
Nyonya Sarah dengan tidak percaya menatap nomor ponsel dan nama yang tertera di dalamnya.. Sedikit keraguan melintas dalam pikirannya, namun dia butuh melakukan sesuatu untuk meyakinkan keraguan tersebut. Dengan rasa penasaran dan juga rasa kangen yang sangat besar, perempuan itu menekan tombol panggilan masuk.
"Momm.. apakah mommy sudah melupakan papa.. " mendengar suara serak Tuan Thomas, mata Nyonya Sarah seperti melompat keluar.
"Papa.., apakah mama tidak salah dengar..." merasa khawatir apa yang didengarnya hanya halusinasi, Nyonya Sarah berbicara dengan suara lirih.
Ketidak adaan berita dan tidak muncul selama enam bulan, Nyonya Sarah meragukan suara yang terdengar di ujung telepon.
"Buka pintu kamar sayang, kamu akan terus merasa ragu jika tidak bertemu sendiri dengan papa." Perempuan itu semakin bingung dengan perkataan suaminya.
"Bukannya aku meninggalkan kastil tempat Ravendra di Rumania.. Apakah saat ini... kak Thomas mengira aku masih ada di kastil itu." Nyonya Sarah berpikir sendiri dan mengabarkan panggilan telpon suaminya yang masih dalam status panggilan.
"Tok... tok... tok..." ketika Nyonya Sarah masih bingung berpikir sendiri, pintu kamar diketuk dari luar. Panggilan telpon juga dimatikan oleh suaminya.
Perempuan itu dengan perasaan malas bergegas bangkit dari posisi duduk santai di atas ranjang, kemudian perlahan berjalan menuju pintu. Tanpa melihat ke arah pintu, Nyonya Sarah membuka pintu kamar. Begitu pintu terbuka, perempuan itu kaget. Tubuhnya tiba-tiba mendapat pelukan erat dan dibanjiri dengan ciuman.
"Sayang.. akhirnya kita bersama lagi. Aku masih tidak percaya akan dapat bertemu lagi dengannya setelah sekian lama." Thomas menengadahkan wajah Nyonya Sarah, kemudian mendekapnya lagi di dadanya.
Air mata mengalir di pipi perempuan itu, setelah berbulan-bulan lamanya akhirnya dipertemukan lagi dengan suaminya. Nyonya Sarah sampai tidak mampu berkata-kata. Belum habis keterkejutan perempuan paruh baya itu, Thomas mengangkat tubuh istrinya kemudian membawanya ke dalam kamar. Tanpa kata, Nyonya Sarah terus memandangi wajah laki-laki itu dan suaminya Thomas membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
Di atas ranjang, pasangan suami istri itu tanpa berkata apapun, mereka saling memandang. Mereka berusaha mengungkapkan isi hati mereka melalui tatapan mereka. Tangan Sarah terulur ke atas, dengan perlahan mengusap wajah suaminya yang tetap gagah dan tampan.
"apakah kamu merindukan papa.. sayang?" ucap Thomas sambil tersenyum.
"Aku sudah tidak mampu untuk berkata-kata apapun pa.., bahkan kali inipun aku takut semua hanya mimpi. Hanya halusinasi semu..." kembali Nyonya Sarah menangis terisak.
"Ini bukan mimpi sayang... ini aku Thomas. Putri kita juga sudah bersama suaminya Ravendra... kami selamat sayang. Setelah berbagai pengalaman buruk menimpa kami, akhirnya kami bisa membebaskan diri. Dan.. tidak menunggu hari lain, papa langsung terbang ke Batam untuk menemukanmu. Aku tidak mau lagi berpisahnya denganmu..." kedua bibir itu saling bertautan, mereka berusaha menumbuhkan kerinduan setelah lama berpisah.
Nyonya Sarah seakan enggan meninggalkan tubuh yang berada di atas tubuhnya itu. Belaian, rabaan dari Thomas seakan di nikmati dengan penuh perasaan. Kedua orang pasangan suami istri itu, tanpa ragu lagi saling berbagi. Setiap penelusuran pada jengkal tubuh sintal perempuan paruh baya itu, dihayati oleh Thomas. Mereka saling merengkuh, memagut, memeluk dan menyatukan tubuh mereka dengan pelan dan penuh penghayatan.
Dari luar kamar, Lili hanya tersenyum dan meninggalkan kamar majikannya. Dengan jelas perempuan itu bisa melihat dari luar kamar apa yang dilakukan pasangan suami istri itu, karena Thomas lupa tidak menutup pintu. Tetapi untuk menghargai privasi pasangan suami istri itu, Lili kembali ke dapur dengan membawa nampan berisi minuman hangat dan kudapan.
*******
Nyonya Sarah berjalan-jalan di tepi pantai untuk menghitung udara segar. Di sampingnya dengan setia selalu menggandeng tangannya dan enggan melepaskan, Tuan Thomas suaminya. Sesekali mereka berhenti mengambil batu karang atau kerang kecil yang ada di atas pasir putih, kemudian memasukkannya lagi ke dalam air laut.
"Bagaimana kehamilan putri kita pa.., mama terpaksa meninggalkan kalian karena sudah hampir enam bulan, tidak ada kabar berita. Menunggu disana hampir sama dengan berjalan di atas pisau tajam ." sambil menyandarkan kepala di bahu suaminya, Nyonya Sarah bertanya perlahan.
"Itulah keajaiban yang kami rasakan momm.. Kami merasa di dalam hutan dan goa, hanya sekitar menghabiskan waktu satu Minggu. Tetapi begitu sampai di kastil, para pengawal menyampaikan jika kami sudah hilang selama enam bulan. Perut Lexa yang masih terlihat datar ketika kami tersesat, ternyata jadi membuncit ketika sudah berada di kastil Ravendra." Thomas yang masih belum bisa menerima hal yang terjadi dengan akal sehatnya, masih heran dengan kejadian terakhir bersama putri dan menantunya.
__ADS_1
"Mungkinkah memang ada rahasia yang belum terkuak dari misteri yang kalian alami pa... Bagaimana dengan gulungan kertas yang tadi malam papa ceritakan? Apakah kalian belum ada satupun yang sudah melihat, kata-kata yang tertulis di dalamnya?" tiba-tiba Sarah teringat dengan gulungan kertas kuno yang sempat diceritakan suaminya tadi malam.
"Kami tidak ada yang tahu Momm... Karena gulungan itu terlempar, dan se sepertinya terambil oleh Andrew." Thomas menanggapi pertanyaan Sarah.
"Andrew... siapa dia? Kenapa Andrew bisa bersama dengan kalian di dalam hutan, dan juga tersebar di dalam." mendengar nama baru disebut suaminya, Sarah langsung menanyakan untuk mencari tahu.
"Andrew itu putra Nyonya Cathy.. yang pernah kita lihat ketika berkunjung di kediaman perempuan itu. Anak laki-laki itu juga tidak tahu rahasia yang disimpan oleh mamanya. Untungnya juga, anak muda itu berpihak pada kita, dan malah berusaha untuk menyadarkan perempuan itu." panjang lebar, sambil menikmati udara pagi, Thomas menceritakan pengalaman tersesat dan masuk ke dimensi lain bersama putri dan menantunya.
Nyonya Sarah terdiam, perempuan itu membayangkan pengalaman buruk yang dialami oleh putrinya. Perempuan itu tidak mampu dan tidak berani membayangkan, bagaimana tersiksa dan sengsara putrinya dengan kehamilan, harus bertahan hidup di tengah hutan.
"Momm .. apa yang kamu pikirkan? Semua sudah aman dan terkendali saat ini. Kita harus yakin dan percaya, tentang menantu kita Ravendra. Anak muda itu akan menjaga putri dan calon cucu kita dengan nyawanya. Percayalah.." Thomas kembali memeluk Sarah istrinya.
"Tuan Thomas.. mohon maaf! Bukan berarti saya mengganggu waktu Tuan dan Nyonya Sarah saat ini. Tetapi ada perempuan yang datang kemarin sore, dan sudah berbicara dengan Nyonya Sarah.. saat ini sedang menunggu di ruang tamu." tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara Lili yang sudah menyusul mereka di pantai.
Thomas mengerutkan dahinya, karena dia memang tidak memberi tahu kedatangannya kembali ke negara ini pada siapapun. Nyonya Sarah berubah menjadi jengkel, ketika mendengar ucapan Lili.
"Biar saja perempuan pengganggu itu menunggu Lili. Aku masih ingin menghabiskan waktu dengan suamiku." dengan nada tinggi, Nyonya Sarah menanggapi perkataan Lili.
"Baik Nyonya Sarah.. ijin Lili untuk kembali ke dalam rumah." Asisten Sarah langsung memahami ekspresi yang ditunjukkan oleh majikannya itu.
__ADS_1
*******