
Setelah beberapa saat Ravendra dan Johan terbang mengikuti kawanan burung, mereka melihat sebuah sungai mengalir di bawahnya. Dari atas pepohonan, sungai itu terlihat mengalirkan air yang sangat bening, dan sangat menarik untuk disinggahi. Merasa mendapatkan sebuah petunjuk, Ravendra mengajak Johan untuk turun ke arah sungai. Karena biasanya orang yang tersesat di hutan, mereka akan mencari tempat yang dekat dengan sumber air minum. Ravendra berpikir, siapa tahu Thomas dan Alexa juga mencari tempat berlindung di pinggiran sungai tersebut.
"Johan.. kurangi kecepatan terbangmu.. kita akan turun ke bawah sana, Apakah kamu melihat ada sumber air disana, tadi saat kita berada di pusaran pepohonan kita belum melihat ada sungai melintas di hutan ini. Semoga saja, jika memang Alexa dan Uncle Thomas tersesat, mereka akan mendatangi sumber air, sehingga kita akan lebih mudah untuk menemukan mereka." Ravendra mengajak Johan untuk terbang ke arah bawah.
"Siap Tuan muda.., saya saja yang di depan. Tuan muda mengikuti saya dari belakang, saya akan pastikan jika kita akan aman di sungai itu." dengan berteriak, Johan menanggapi ajakan Ravendra. Tanpa menunggu jawaban yang keluar dari mulut Ravendra, laki-laki itu segera meluncur ke bawah menuju ke sungai yang terlihat indah dari atas sana.
Beberapa saat kemudian, Johan sudah sampai di pinggiran sungai. Laki-laki itu berkeliling sebentar untuk memastikan keamanan di bawah, setelah melihat tidak ada apapun yang dianggap membahayakan mereka, laki-laki itu mengayunkan tangan ke atas memberi isyarat pada tuan mudanya agar segera turun ke bawah. Untungnya Ravendra hanya terdiam sambil mengamati sikap dan gerak gerik Johan dari atas. Melihat kode yang diberikan oleh asisten pribadinya itu, Ravendra segera meluncur ke bawah, dan menginjakkan kakinya disamping Johan berdiri,
"Apa yang kamu dapatkan Johan, apakah kamu menemukan ada petunjuk keberadaan istriku di tempat ini?" Ravendra langsung bertanya pada asisten pribadinya itu.
"Mmm... untuk sementara belum Tuan Muda. Tapi sebentar lagi, saya akan mencoba untuk mengelilingi tempat ini, karena melihat situasi di tempat ini, sepertinya sangat jarang manusia berada disini. Termasuk pula manusia vampire, sepertinya mereka juga tidak pernah berada di tempat ini." Johan melaporkan hasil penyelidikan pertama kalinya,
Ravendra terdiam, laki-laki itu mengedarkan pandangan mengelilingi tempat ini. Memang benar seperti yang diucapkan oleh Johan, tidak ada bekas orang menginjak tempat ini. Hal itu bisa dilihat dari tingginya semak belukar, dan tidak ada jalan setapak yang terbentuk karena terinjak kaki manusia. Tanda-tanda kemunculan istri dan papa mertuanya di tempat ini, juga sedikitpun tidak dirasakan oleh laki-laki itu.
"Kira-kira perempuan tua bernama Cathy tadi berbohong tidak Johan.. Tadi sepertinya perempuan itu menyebutnya goa, apakah ada goa di sekitar tempat ini?" Ravendra berusaha mengingat-ingat perkataan Cathy sewaktu mereka datang di rumah perempuan tua itu tadi.
__ADS_1
"Saya tadi kurang fokus mendengarkan ketika perempuan tua tadi berbicara tuan muda. Untuk membuktikan perkataan perempuan tua itu, mungkin sebaiknya kita menyusuri tempat ini tuan muda. Siapa tahu, sebenarnya perempuan tua itu tadi, mengetahui benang merah keterkaitan hilangnya nona muda dari hutan tempat mereka tinggal." Johan mengusulkan untuk melanjutkan penelusuran mereka.
"Benar juga idemu Johan. Aku setuju dengan pendapatmu kali ini. Ayo kita susuri bersama-sama, tidak perlu kita berpisah, kita bisa saling menjaga." dengan cepat, Ravendra menyetujui usulan Johan. Kedua laki-laki itu segera berjalan beriringan, menerobos semak belukar yang menghalangi mereka.
*********
Thomas dan Alexa merasa kecapaian setelah menelusuri tempat itu, dan sedikitpun belum menemukan pertanda apapun. Karena baru hamil trimester pertama, Alexa tiba-tiba merasa perutnya sangat lapar. Padahal sedikitpun mereka tidak membawa bekal, sampai mereka tersesat di goa ini. Thomas merasa ada sesuatu yang ditutupi oleh putrinya, laki-laki itu menghentikan langkah kemudian menoleh pada Alexa.
"Kamu sakit Lexa.. mukamu terlihat pucat. Kita istirahat dulu, duduklah di tempat yang kering di sebelah sana." melihat wajah putrinya, laki-laki itu mengajak Alexa untuk istirahat.
"Duduklah disini dulu, dan istirahatlah. Tunggulah sebentar, papa akan mencari makanan untuk mengisi perut kita. Jangan kemana-mana, kita tidak tahu medan tempat ini. Kali ini.. menurutlah pada papa." Thomas mewanti-wanti putrinya untuk tidak bergeser meninggalkan tempat itu.
"Iya pa.. jangan khawatir. Alexa mau menidurkan kepala sebentar, untuk mengurangi rasa capai sambil menunggu makanan datang." Alexa meyakinkan papanya,
Thomas kembali melihat ke wajah Alexa sekali lagi, dan setelah meyakinkan jika putrinya akan aman di tempat itu, laki-laki itu berani meninggalkan Alexa sendirian di dalam goa.
__ADS_1
Sepeninggalan Thomas dari dalam goa itu, Alexa tersenyum dan mengedarkan kembali pandanganya berkeliling ruangan tersebut. Gadis itu heran, karena meskipun goa itu banyak terdapat air di dalamnya, dan terlihat sedikit lembab, namun Alexa sedikitpun tidak merasa kedinginan. Malahan gadis itu merasa mendapatkan kehangatan seperti dipeluk oleh mamanya,
"Tubuhku terasa hangat, meskipun goa ini terasa dingin dan lembab. Apa karena pengaruh batu-batuan ini ya, yang menjadikan tempat ini seperti berada di depan tungku bakar." Alexa berbicara sendiri. Mata gadis itu kembali mengamati sinar kemilau batu-batuan permata yang ada di sekitarnya. Tiba-tiba Alexa kembali teringat mimpinya ketika dia tertidur sebentar tadi.
"Apakah pesan yang disampaikan kakek tadi hanya sekedar mimpi di siang bolong yang tidak ada artinya ya. Karena jika, omongan yang disampaikan kakek itu benar, kenapa aku tidak melihat jika ada loker batu di tempat ini. Hanya dinding batu di atas tadi memang ada sedikit keanehan sih. Atau nanti setelah kami mengisi perut, Alexa dan papa akan mencarinya lagi." kembali Alexa berbicara sendiri. Kembali matanya menatap tempat yang sepertinya memiliki ruangan kosong di balik dinding tersebut,
Tiba-tiba rasa perih kembali datang mengganggu perut Alexa, dan gadis itu mengusap perutnya perlahan. Gadis itu menjadi teringat jika saat ini dia sedang mengandung janin Ravendra di perutnya.
"Maafkan mama ya nak.. mama jadi melupakanmu. Tenang dan sabarlah sebentar.. grandpa sedang mencari makanan untuk kita." Alexa berbicara pada perutnya dengan beberapa kali mengusap-usap perutnya naik turun.
Tidak lama kemudian, dari mulut goa terlihat Thomas datang dengan menenteng barang-barang di kedua tangannya. Laki-laki itu meletakkan barang bawaannya di depan Alexa duduk. Buah-buahan dan dua ekor burung yang sudah disembelih dan dibersihkan bulu-bulunya, diletakkan Thomas.
"Papa akan membuat burung bakar Lexa.. tapi tidak ada bumbu untuk perasanya. Kita akan lumuri daging yang sudah kita bersihkan dengan buah jeruk yang papa temukan ini, agar hilang bau amisnya." ucap Thomas.
*******
__ADS_1