
Robin terkejut ketika menyadari jika laki-laki muda yang dikhianatinya sudah berdiri di belakangnya. Laki-laki itu berusaha untuk melepaskan diri dari Ravendra, dengan menarik tubuh Rahib untuk menutupinya, dan memanggil pengawal untuk membantunya. Tetapi rupanya laki-laki itu tidak menyadari, jika pengawal yang duduk di stage itu sudah digantikan oleh orang-orangnya Johan, yang juga sekaligus orang-orang Ravendra. Langkah kaki laki-laki yang akan melarikan diri itu dihadang oleh para pengawal di stage tersebut.
"Selamat malam Tuan Robin.., bagaimana kabarmu hari ini. Rupanya beberapa bulan kita tidak bertemu, kali ini kamu sudah menunjukkan siapa dirimu sebenarnya. Pakaianmu sudah menjadi semakin perlente, dengan penampilan yang bisa menipu orang-orang di belahan dunia manapun." Ravendra mendekati Robin. Lkai-laki itu tersenyum sinis, dan merapikan kerah baju Robin. Wajah Robin terlihat pucat melihat kemunculan dan keberadaan Ravendra di tempat itu.
"Tuan muda.., apa yang anda lakukan di tempat ini? Aku harapkan jangan membuat kekacauan disini, tempat ini sudah dikepung oleh orang-orangku. Pergilah sebelum orang-orangku datang dan menangkapmu." Robin berusaha mengancam Ravendra untuk menutupi kegugupannya.
"Ha.., ha..., ha... aku akan melihatnya Robin. Bagaimana orang-orangmu akan menangkapku, aku akan melihat sampai dimana keberaniannya. Sepertinya, untuk pergi meninggalkan stage ini saja, langkah kakimu sudah terasa berat Robin. Cobalah kalau kamu berani mengangkat kakimu untuk meninggalkan stage ini.." Ravendra tertawa terbahak, mentertawakan laki-laki itu.
Mendengar suara tertawa Ravendra, para pengawal yang berada di stage sebagian menyingkir dengan membawa para rahib, untuk memeriksa sejauh mana keterlibatannya dalam acara pelantikan ini. Beberapa pengawal yang lain, mendekat dimana Ravendra dan Robin berada. Melihat kedatangan orang-orang yang tidak dikenalnya berdiri mengelilinginya, Robin merasa jengah. Laki-laki itu mengedarkan pandangan mencari para pengawalnya, tetapi laki-laki itu tidak dapat menemukannya.
"Tuan muda.., apa yang tuan muda lakukan di tempat ini. Bukannya beberapa waktu lalu tuan muda sudah menyampaikan kepadaku, jika tuan muda sudah tidak memiliki minat terhadap posisi jabatan ini. Kenapa kali ini, malah tuan muda berada di tempat ini, dan berusaha mengacaukan acara pelantikan ini." dengan tidak tahu malu, Robin berusaha menekan Ravendra.
"Siapa yang membawa orang-orang kesini Robin... Kamu bisa meminta mereka salah satu datang untuk mendekatimu, tanyakan kepadanya. Untuk apa mereka berada disini, dan atas perintah siapa mereka berada disini. Sudah dalam keadaan terdesak seperti ini, kamu masih belum menyadari dimana letak kesalahanmu. Memang merupakan hal yang paling mudah jika kita mencari kesalahan orang lain." dengan tersenyum sinis Ravendra menanggapi perkataan Robin.
__ADS_1
Robin terkejut, kemudian menatap Robin dan orang-orang yang tampak siaga mengurung keberadaan mereka. Sama sekali tidak ada celah bagi Robin untuk melarikan diri dari tempat itu.
"Robin..., kendalikan dirimu terlebih dahulu. Buang prasangka, untuk tidak dengan mudahnya berprasangka pada orang lain tanpa melakukan klarifikasi sebelumnya. Itulah sikap yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin, apalagi pemimpin manusia vampire tingkat dunia. Kamu masih terlalu jauh dari harapan Robin, masih banyak kandidat lain dari negara-negara kecil yang lebih layak duduk dalam posisi ini. Yang aku tahu, kamu belum layak dan pantas untuk mendudukinya." dengan tegas, Ravendra menambahkan.
Wajah Robin bertambah pucat, apalagi belum ada satu orangpun yang datang untuk menyelamatkannya. Para Rahib juga sudah menghilang dari tempat tersebut, seolah mengabaikan calon pemimpin mereka yang sudah akan dilantik pada hari ini.
"Tutup mulutmu Tuan muda Ravendra.., akan kita lihat siapa yang paling berpengaruh saat ini, di tempat ini.." tiba-tiba wajah Robin terlihat sumringah, laki-laki itu dengan senyum melebar melihat kedatangan orang-orangnya dari belakang Ravendra. Dan sepertinya Ravendra belum menyadarinya, laki-laki itu masih tetap berdiri menghadap pada Robin.
**********
"Nona muda..., bagaimana nona muda bisa berada disini..?" tiba-tiba Alexa mendengar suara Johan di belakangnya. Alexa menoleh dan melihat dengan beberapa orang di belakangnya, Johan berjalan menghampirinya.
"Bukan saatnya untuk mendengarkan ceritaku kak Johan.. Ada dimana kak Ravend.. kita harus cepat mengamankannya. Orang-orang Robin sangat banyak, kita kalah dalam jumlah.." Alexa terlihat panik, perempuan itu segera meminta Johan untuk melakukan sesuatu.
__ADS_1
"Don.t panic nona muda.. Aku yakin tuan muda dalam keadaan aman, kita tidak boleh meremehkan suami nona muda. Tuan muda memiliki trik dan strategi yang jitu, apalagi dalam tubuh tuan muda sudah dilengkapi dengan banyak peralatan teknologi. Akan mudah baginya untuk keluar melarikan diri dari ball room, bahkan untuk meledakkan kastil ini." Johan memberi penjelasan pada Ravendra.
"Tapi aku belum lega jika belum melihat keberadaan kak Ravend kak.., temani aku untuk mencarinya." Alexa masih terlihat gundah, Matanya berkeliling ke ruangan ball room, tetapi ruangan itu sudah menjadi lautan manusia. Ada yang terbang, ada yang tetap bertahan duduk di kursi menjadi penonton.
"Hentikan kecemasan nona muda.., semua malah akan menjadi buyar. Dari keadaan ini, sebenarnya kita bisa melihat hanya beberapa orang yang pro terhadap Tuan Robin, Selebihnya hanya terlihat mereka mencari selamat, mengikuti mana yang menjadi suara terbanyak." Robin berusaha menenangkan Alexa.
Melihat sikap optimis yang ditunjukkan laki-laki itu, Alexa menjadi sedikit tenang. Perempuan itu berjalan mengikuti Johan di belakangnya. Johan menyeruak kepadatan orang-orang yang tampak riuh memadati pertengahan ball room.
"Kak Johan..., bukankah itu kak Ravend...?" tiba-tiba Alexa melihat bayangan tubuh Ravendra di atas stage. Laki-laki itu terlihat santai sedang bersama dengan Robin di atas stage dengan beberapa orang mengelilingi mereka.
"Sialan.., itu bukan pengawal orang-orang kita. Untuk apa mereka mengelilingi tuan muda.." melihat orang-orang yang ada di belakang Ravendra, Johan tertegun melihat keberadaan tuan mudanya di atas stage. Laki-laki itu langsung terbang melupakan Alexa, menuju ke tempat stage dimana Ravendra berada.
Melihat kedatangan Johan, Robin melihatnya dengan senyum melecehkan, Ravendra menoleh dan menatap tajam pada laki-laki itu, mencoba mengkonfirmasi keberadaan Alexa. Melihat tatapan tuan mudanya, Johan menjadi panik, dan menoleh ke tempat tadi dia meninggalkan Alexa.
__ADS_1
*********