
Robin menatap tajam mata Ravendra, laki-laki itu tiba-tiba mencurigai jika Ravendra menyembunyikan sesuatu. Biasanya jika ada kabar genting yang menyangkut keberadaan keluarga vampire mereka, Ravendra akan menjadi yang pertama menawarkan dirinya untuk mengatasi hal itu. Tetapi kali ini, Ravendra menunjukkan sikap yang bertolak belakang. Robin dan Tami melihat sepertinya ada yang disembunyikan oleh laki-laki itu.
"Mungkin maksud Tuan Muda Ravend begini Tuan Robin dan Nona Muda Tami. Saat ini, perusahaan Andromega yang sedang dirintis Tuan Muda beberapa tahun belakangan, membutuhkan kehadiran Tuan Muda untuk mengembangkannya. Dan perusahaan ini syukurnya sudah bisa menguasai lebih tiga puluh persen pasar di negara ini. Sehingga Tuan Muda tidak lagi bisa sewaktu-waktu meninggalkannya tanpa persiapan." Johan menetralisir suasana, dia berusaha meyakinkan kedua manusia vampire itu.
"Benarkah Johan, atau bukan alibimu untuk menutupi sesuatu dari kami berdua?" ucap Robin dengan tatapan penuh selidik. Johan menganggukkan kepala, tetapi Ravendra hanya diam seperti tidak tertarik untuk menanggapinya.
Robin melihat pada Tami, dan perempuan yang ternyata juga bisa serius itu tersenyum kecut.
"Okaylah kak Robin. Jika memang Ravendra masih memiliki banyak kesibukan, kita harus menghubungi Sylvester di negara Singapura. Laki-laki itu sudah memiliki keluarga dan juga seorang putra di negara itu, aku harap dia bisa meluangkan waktunya untuk berangkat ke Rumania." Tami akhirnya mengusulkan sebuah pemikiran baru. Johan mengambil nafas lega, dia betul-betul khawatir jika kedua manusia vampire di depannya mengetahui alasan Ravendra menolak permintaan dari mereka itu.
"Yah begitu juga lebih bagus Tam.. Oh ya Ravend.., by the way apa pemikiranmu untuk menjadi pemimpin baru kasta vampire original di koloni kita?" tiba-tiba Robin mengalihkan topik yang lain.
"Robin..., seribu kali kamu mempertanyakan hal itu padaku, aku akan selalu menjawabnya "NO". Aku sudah bosan menjalani kehidupan sebagai manusia vampire, bahkan jika kamu tahu jika tidak dalam keadaan terpaksa, aku sudah jarang mengkonsumsi darah segar manusia." dengan tegas, Ravendra menjawab pertanyaan yang diajukan Robin.
"Meskipun aku tidak tahu alasan apa yang mendasari kamu mengambil keputusan itu Ravend..., tetapi keputusan koloni kita sudah bulat. Dari koordinasi terakhir, kamu selalu menjadi pilihan orang-orang kita untuk memimpin kelompok kita." Robin tetap memaksakan kehendaknya. Semua yang ada di ruangan itu terdiam, wajah Ravendra menjadi merah menahan gejolak emosinya.
Tiba-tiba Martha masuk ke meeting room, dan semua tatapan beralih ke perempuan tua itu. Sambil tersenyum arif, Martha berjalan mendatangi mereka.
__ADS_1
"Bibi sudah menyiapkan makanan di meja makan. Ayuk keburu dingin, Tuan Muda dan Nona Muda segera mencicipi masakan bibi. Untuk mengobati rasa kangen pada makanan Rumania." dengan senyum khasnya, Martha mengajak mereka untuk mencicipi masakannya.
"Benar Bibi Martha..., perut Johan juga sudah terlihat lapar. Ayo Tuan Muda, Tuan Robin.., Tuan Tami.., kita segera mengisi perut kita dulu, agar lebih enak kita berbicara." Johan kemudian berdiri, dan memimpin mereka menuju meja makan. Melihat asisten pribadi Ravendra sudah keluar dari meeting room, Robin menatap Tami.., kemudian mereka juga berdiri dan mengikuti Johan.
Ravendra berjalan paling akhir sendiri, dan saat melewati kamarnya, laki-laki itu berhenti sejenak dan melihat ke pintu kamarnya.
"Semoga Alexa baik-baik saja di dalam kamar sana.." laki-laki itu membatin sendiri, kemudian segera berjalan meninggalkan kamar itu dan mengikuti rekan-rekannya menuju meja makan.
"Woww... Bibi Martha ternyata memahami kesukaanku. Tami betul-betul kangen masakan ini... Polenta dan Stuffed Cabbage Rolls. Terima kasih Bibi..." mata Tami berbinar melihat dua hidangan makanan khas dari negara Rumania yang tersaji di atas meja makan Ravendra. Robin menatap Ravendra kemudian tersenyum melihat gadis itu melupakan table manner, karena tidak sabar langsung mengambil hidangan itu dan memakannya.
********
"Kak Ravend... gelap. Ravendra takut..." terdengar jeritan dari dalam kamar Ravendra. Robin dan Tami saling berpandangan, kemudian tangan Robin menahan pundak Ravendra agar tidak meninggalkannya.
"Suara siapa itu Ravend.., ceritakan!! Apakah kamu menyembunyikan manusia murni di mansion ini?" dengan nada tinggi, Robin berseru pada Ravendra.
Mengingat keadaan gadis itu, dan dia telah mengunci kamarnya, Ravendra memegang tangan Robin kemudian menghempaskannya. Laki-laki itu langsung berlari menuju kamarnya sendiri, dan segera membuka pintunya.
__ADS_1
"Honey.., honey..., are you okay..?" Ravendra memanggil Alexa dengan panggilan cemas. Matanya melihat Alexa yang tampak ketakutan mendekap kedua lututnya di atas ranjang. Laki-laki itu segera menghampiri dan memeluk tubuh Alexa dengan erat.
"Tenanglah honey..., ada aku disini. Aku tidak akan meninggalkanmu sayang.." Ravend mencium pucuk kepala gadis itu, dengan tangannya mengusap-usap punggung gadis itu. Bahkan laki-laki itu terlupakan jika ada dua manusia vampire lain juga berada di mansion ini.
Robin dan Tami menatap pemandangan di kamar Ravendra dengan mata merah tajam. Melihat hal itu, dan teringat jika tadi Tuan Muda Ravendra sepertinya sudah memberinya gelang, untuk menekan aroma manusia di tubuh gadis itu, Johan mencoba untuk menenangkan Robin.
"Tuan Robin..., Nona Tami.., tidak baik kita masuk di kamar pribadi Tuan Muda. Kita harus ingat, jika Tuan Muda tidak menyukai jika orang-orang menyentuh barang-barang pribadinya. Ayo kita segera meninggalkan kamar ini." untuk mencegah terjadi hal yang tidak diinginkan, Johan mengajak Robin dan Tami keluar dari dalam kamar itu.
Tami menajamkan indera penciumannya, gadis itu seperti menemukan hawa asli manusia murni, tetapi kemudian hilang. Aroma itu muncul dan hilang berkali-kali, sampai gadis muda itu mengendus-endus untuk meyakinkannya.
"Siapa gadis itu Johan, dan kenapa bisa berada di dalam kamar privat Ravendra?" tanya Robin dengan nada tidak suka.
Demikian juga dengan Tami, berkali-kali gadis itu mengajak Ravendra untuk masuk di kamarnya. Tetapi laki-laki itu tidak pernah mengijinkannya. Bahkan berkali-kali mereka melakukan percintaan semalam, tetapi mereka melakukannya di ruang tamu. Itupun karena dia yang menginginkannya dan memaksa Ravendra untuk mencumbuinya. Bukan karena keinginan laki-laki itu sendiri, dan diapun menyepakati one night stands antara dia dan Ravendra. Kali ini, dia melihat dengan matanya sendiri ternyata ada seorang gadis yang terlihat polos dan sangat cantik, berada di dalam kamar laki-laki itu, hati Tami terasa sakit. Namun kali ini, dia tidak memiliki kemampuan untuk melarang laki-laki itu, karena memang tidak pernah ada komitmen di antara mereka.
"Jawab Johan.., siapa dia?? Manusia dengan darah murni.., vampire alter, atau vampire slave?? Atau jangan-jangan gadis itu malah vampire outcast?" semua jenis vampire disebut Robin. Mereka kemudian berjalan meninggalkan kamar itu, dan segera menuju ruang tamu.
*************
__ADS_1