Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Hukuman


__ADS_3

Beberapa waktu, Ravendra ditinggalkan sendiri di dalam ruangan dalam keadaan terikat. Berada dalam ruangan tempat untuk mengurungnya, menekan semua kemampuan laki-laki itu sebagai manusia vampire. Harapan Ravendra untuk mengajak para rahib berbicara, ternyata hanya merupakan angan-angan belaka. Di luar prediksinya, jika ternyata Robin sudah berada lebih dulu di tempat tersebut. Kehadiran Robin di Transylvania untuk ikut mengusulkan Ravendra menjadi salah satu pemimpin vampire di tingkat dunia, menjadi daya dukung untuk Robin. Hal ini menjadi salah satu dasar penilaian para rahib untuk mempercayai perkataan yang disampaikan oleh Robin.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang..., tidak ada satu orangpun yang dapat aku mintai tolong di tempat ini?? Lengkungan besi telah menekan semua kekuatanku..." sambil melihat pergelangan tangannya, Ravendra berbicara pada dirinya sendiri. Laki-laki itu tidak akan menyangka jika apa yang dilakukannya, malah berakhir seperti ini.


"Alexa akan aman jika tetap berada di kastil itu, tetapi rasa ingin tahu perempuan itu yang begitu besar, itu yang paling aku khawatirkan. Semoga saja orang-orangku bisa menjinakkan Alexa, sehingga perempuan itu tidak kabur dari dalam kastil. Dimana Johan..., aku butuh anak itu saat ini. Dalam keadaan seperti ini, hanya anak muda itu yang paling bisa untuk aku andalkan." Ravendra terus berpikir sendiri. Kembali laki-laki itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, tetapi tidak ditemukan sebuah celah untuk melarikan diri dari tempat tersebut,


"Srettt...." tiba-tiba mata Ravendra menuju ke arah pintu penghubung. Pintu itu terlihat didorong orang dari belakang. Tidak lama kemudian, terlihat sebuah wajah yang menatap Ravendra dengan pandangan mengejek dan melecehkan. Merasa benci menatap wajah itu, Ravendra mengalihkan pandangan ke samping.


"Ha.., ha.., ha.., seorang Tuan Muda.. hanya karena keegoisan dan sebagai budak cinta dari seorang manusia biasa, kali ini sedang ketemu dengan batunya. Nikmatilah kesengsaraanmu Tuan Muda Ravendra.., tidak lama kemudian.., aku yakin perempuan penggoda bernama Alexa juga akan menemui nasib yang sama denganmu. Ha.., ha..., ha..." terlihat Robin datang mendekat ke tempat dimana Ravendra ditahan, laki-laki itu dengan tertawa terbahak-bahak mentertawakan nasib yang dialami Ravendra.


"Cuih..." merasa tidak bisa menggerakkan tangannya, Ravendra membalas perkataan Robin dengan meludahi wajah laki-laki itu.


"Kurang ajar... plak... Sudah tidak berdaya saja, kamu masih belagu..." sebuah tamparan keras diberikan oleh Robin ke rahang kanan Ravendra, Tatapan kedua mata laki-laki itu sangat berkilat dan tajam.


"Hanya besi seperti ini tidak akan mampu untuk melumpuhkan aku ba***jingan.. Lihatlah dirimu sendiri Robin..\, hanya karena dikuasai oleh naf**su kekuasaan\, naf**su setan..\, kamu telah berkhianat kepadaku. Dasar pecundang..." dengan tatapan sinis\, Ravendra berbicara pada laki-laki yang dengan pongah masih berada di depannya itu.

__ADS_1


"Aku sudah memberimu kesempatan Ravendra.., dan kamu telah memperlakukan adikku Tami sebagai seperti seorang pe**lacur. Semua hanya karena gara-gara perempuan laknat bernama Alexa..., kamu sudah menjadi berubah Ravendra. Apakah kamu berpikir, jika selamanya kami akan selalu tunduk di bawah kearogananmu.., di bawah kebucinanmu pada wanita yang tidak berharga seperti Alexa." Robin terus berbicara dengan nada melecehkan pada laki-laki itu.


"Ha..., ha..., ha..., dan itu menjadikanmu panas Robin... Aku akan menuntut balas atas perlakuanmu kepadaku hari ini Robin. Dan aku tidak akan membutuhkan bantuanmu untuk dapat melarikan diri dari tempat ini. Tidak akan... pecundang." dengan tertawa keras, Ravendra menanggapi laki-laki itu.


"Tertawalah jika kamu merasa masih bisa tertawa keras Ravendra. Aku beri penawaran kepadamu Tuan Muda..., tinggalkan Alexa.., kembalilah pada Tami, dan pimpin manusia vampire original di seluruh dunia. Maka aku akan memohon kepada para Rahib untuk membebaskanmu saat ini juga." Robin menyampaikan pemikirannya pada Ravendra.


"Tidak akan aku menelan kata-katamu Robin. Bagiku..., kamu sudah tidak memiliki arti apa-apa di depanku." dengan mata yang melotot tajam, tatapan Ravendra seakan menembus jantung Robin.


"Kamu sudah meremehkan aku Ravendra. Rasakanlah sebentar lagi..." Robin berjalan meninggalkan Ravendra, dan sebelum keluar dari dalam pintu, laki-laki itu menekan sebuah tombol yang ada di pintu, kemudian keluar meninggalkan ruangan itu,


"Aaaaaaw...." teriakan panjang keluar dari mulut Ravendra, ketika sebuah aliran listrik seperti mengalir dari lengkungan besi di pergelangan tangannya.


Di Kastil


Alexa terbangun, tetapi saat gadis itu menoleh ke sampingnya tidak melihat keberadaan Ravendra suami berada di sampingnya. Tangan kiri Alexa meraba tempat yang ada disamping tempatnya tidur, tetapi gadis itu tidak merasakan ada tanda-tanda kehangatan yang bersumber dari tubuh manusia. Sisi king size bed itu juga masih terlihat rapi, dengan tumpukan bantal yang tidak ada perubahan sama sekali.

__ADS_1


"Kemana kak Ravend.., apakah kak Ravend belum tidur sampai sekarang...?" Alexa bertanya pada dirinya sendiri. Perlahan gadis itu bangun dari posisi berbaringnya, kemudian beranjak meninggalkan tempat tidur, Gadis itu menuju bath room, untuk mengecek apakah suaminya ada di dalam. Tetapi setelah melihat ke dalam, juga ke ruang walk in closet.. Alexa tetap tidak dapat menemukan keberadaan Ravendra.


"Apa sedang merokok di balkon ya kak Ravend...?" tidak menemukan suaminya di bath room, Alexa melangkahkan kaki menuju balkon yang ada di luar kamarnya. Tetapi begitu pintu balkon terbuka lebar, gadis itu tetap tidak dapat menemukan keberadaan suaminya.


"Bukannya malam ini, kak Ravend berjanji akan mengajakku menuju Santorini. Apakah laki-laki itu meninggalkanku pergi sendiri ke tempat itu.." berbagai pertanyaan berkelebat di pikiran Alexa. Gadis itu berpikir untuk mencoba mencari Ravendra di luar kamarnya. Kastil ini memiliki luas bangunan sekitar 1000 meter, sehingga masih banyak tempat yang belum didatanginya untuk dapat menemukan suaminya.


Baru saja Alexa membuka pintu kamar, dua orang maid yang ternyata berjaga di luar kamar itu sejak tadi dengan terkantuk-kantuk berjalan menghampiri gadis itu.


"Apakah ada yang bisa kami bantu Nona Muda..?" salah satu dari maid tersebut, dengan sikap sempurna bertanya pada Alexa.


"Tidak perlu bersikap terlalu formal terhadapku, aku bukan seorang Nona Muda yang haus akan pelayanan dan penghormatan. Tegakkan badanmu ketika berbicara denganku..!" melihat sikap formal yang ditunjukkan kedua maid itu, Alexa meminta mereka untuk merubah sikapnya.


"Kami tidak berani Nona Muda.." dengan nada penuh ketakutan, kedua maid menolak perkataan itu.


"Ini perintah. Atau aku akan memberi kalian berdua hukuman, jika kalian masih bersikap itu kepadaku." suara tegas Alexa mengagetkan kedua maid itu, akhirnya setelah mereka saling berpandangan, kedua maid itu baru berani merubah posisi berdiri mereka.

__ADS_1


"Good Job... Sekarang apakah kalian melihat dimana keberadaan kak Ravend?" Alexa langsung menanyakan dimana keberadaan suaminya.


***********


__ADS_2