersenyum, kemudian...
"Bagaimanapun keadaanmu, apakah kamu baik-baik saja?" Thomas terlihat khawatir dan bertanya pada Alexa.
"Terima kasih bantuannya Tuan.., saya baik-baik saja kok. Bukannya Tuan Thomas yang tadi presentasi sebelum gelap Khan?" tanpa sengaja, Alexa malah mengalihkan pembicaraan.
"Panggil Om saja.. jangan Tuan. Nama Om Thomas.. Biar lebih akrab, tidak malu kan berteman dengan Om-om seperti saya?" Thomas mengulurkan tangan mengajak Alexa berkenalan. Tanpa merasa curiga, Alexa menerima tangan Thomas dan menyebutkan namanya.
"Dari mana kamu bisa berurusan dengan Tami. Maklumlah dengan anak itu.., ayo kita duduk di restauran saja jangan berdiri disini." Thomas mengajak Alexa menuju restauran. Merasa ditolong oleh laki-laki itu, tanpa curiga Alexa mengikuti Thomas dengan berjalan di sampingnya.
"Pertemuan tidak sengaja saja Om.., dulu di tempat kerja yang lama. Saya juga tidak tahu, hal apa yang membuat perempuan itu seperti menyimpan dendam terhadap saya. Bahkan tadi sempat tersampaikan jika dia ingin membunuh saya." ucap Alexa sambil tersenyum kecut.
Thomas terkejut mendengar perkataan Alexa, dan melihat ke wajah Alexa dengan tatapan khawatir. Tetapi sedikitpun, Thomas tidak melihat ada kecemasan pada diri gadis itu. Sesampai di restauran, melihat Thomas yang tinggal di Presidential Suites, pelayan segera mendatangi mereka.
"Wine tequilla satu .., Lexa mau minum apa?" dengan perasaan akrab, Thomas menanyakan pesanan gadis itu.
"Lemon tea panas saja... no meal.." Alexa langsung menjawab pertanyaan Alexa, dan langsung mengatasi pesanan pada pelayan.
Pelayan kemudian meninggalkan mereka berdua. Banyak hal yang ditanyakan Thomas tentang Alexa dan keluarganya. Tanpa sadar, Alexa telah menjawab identitas dan tempat tinggalnya sekarang.
__ADS_1
********