Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Pencarian


__ADS_3

Tanpa mengurus perijinan, Johan meminta pilot menurunkan helipad ke tanah lapang yang sedikit masuk ke dalam hutan. Mengingat kembali pesan yang disampaikan oleh Tuan Thomas, Johan menjadi lebih berhati-hati. Dengan segera laki-laki itu memanggil pengawal untuk membantunya merakit peralatan.


"Saya ada usul Tuan Johan. Sepertinya akan sangat beresiko jika kita tempatkan peralatan ini di atas tanah. Kita tidak tahu.., jika ada binatang buas yang tertarik untuk datang kesini, dan merusak peralatan teknologi kita." mengamati rapatnya pepohonan di hutan tersebut, tiba-tiba seorang pengawal mengusulkan.


"Lalu apa usulanmu..?" tanya Johan cepat dan padat. Laki-laki itu masih asyik merangkai sebuah coding pada iPad yang ada di tangannya.


"Kita bisa menempatkan peralatan di atas, dengan menambahkan papan penyangga. Kita akan menunggu rombongan kita, yang masuk dengan perjalanan darat. Aku sudah meminta mereka untuk membawa papan besi untuk menyangga peralatan di atas pohon. Sekaligus kita bisa membangun base camp di atas pohon sekalian." dengan tertata, pengawal itu menyampaikan konsep yang dipikirkannya.


"Okay I.m agree..., do it..!" dengan cepat, terdengar perintah Johan untuk segera mewujudkannya dalam aksi nyata.


"Siap Tuan Johan.., ijin saya dan teman-teman untuk bersiap." pengawal itu langsung berjalan meninggalkan Johan, kemudian bergabung dengan teman-teman, kemudian mereka membagi tugas.


Johan berjalan mengitari tempat tersebut, kemudian memberi tanda sesuai dengan apa yang dia lihat pada peta yang kemarin dilihatnya. Laki-laki itu melangkahkan kaki ke depan, dan baru berjalan beberapa langkah, dengan sadis, Johan beradu pandang dengan seekor harimau, Melihat tatapan menyeramkan yang dilayangkan Johan kepadanya, harimau itu membalikkan badan dan berlari kembali ke dalam hutan.


*********


Di tengah Hutan

__ADS_1


Ravendra mendatangi Steven dan Ronald, laki-laki itu ingin melakukan pengecekan apakah ada permasalahan dalam merakit peralatan. Sebelum bergabung dengan kedua laki-laki itu, Ravendra sudah menemani tidur Alexa, dan setelah memastikan jika perempuan muda itu terlelap, baru Ravendra berpikir untuk meninggalkannya tidur sendirian di dalam hammock. Di hammock tengah, terlihat Salsa juga sudah tidur.


"Bagaimana apakah ada kesulitan..?" Ravendra bertanya pada kedua laki-laki itu.


"Secara garis besar, kami yakin Tuan Muda.., jika peralatan ini sudah selesai dan sempurna. Tetapi seperti signal yang kita kirimkan, seperti berbalik arah kembali kesini. Peralatan ini seperti ada penghalang untuk menembus dunia luar, tetapi kami belum menemukan permasalahannya ada dimana.." Steven yang masih memegang obeng kecil di tangannya, menjawab pertanyaan Ravendra.


"Iya Tuan Muda..., berkali-kali saya juga sudah mencobanya. Seperti ada signal jammer, yang membungkam peralatan ini. Kami tidak bisa melanjutkan untuk mencoba alat, karena kami menghemat penggunaan baterai." dari sebelah Steven, Ronald ikut menambahkan,


Ravendra diam, mencoba menelaah perkatan kedua orangnya itu. Perlahan laki-laki itu duduk, kemudian menyalakan rokok. Beberapa saat, Ravendra menikmati hisapan demi hisapan batang rokok di jarinya, sambil pandangan matanya menerobos pada kegelapan malam, Steven dan Ronald hanya saling berpandangan, mereka tidak berani untuk mengganggu laki-laki itu.


"Steven.., ROnald.. istirahatlah. Hari sudah menjelang malam, aku akan berganti denganmu. Aku sudah tidur sebentar tadi, sekarang giliran kalian berdua untuk beristirahat." ada sesuatu yang dipikirkan Ravendra, tetapi laki-laki itu tidak ingin kedua anak buahnya itu mengetahui apa yang akan dilakukannya.


"Diam.., turuti perintahku.. aku mampu, jika hanya untuk melindungi kalian saja." Ravendra memotong ucapan Steven. Kedua orang itu kemudian saling berpandangan, kemudian tanpa berkata-kata segera berjalan untuk menuju ke hammock untuk beristirahat.


Malam semakin bergulir, Ravendra masih berada di bawah hammock, dengan menyandarkan tubuhnya pada sebuah batu besar. Pikiran laki-laki itu terus bekerja, seperti sedang menyambungkan serpihan-serpihan pikiran yang terpisah seperti sebuah mozaik,


"Signal jammer..., berarti ada peralatan yang lebih canggih di hutan ini. Tetapi siapa yang memiliki kemampuan untuk merakit dan memilikinya..?' Ravendra bertanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Tadi siang Alexa juga bercerita, saat gadis itu sedang mencari daun Africa.., tanpa sengaja telinganya menangkap suara besi beradu dan juga suara anak panah menancap. Apakah ada hubungannya dengan signal jammer yang kita alami disini. Karena peralatanku bukan merupakan sebuah peralatan yang ecek-ecek, bahkan standar dengan peralatan yang digunakan CIA dan FIB. Aku harus mencari tahu..." kembali Ravendra bergumam.


Tidak lama kemudian, laki-laki itu kemudian berdiri. Pandangan mata Ravendra diedarkan mengelilingi tempat tersebut. Indera penciuman dan penglihatan di tajamkan, tetapi tidak menemukan ada hal aneh dan mencurigakan di sekitar tempatnya berada.


"Aku akan meninggalkan mereka untuk beristirahat. Tidak akan ada binatang buas, yang berani datang ke tempat ini. Aku sudah meninggalkan bau manusia vampire di sekitar hutan ini. Sepertinya tidak akan ada masalah, jika aku meninggalkan mereka sebentar untuk melakukan penyelidikan." ucap Ravendra dalam hati.


Laki-laki itu kemudian menundukkan wajahnya sebentar, dan tidak lama kemudian kuku panjang, urat nadi biru mulai muncul di anggota tubuhnya. Mata jernih didominasi warna biru, kali ini berubah dengan didominasi warna merah. Setelah tersenyum smirk, laki-laki itu mengibaskan tangannya dengan membentuk sebuah lingkaran, seakan melindungi tempat ini dengan perlindungan yang dia miliki. Sesaat kemudian, tubuh Ravendra melompat dan menghilang di telan kegelapan malam.


*********


Sepeninggalan Ravendra dari tempat tersebut, di atas pohon terlihat beberapa sosok yang mengawasi mereka dari atas. Tatapan sosok itu pertama kali menembus kegelapan, dan melihat pada tubuh Alexa yang sedang tertidur pulas. Bukannya sosok itu tidak mempan dengan pelindung yang baru saja dibuat oleh Ravendra, tetapi beberapa sosok tersebut sudah ada di atas pohon sejak mereka datang. Mereka memang menunggu saat yang lengah, dimana Ravendra sudah tidak ada di tempat itu. Aroma vampire sangat tajam dari tubuh Ravendra, sehingga membuat beberapa sosok itu merasa takut untuk mendekati mereka.


"Apa yang harus kita lakukan, manusia vampire itu sudah pergi? Apakah kita akan menculik orang-orang itu, kita akan memulai dengan gadis yang ada di ayunan paling atas. Baru nanti tiga orang yang lainnya," salah satu dari mereka berbicara pada sosok yang lainnya.


"Bagus usulmu.., tetapi sepertinya mereka bukan orang jahat. Apakah tidak akan menjadi masalah bagi kita, jika kita membawa mereka pergi.." sosok yang lain memiliki keraguan.


"Kita tidak akan mengganggu orang-orang itu. Kita akan menunjukkan keberadaan kita di hutan ini, dan menyampaikan pesan pada mereka, agar kita tidak saling mengganggu."

__ADS_1


************


__ADS_2