
Setelah meninggalkan Alexa sendiri di kamarnya, Ravendra segera bergegas keluar. Tanpa sepengetahuan gadis itu, Ravendra mengunci kamar itu dari luar dengan menggunakan kode angka untuk mencegah gadis itu mencarinya. Setelah memastikan kamar itu terkunci, Ravendra segera masuk ke lantai under ground. Cahaya temaram tampak menerangi tangga untuk menuju lantai bawah. Sesampainya disana, Johan dan Pablo sudah menunggunya disana.
Terlihat Johan sedang meminum cairan darah merah dari gelas yang dipegangnya. Mereka memang manusia vampire, tetapi mereka pantang untuk meminum darah dari tubuh manusia secara langsung. Mereka berlangganan dengan sebuah rumah sakit untuk memasok kebutuhan darah bagi mereka. Jika darah yang mereka butuhkan tidak ada, maka mereka akan memburu binatang dan mengambil darahnya. Untungnya Ravendra seorang vampire origin, yang dilahirkan dari seorang ayah dan seorang ibunda yang betul-betul murni dari Rumania. Sehingga mereka juga bisa mengkonsumsi makanan dan minuman layaknya manusia, hanya saja untuk kebutuhan nutrisi mereka harus tetap mengkonsumsi darah.
"Apa ada hal penting yang ingin kamu sampaikan padaku Pablo?" Ravendra tiba-tiba bertanya pada Pablo, sambil menyuntikkan lengannya dengan darah segar. Laki-laki itu ingin menjaga image dari gadis yang dicintainya, dia tidak menginginkan gadis itu merasa bau amis jika darah langsung dia minum.
"Tuan Muda.., sebelumnya saya mohon maaf jika saya lancang. Apakah Tuan Muda tidak keliru membawa Nona muda kemari? Sepertinya Nona muda itu sedikitpun tidak memiliki keturunan sebagai manusia vampire..." dengan hati-hati Pablo melakukan konfirmasi tentang keberadaan Alexa.
"Apa yang kamu bicarakan Pablo..? Sejak kapan kamu akan mencampuri urusanku. Perlu kalian ingat semua, gadis itu adalah pendampingku. Aku tidak mau berpikir tentang hal-hal nanti, saat ini aku hanya ingin bersama dengan gadis itu, aku sangat mencintainya." dengan nada sinis, Ravendra menjawab pertanyaan Pablo. Johan merasa kaget mendengar keterus terangan dari Ravendra. Dia tidak menyangka jika hubungan percintaan antara Tuan Muda dan Alexa, bisa terjadi secara cepat.
"Bukan begitu maksud saya Tuan Muda. Saya tidak akan pernah berani dan sedikitpun tidak terlintas akan mencampuri urusan Tuan Muda. Hanya saja Tuan Muda.., malam ini Robin dan Tami akan mampir kemari. Jika Nona Muda berada disini, saya khawatir kedua orang itu akan mengenali Nona muda sebagai manusia murni, sehingga mereka bisa membuat masalah." dengan penuh rasa takut, Pablo menjelaskan maksud dari perkataannya. Laki-laki tua itu menundukkan kepalanya.
''Tuan Muda.., dengarkan dulu penjelasan Pablo! Pablo bermaksud baik untuk melindungi Miss Alexa. Tetapi kita juga tidak bisa mengantarkannya pulang malam ini, dari berita hujan badai masih melingkupi daerah ini. Akan sangat membahayakannya jika kita paksa Miss Alexa untuk pulang saat ini." Johan membela Pablo, laki-laki itu turut menjelaskan pada Ravendra.
"Allexa akan tetap bersama disini malam ini. Besok pagi, kita baru bersama-sama akan kembali ke hotel. Aku memiliki cara untuk melindungi gadis itu dari penciuman Robin dan Tami." tetap dengan pendiriannya, Ravendra memaksakan keinginannya untuk melindungi Alexa disini. Pablo dan Johan terdiam, mereka bingung bagaimana akan menghadiri dua orang dari keturunan vampire yang mengunjungi mansion itu.
"Pablo..., carikan gelang atau cincin peninggalan papa dan mama dulu. Aku akan mengenakannya pada Alexa sekarang." tiba-tiba Ravendra memberi perintah pada Pablo. Johan mengerenyitkan dahinya, dia tidak memahami perintah Ravendra.
__ADS_1
Tanpa menunggu pengulangan perintah, Pablo segera membuka laci meja tua yang ada di ruang itu. Tidak lama kemudian, laki-laki tua itu membawa sebuah cepuk dari perak, dan menyerahkannya pada Ravendra.
"Ini Tuan Muda..., semua peninggalan Tuan dan Nyonya Besar ada di dalam cepuk ini. Tuan Muda bisa membawanya." ucap Pablo sambil menundukkan kepala. Ravendra menerima pemberian dari pengasuh pribadinya itu, kemudian membuka cepuk tersebut. Senyuman tiba-tiba merekah dari bibir laki-laki itu.
"Aku akan menggunakan barang-barang tinggalan mama untuk menyamarkan Alexa dari penciuman vampire yang lain." ucap Ravendra yang mengejutkan Johan. Laki-laki itu kemudian memasukkan cepuk perak ke dalam saku bajunya.
"Kabarkan kembali pada Tami dan Robin paman.., kita siap untuk menyambut kedatangannya malam ini. Aku akan kembali ke kamar, aku tidak mau membuat Alexa menungguku." ucap Ravendra, sambil melangkah pergi meninggalkan dua orang itu di dalam ruangan bawah tanah. Johan menghela nafas, kemudian menepuk punggung Pablo dan mengikuti Ravendra keluar dari dalam sana.
********
"Aaaw..." teriak kaget Alexa, karena tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.
"Ssssttt..., ini aku honey. Jangan kaget.." bisik pelan Ravendra di telinga gadis itu. Alexa menoleh ke belakang, kemudian melihat ke wajah laki-laki yang barusan hari ini membuat komitmen padanya.
"Film apa yang kamu lihat, kenapa kamu menjadi tegang seperti ini honey?" Ravendra pura-pura bertanya film apa yang ditonton oleh Alexa.
"Vampire kak.., seru." ucap Alexa, yang kembali mengarahkan pandangannya ke layar LED yang ada di depannya.
__ADS_1
"Vampire..? Apakah honey tidak takut melihat film tentang vampire?" tiba-tiba Ravendra berniat memancing keberanian gadis itu.
"Kan ada kak Ravend.. disini. Jadinya ga takut dong.., he.., he.. Tapi jika kak Ravend.. ga ada, belum tahu takut atau tidak." mendengar jawaban yang disampaikan gadis itu, Ravendra tersenyum kecut.
"Ya sudah.. selesaikan filmnya. Aku akan menemanimu disini honey.." ucap Ravendra sambil memberi kecupan di tengkuk gadis itu. Merinding bulu kuduk Alexa saat bibir dingin laki-laki itu menyentuh tengkuknya, gadis itu dengan cepat menjauhkan lehernya dari rengkuhan Ravendra. Melihat hal itu, Ravendra tersenyum dan meraih tubuh Alexa dan memeluknya dengan erat.
"Jangan menyingkir dariku honey..., kamu sudah menjadi candu bagiku." bisik laki-laki itu kembali di telinga gadis itu. Merasa tengkuk itu menjauh darinya, dengan cepat bibir Ravendra mendarat di leher Alexa, dan kembali gadis itu merasa gemetar, nafasnya menjadi semakin berat.
"Kak..., jangan seperti ini. Tidak boleh kak... akh..." rintihan kembali meluncur tanpa sadar dari bibir Alexa. Gadis itu kembali berusaha menjauhkan tubuhnya dari laki-laki itu. Ravendra tersenyum, kemudian dia memandang gadis itu dengan penuh cinta.
"Oh iya honey..., aku punya sesuatu untukmu. Pakailah.., dan jangan lepaskan terutama jika kamu berada di dekat orang-orangku!" Ravendra mengeluarkan cepuk perak, kemudian mengambil gelang dan memakaikannya di tangan Alexa. Seperti sebuah sihir keajaiban, gelang itu sangat pas dan terlihat cocok di tangan putih Alexa. Batu-batuan yang menghias di atasnya, terlihat lebih bersinar.
"Bagus sekali kak Ravend.., punya siapa gelang ini?" Alexa bertanya tentang pemilik gelang itu.
"Pemberian mama honey...., untuk gadis yang akan menjadi pendampingku." bisik lembut Ravendra di telinganya.
**********
__ADS_1