Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Tamu di Hujan Badai


__ADS_3

Malam hari selepas menikmati makan malam, Alexa diminta Ravendra untuk kembali ke dalam kamar. Angin yang berbunyi memang sedikit menakutkan, sehingga menambah suasana seram di dalam hutan itu. Alexa merasa jika Ravendra terasa gelisah saat menemaninya, tetapi dia tidak berani untuk menanyakannya langsung pada laki-laki itu. Ditambah lagi, saluran koneksi internet terputus dikarenakan badai besar yang datang sehingga memutuskan jaringan ke hutan tersebut. Sebenarnya Ravendra memiliki pemancar pribadi di dalam mansion tersebut, tetapi untuk mencegah agar Alexa tidak mengabarkan keberadaannya di tempat tersebut,  laki-laki itu memerintahkan Pablo untuk memblokir akses Alexa.


"Aaaaauuuuuwwww...:" lolongan serigala terdengar menakutkan dari sekitar mansion. Alexa tiba-tiba merasa merinding ketakutan, gadis itu merapatkan tubuhnya pada laki-laki itu. Merasakan reaksi ketakutan gadis itu, Ravendra meletakkan tangannya di pundak Alexa dan memeluk gadis itu dengan erat.


"Siuuuuuwww..." suara angin menderu yang menandakan adanya vampire yang datang mendekat, menambah kengerian suasana malam itu.


Ravendra tiba-tiba melepaskan pelukannya, dengan rasa khawatir laki-laki itu memandang wajah Alexa. Tangannya mengusap lembut wajah gadis itu...,


"Kamu takut Lexa...?" tanya Ravendra lirih. Perlahan gadis itu menganggukkan kepalanya ke bawah.


"Kamu akan aman disini honey... Percayalah padaku..., tapi dengan satu syarat, jangan tinggalkan kamar ini." sahut Ravendra berusaha menenangkan Alexa. Gadis itu menatap mata Ravendra dengan tatapan puppy  eyes, sebenarnya laki-laki itu tidak tega untuk meninggalkannya. Tetapi kedatangan Robin dan Tami harus dia temui, jika tidak kedua vampire origin itu akan bisa membuat kekacauan. Beberapa saat mereka kembali berpelukan, dengan tangan Ravendra mengusap-usap punggung gadis itu.


"Alexa.., apakah aku akan meminta Martha untuk menemanimu di kamar ini?" tanya Ravendra tiba-tiba, dia melepaskan pelukannya.


"Maksud kak Ravend..., apakah kakak akan meninggalkan Alexa sendiri di kamar ini?" tidak memahami arah pertanyaan laki-laki itu, Alexa dengan polos bertanya padanya.


"Kakak ada urusan sebentar honey.., jadi tidak bisa membawamu untuk bersamaku. Tapi tidak akan lama, aku akan kembali datang menemanimu. Bagaimana.., apakah aku akan memanggil Matha untuk menemanimu?" kembali Ravendra mengulang pertanyaannya, sambil melihat dengan tatapan prihatin pada Alexa. Dia hanya berharap gelang yang ada di pergelangan tangan gadis itu dapat menunjukkan keajaibannya, sehingga Robin dan Tami tidak akan dapat mengenali Alexa sebagai darah murni manusia. Namun demikian, jika terpaksanya kedua vampire origin itu bisa mengenali Alexa, maka laki-laki itu tidak segan untuk menantangnya bertarung jika mereka memancing keributan.

__ADS_1


"Bagaimana honey...?" kembali pertanyaan dengan suara lirih terdengar di telinga Alexa. Gadis itu tersentak, tetapi kemudian menggelengkan kepala.


"Aku disini saja kak..., di kamar ini Alexa merasa hangat dan nyaman. Aku tidak akan keluar kemana-mana, tetapi pastikan televisi di kamar ini tetap nyala, sehingga aku merasa ada teman disini yang menemaniku." dengan tatapan sendu, Alexa meyakinkan Ravendra. Melihat gadisnya bersedia untuk ditinggalkan sendiri, senyuman merekah di bibir laki-laki itu. Ravendra menundukkan wajahnya, tidak lama bibir laki-laki itu sudah meraup manis bibir Alexa. Ciuman itu berlangsung untuk beberapa saat, sampai Alexa merasa terbang di atas awan.


"Tok.., tok..., tok..." tiba-tiba pintu kamar Alexander diketuk dari luar tiga kali. Ravendra segera melepaskan tautan bibirnya di bibir Alexa, laki-laki itu kemudian duduk di tepi ranjang.


"Kakak tinggal sebentar ya honey.." setelah melihat gadis itu menganggukkan kepala, Ravendra segera beranjak meninggalkan Alexa. Laki-laki itu segera keluar dan membuka pintu kamar.


"Bagaimana Pablo..., apakah kedua manusia itu sudah datang?" dengan suara tegang, Ravendra bertanya pada laki-laki tua itu.


"Sudah Tuan Muda..., saat ini Tuan Johan sedang mengajaknya bicara di meeting room biasanya." Pablo segera melaporkan kedatangan Robin dan Tami. Ravendra langsung berjalan mendahului laki-laki tua itu,  dan Pablo mengikutinya dari belakang.


**********


"Saudaraku Ravendra..., lama sudah kita tidak bertemu." tanpa berbasa-basi, Robin menghampiri Ravendra dan memeluk tubuh laki-laki itu. Demikian juga Tami yang ada di belakangnya, perempuan itu juga melakukan hal yang sama. Merasa tegang karena ada Alexa di mansion itu, sedikit membuat Ravendra menjadi kurang nyaman.


"Mari kita duduk kembali saudaraku.." dengan kaku, Ravendra merangkul mereka dengan kedua tangannya  dan mengajaknya kembali duduk. Johan menahan nafas, laki-laki itu memahami kekhawatiran yang dirasakan oleh Ravendra. Bukan tidak mungkin, jika kedua orang yang datang itu akan menyesap darah langsung dari tubuh Alexa, jika mereka tahu ada seorang manusia murni di dalam mansion itu. Kedua vampire itu sangat membenci manusia, karena ulah manusia kedua orang tua mereka habis dibakar oleh manusia murni. Sejak itu, jika ada kesempatan, mereka akan selalu membuat kekacauan dengan manusia murni.

__ADS_1


Tangan Tami menggelendot manja di pundak Ravendra, perempuan itu memang sudah sangat lama menaruh hati pada laki-laki itu. Tetapi Ravendra hanya menganggap perempuan yang berhasil mendekatinya sebagai cinta satu malam saja. Dengan Alexa, Johan menaruh harapan agar hubungan keduanya bisa berjalan lama.


"Lepaskan tanganmu dari pundakku Tami..., aku merasa gerah malam ini!" dengan cepat, Ravendra meminta gadis itu melepaskan tangannya.


Tami tidak menjawab permintaan Ravendra, malah lidah perempuan itu menjilat leher dan belakang Ravendra dengan penuh naf*su. Robin melihat interaksi mereka itu  sambil tersenyum. Laki-laki itu  sangat menginginkan Ravendra bisa menjadi pendamping adiknya, karena akan menguatkan aura turunan vampire original* dalam keluarganya. Meskipun dia juga tahu, jika Tami sering tidur dan berganti-ganti laki-laki di sampingnya.


"Aku akan memuaskanmu malam ini di ranjang Alex..." ucap Tami sambil memberikan kecupan di pipi Ravendra kemudian melepaskannya.


"Kamu tidak perlu melakukan hal itu padaku lagi Tami. Aku bisa melayani diriku sendiri dari kebutuhan akan se**ks, jangan pedulikan aku lagi." dengan halus, Ravendra menolak tawaran yang diberikan perempuan muda itu.


"Hentikan ocehan gilamu dulu Tami..., kita harus segera bicara!" tiba-tiba suara berat Robin mengingatkan adiknya Tami, dan perempuan itu segera menghentikan rayuannya pada Ravendra. Mereka dengan serius kemudian menempatkan mereka di kursi masing-masing.


Robin meminum darah segar langsung dari dalam gelas, dan tangannya meraih tissue untuk membersihkan tetesan darah yang menetes di sudut mulutnya.


"Ravend..., kapan kamu akan kembali ke Rumania..?? Dari laporan beberapa mata-mata kita, beberapa vampire slave dan vampire alter saling membalas dendam atas master mereka yang sudah tiada. Salah satu dari kita harus segera datang untuk menenangkan mereka Ravend..., jika tidak aku khawatir pertempuran di antara mereka akan menghancurkan koloni kita yang sudah semakin habis." ucap Robin memberi kabar. Ravendra tersenyum, dia diam tidak menanggapi perkataan tersebut. Setelah beberapa saat,...


"Robin..., Tami... Carilah teman-teman kita yang lain. Kali ini mohon maaf, aku belum bisa meninggalkan negara ini untuk sementara waktu. Aku baru menemukan ketenanganku, pergilah kamu Robin atau Tami, untuk mewakili vampire original ke negara itu." ucap Ravendra tiba-tiba.

__ADS_1


************


__ADS_2