
Tuan Abraham kaget ketika melihat rekaman CCTV yang dibawa anak buahnya ke hotel tempat dia menginap. Senyuman terbit dari bibirnya, mengetahui istri putranya Ravendra dengan perut buncit membawa tas jinjing dan menyerahkan pada istrinya. Tetapi Nancy istrinya belum tahu, jika perempuan hamil yang menolong adalah menantunya sendiri.
"Menantuku memang bukan perempuan sembarangan, Ravendra betul-betul bisa diandalkan untuk menemukan jodohnya sendiri." Tuan besar Abraham bergumam. Kebahagiaan menyelimuti laki-laki itu, karena tanpa ada unsur kesengajaan istrinya sudah dipertemukan dengan menantunya. Melihat ekspresi yang ditunjukkan Alexa ketika berhadapan dengan istrinya, menjadikan laki-laki itu tersenyum sendiri.
"Diperlakukan dengan judes oleh Alexa, untung saja tidak membuat Nancy marah. Mungkin kehamilan menantuku yang menjadikan muncul rasa simpati Nancy pada Alexa." kembali Abraham berpikir sendiri.
"Tut..., Tut.., Tut.." tiba-tiba ponsel tuan Abraham berdering. Kaki itu langsung melihat ke arah ponselnya, dan melihat jika istrinya Nancy yang memanggil.
"Hmmm... ada apa Momm... ini papa ada di roof top. Baru saja selesai dinner sama kolega.." dengan sabar, Abraham menanggapi panggilan dari istrinya.
Laki-laki itu sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Kebahagiaan melihatnya menantunya yang sedang hamil, sedang memberi pertolongan pada Nancy. Sedikitpun Abraham tidak membocorkannya apa yang diketahuinya itu pada istrinya. Abraham ingin, Nancy akan tahu sendiri dan mengagumi kehebatan Alexa.
"Bagaimana pesanan Mommy.. apakah papa sudah mendapatkan informasi tentang perempuan muda yang sedang hamil itu." tanpa bertanya hal lain, Nancy langsung ke pokok permasalahan.
"Iya... iya.. ini masih nunggu informasi yang baru dikumpulkan oleh para pengawal. Nanti malam, papa akan membawa Mommy langsung datang menemui perempuan muda itu. Sabar Momm.." Abraham mencoba menenangkan istrinya.
Karena jika saat ini juga, Ravendra mengatakan jika sudah mengetahui informasi Alexa, maka Nancy akan terus mendesaknya untuk mengantarkan ke tempat Ravendra.
"Really pap... Mommy senang sekali mendengarnya. Jadi hari ini sampai nanti malam .., Mommy tidak akan buat aktivitas apapun. Makanya papa jangan bohong dan ingkar janji nanti malam.." Nancy meninggalkan agar suaminya tidak berbohong kepadanya.
"Iya Momm.. Sudah ya.. papa masih di roof top sedang mengecek laporan semester awal dari perusahaan kita yang ada di Canada. Jika Mommy merasa sendiri di kamar, join kesini sama papa di roof top. Grill rib nya sangat enak, taste masuk.. tadi papa mencoba." Abraham mengalihkan pembicaraan.
"Malas pap... Mommy di kamar saja. Nanti bisa pesan via room service.." Nancy menolak ajakan suaminya.
"Okay jika begitu maumu.. Papa tutup ya panggilan telponnya." Abraham minta ijin untuk mengakhirinya panggilan.
__ADS_1
"Ya pap... jangan capai -capai. Serahkan sebagian urusan pada asisten pribadi. Bye..." Nancy segera mengakhiri panggilan telpon pada suaminya.
"Akhirnya papa berhasrat menemukan informasi keberadaan perempuan muda yang sedang hamil itu. Aku ingin banget mengusap perut dan menciumnya. Semoga perencanaan yang sudah menjadi istri putraku Ravendra... juga cepat mengalami kehamilannya." Nancy berbicara sendiri. Kebahagiaan nampak muncul di sinar matanya.
Perempuan itu kemudian berjalan dan naik ke atas ranjang, kemudian menyelonjorkan kakinya di atas ranjang tersebut.
"Aku akan istirahat dulu saja, sehingga nanti malam.. aku bisa tampil dengan lebih fresh karena tidak mengantuk." Nancy segera memejamkan mata, dan tidak lama kemudian perempuan paruh baya itu sudah masuk ke alam mimpi.
********
Ravendra mengangkat panggilan dari customer service hotel. Sebenarnya muncul rasa heran, karena laki-laki itu merasa tidak membuat janji pada siapapun. Dengan beraninya petugas hotel melakukan panggilan padanya, bisa dipastikan ada seseorang yang bisa mendesak petugas itu.
"Ada apa.. bukannya aku sudah pesan jika aku dan istriku tidak sembarang menerima panggilan. Untuk itulah kalian semua aku bayar..." dengan nada tinggi, Ravendra memarahi petugas custom service.
"Siapa nama orang yang berani menindasku?" dengan cepat Ravendra bertanya.
Laki-laki itu berpikir, tidak akan ada sembarang orang yang berani mengaku sebagai pemilik saham perusahaan. Karena memang saham hotel ini tidak ditawarkan di pasar modal. Kepemilikan terbesar ada di tangannya, dan peringkat kedua adalah papanya. Tiba-tiba muncul kecurigaan pada laki-laki itu.
"Tuan besar Abraham tuan muda... Ada juga seorang perempuan paruh baya datang bersamanya." dengan penuh rasa takut, petugas customer service memberi jawaban.
"Apakah kamu sudah menghubungi Tuan Johan di Pent house satunya. Atur dan minta laki-laki itu untuk handle semuanya. Saya sedang banyak urusan." mendengar jika papanya yang ternyata ada di bawah, Ravendra mengkhawatirkan kondisi Alexa.
"Baik tuan muda... segera kami akan lakukan panggilan pada Tua Johan. Terima kasih konfirmasi dan mohon dimaafkan atas kekeliruan kami.."
Ravendra langsung memotong perkataan customer service. Laki-laki itu menatap istrinya yang sedang melihat acara televisi. Merasa dilihati oleh suaminya, Alexa menoleh dan menatap balik pada Ravendra.
__ADS_1
"Kenapa kak Ravend... apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiran kakak?" Alexa bertanya pada suaminya.
"Bersiaplah honey.. kita harus segera pergi dan keluar dari hotel ini." Ravendra segera meminta istrinya untuk bersiap.
Alexa mengerutkan dahinya, ajakan tiba-tiba suaminya terasa aneh di telinganya.
"Maksud kakak.. apakah ada hal gawat hingga kita harus keluar dari hotel ini secepatnya. Alexa merasa nyaman disini kak, sudah malas untuk berpindah-pindah lagi." Alexa berusaha membatalkan niat suaminya.
"Honey... kalo ini genting. Jangan bantah aku sekali ini saja, semua untukmu dan putra kita kita." Ravendra berbicara dengan nada agak kurang senang.
Alexa berdiri, kemudahan berjalan mendekati suaminya yang masih menatapnya dengan perasaan khawatir.
"Kak... bukannya Lexa menolak ajakan kakak. Tapi apakah tidak boleh Lexa tahu, sebenarnya ada masalah apa. Semua bisa kita bicarakan, tidak perlu harus tergesa-gesa seperti ini. Katakan kak.. ada apa sebenarnya?" Alexa mendesak dan memegang lengan suamiku.
Ravendra memeluk Alexa, melihat istrinya seperti berat menahan perut, hati kaki itu menjadi lunak.
"Ada papa dan Mommy di lobby honey. Aku hanya khawatir saja, jika Mommy akan melakukan hal buruk pada hubungan kita. Aku tidak akan bisa membantah kata-kata mommy. Lebih memilih pergi dari sisinya.." ucap Ravendra, yang tanpa sadar menceritakan kondisi keluarganya.
Alexa melepaskan diri dari pelukan laki-laki itu, kemudian memegang kedua bahu Ravendra dan memandangnya.
"Kak Ravend... percayakan pada Lexa. Kita akan menemui dan menghadapi Mommy bersama-sama. Lexa ingin berkenalan dengan Mommy kita.." Alexa berusaha meyakinkan suaminya.
Ravendra menatap tajam pada Alexa, dan perempuan muda yang sedang mengandung itu tersenyum dan menganggukkan kepala.
*******
__ADS_1