
Roof Top Hotel
Nyonya Sarah terkejut, sejak beberapa saat yang lalu perempuan itu tidak melihat keberadaan putrinya Alexa. Tetapi posisinya yang sedang mendampingi pengantin, sebagai wakil dari pihak Johan membuatnya tidak banyak memiliki waktu untuk mencari tahu. Tidak mau membuat keributan, mama Alexa itu menarik lengan suaminya, agar lebih mendekat kepadanya. Tuan Thomas melihat pada istrinya, dan melihat kecemasan terbayang pada wajah perempuan itu, Thomas mendekati istrinya.
"Ada apa ma..?" bisik Thomas, khawatir suaranya didengar oleh tamu yang lain.
"Pap.. apakah papa melihat keberadaan Alexa dan Ravendra. Sejak tadi mama mengedarkan pandangan ke sekeliling, belum tampak putri dan menantu kita sejak tadi." dengan cemas, Nyonya Sarah menanyakan keberadaan Alexa pada suaminya.
Tuan Thomas mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dari stage tempatnya berdiri, namun laki-laki itu juga tidak dapat melihat keberadaan Alexa maupun Ravendra. Mengingat kondisi putrinya yang sedang hamil dengan usia kehamilan mendekati hari perkiraan lahir, muncul kecemasan di wajah Thomas sama seperti yang dirasakan istrinya Nyonya Sarah.
"Tunggulah disini sebentar Mam.., papa akan mencarinya. Siapa tahu, melihat istrinya yang mengandung dan terlihat sangat berat, Ravendra mengajaknya istirahat. Papa akan mencari mereka berdua di kamar, secepatnya papa akan memberi tahu kabar pada mama." tanpa berpamitan pada kedua pengantin, Tuan Thomas segera turun dari stage. Laki-laki itu bergegas meninggalkan roof top dan turun satu lantai di bawahnya.
Johan mengerutkan keningnya, laki-laki itu merasa heran melihat perginya Tuan Thomas yang tampak tergesa-gesa dari tempat berlangsungnya pesta. Tetapi melihat keberadaan Nyonya Sarah yang masih berdiri di sampingnya, laki-laki itu menetralisir perasaannya. Namun sudut hatinya mengatakan jika ada sesuatu yang tidak beres terjadi saat itu.
"Sayang.. apakah kamu melihat keberadaan kak Ravendra dan kak Alexa..?" untuk memastikan penglihatannya, Johan berbisik pada Raveena. Mereka masih duduk di atas stage, dan dengan bebas bisa melihat suasana yang ada di roof top. Raveena menoleh melihat ke wajah suaminya, merasa aneh mendengar perkataan itu.
"Apa maksudnya kak..? Adakah sesuatu yang gawat, kenapa tiba-tiba kak Johan menanyakan keberadaan kak Ravend dan kak Lexa. Bukankah pasangan suami istri itu memang tidak bisa untuk dipahami oleh orang kebanyakan. Mereka sering melakukan tindakan yang terkadang tidak dapat diterima oleh akal sehat manusia." Raveena menanggapi pertanyaan Johan.
"Bukan itu maksudku sayang.. Sepertinya dalam minggu-minggu ini, hari perkiraan lahir bayi yang dikandung kak Lexa, sudah memasuki harinya. Tuan Thomas juga tiba-tiba saja pergi keluar meninggalkan tempat ini, dan tadi aku sempat melihat, Wajahnya seperti menahan rasa khawatir. Jangan. jangan.. kak Lexa..." Johan tidak meneruskan perkataannya, Laki-laki itu tidak mau membuat gempar suasana pesta. Karena masih terlihat orang-orang yang sedang menikmati makanan dan live music yang mendatangkan artis dari ibukota.
__ADS_1
Mendengar kata-kata Johan, tiba-tiba Raveena ikut merasa cemas. Perempuan itu menggenggam erat tangan suaminya, dan menatap laki-laki itu dengan tatapan kekhawatiran.
"Tenangkan pikiranmu.. aku akan mencoba bertanya pada Nyonya Sarah. Siapa tahu mama kak Lexa mau menceritakan apa yang sedang terjadi. Jika memang benar, kak Lexa dan Kak Ravend pergi keluar menuju rumah sakit, maka kita harus menghentikan pesta ini. Tidak mungkin, kita akan melewatkan bertemu dengan pangeran kecil keluarga ini." dengan penuh perhatian, Johan meyakinkan istrinya.
Raveena menganggukkan kepalanya, menyetujui inisiatif yang diusulkan oleh Johan. Melihat persetujuan dari Raveena, Johan memegang lengan kiri Nyonya Sarah, dan perempuan paruh baya itu menoleh ke arah laki-laki muda itu.
"Ada apa nak Johan.. ada yang ingin kamu tanyakan?" perempuan itu yang tidak bisa menyembunyikan kecemasan di wajahnya, bertanya pada laki-laki muda itu.
"Nyonya Sarah.. apakah Nyonya melihat keberadaan kak Lexa dan kak Ravendra. Sejak tadi kami berusaha menemukannya, tetapi tidak bisa mengetahui keberadaannya." Johan tidak berbasa-basi, laki-laki itu langsung bertanya pada perempuan paruh baya itu.
Nyonya Sarah itu tersenyum kecut, kemudian menggelengkan kepala.
"Baik Nyonya Sarah.. semoga tidak terjadi apapun pada mereka berdua.." ucap Johan.
*******
Tuan Thomas bergegas masuk ke dalam kamar yang ditempati Ravendra dan Alexa di satu lantai bawah roof top. Namun.. sampai semua kamar dan ruangan yang ada di lantai itu, dimasukinya, Thomas tidak menjumpai keberadaan putri dan menantunya. Kegusaran tiba-tiba menghampiri laki-laki itu, dengan cepat Thomas meraih ponselnya dan melakukan panggilan keluar pada nomor ponsel ALexa.
"Nomor yang anda hubungi sedang berada di luar jangkauan. Lakukan panggilan lagi untuk beberapa saat." terdengar panggilan petugas customer service.
__ADS_1
Merasa tidak mendapatkan respon, Thomas mengulangi panggilan sampai tiga kali, namun lagi-lagi jawaban yang sama didapatkannya. Thomas mencari nomor ponsel Ravendra, kemudian laki-laki itu melakukan panggilan kepada putra menantunya itu. Tetapi sama halnya dengan nomor ponsel ALexa, nomor Ravendra juga tidak bisa dihubungi.
"Apa maksudnya ini, kenapa kedua orang itu menyembunyikan keberadaannya. Kemana lagi aku harus mencari putri dan menantuku.." dengan nada cemas, Thomas berpikir sendiri.
Beberapa saat laki-laki itu dalam diam, tiba-tiba muncul idenya untuk melihat rekaman CCTV. Dengan sigap, Thomas segera melakukan panggilan pada security hotel dengan menggunakan saluran airphone yang ada di dalam ruangan Pent House. Dengan memanfaatkan fasilitas itu, tidak akan ada yang berani menolak perintah yang dikirimkan.
"Selamat malam tuan muda.. ada yang bisa kami bantu." sesuai dugaan Thomas, dengan cepat respon dari petugas security langsung memberikan feed back.
"Kirim rekaman CCTV malam ini ke layar monitor kamar di Pent House. Fokuskan ke roof top, Pent House dan lift khusus penghuni pent house." dengan cepat, Thomas memberikan perintah pada petugas security itu.
"Siap Tuan muda.. tunggulah beberapa saat. Segera akan kami koneksikan dengan layar monitor di ruang Pent House." petugas security langsung menyanggupi perintah yang diberikan Thomas, tanpa melakukan konfirmasi terlebih dulu siapa yang memberinya perintah.
Setelah mendapatkan kepastian akan dikirimkannya rekaman CCTV, Thomas segera kembali masuk ke dalam kamar dan duduk di depan monitor komputer yang stand by dalam keadaan ready to use di dalam ruangan tengah.
"Tring.. tring.." signal penerimaan message terdengar.
Thomas segera menekan tombol terima, dan tidak lama kemudian laki-laki itu mengamati dan menyortir rekaman video yang ada di depannya.
"Come on.. come on.." setelah mengetikkan tulisan Filter untuk melakukan pencarian dengan deteksi wajah Ravendra dan Alexa, dengan cepat komputer bekerja dengan sendirinya.
__ADS_1
************