
Alexa dan Ravendra betul-betul menikmati kebersamaan dengan putra mereka Abhimana. Ternyata kekhawatiran Ravendra jika Abhimana rewel tidak terbukti. Anak itu meskipun masih sangat kecil, terlihat menikmati alam bersama dengan kedua orang tuanya. Matanya yang bening dan jernih selalu berbinar bahagia ketika melihat pemandangan yang baru, dan tidak ada tangisan yang terdengar sepanjang perjalanan.
"Ternyata Abhi betul-betul satu hobby dengan mamanya ini honey.. Lihatlah, tidak seperti usianya saat ini, pandangan mata Abhimana selalu mengerjap melihat keindahan alam, Persis seperti honey.." Ravendra mendudukkan Abhimana di pangkuannya.
"Siapa dulu ya Abhi.. putra mama kok ya.. Abhi... Abhi.. sayang..." terlihat Alexa mengajak putranya bercanda. Tawa renyah Abhimana memenuhi ruangan kapal pesiar yang berkeliling mengelilingi danau Luzern.
"Ha.. ha.. ha.. ternyata istriku pintar juga membuat Abhimana tertawa.." suara tawa Ravendra sampai keluar dari dalam kapal. Awak kapal dan para pengawal tersenyum, saling berpandangan mata. Sangat jarang selama mereka bekerja dengan Ravendra, dapat mendengar dan melihat suara tawa dari majikannya. Ternyata kali ini, merupakan sesuatu yang sangat membahagiakan, mereka tidak hanya melihat kebahagiaan di mata majikan mereka, tetapi seharian juga mendengar canda tawa keluarga kecil itu.
"Honey.. by the way.. tidak lama lagi Abhimana sudah bisa MPASI ya. Aku hanya berharap semoga tumbuh kembangnya tetap seperti ini, tidak terjadi obesitas pada Abhimana.. Aku kasiha, jika melihat honey harus menggendong ABhimana.." melihat tubuh putranya yang terlihat semakin berisi, Ravendra membayangkan tubuh kecil istrinya jika harus menggendong putranya.
"Kak Ravend saja yang terlalu khawatir.. Abhimana sangat kooperatif kak.. tahu tempat dimana harus minta gendong, dan saat mana bisa tidur atau bermain di stroller sendiri. Kita biarkan saja kak... ABhimana tumbuh dan berkembang sesuai fase-fase yang memang harus dilaluinya.." sambil mengusap pipi putranya yang semakin gembul,. Alexa menanggapi perkataan Ravendra.
"Mmmm benar juga katamu honey.." ucap Ravendra.
Laki-laki itu kemudian menyandarkan kepala istrinya di atas dadanya, dengan satu tangan memegangi ABhimana yang duduk dan didekap di pangkuannya. Betul-betul terlihat sebagai pasangan keluarga yang sangat harmonis sedang menikmati waktu healing. Mereka berada di atas kapal pesiar yang terus berkeliling di danau Luzern bersama dengan putra kecil mereka.
"Honey.. sepertinya hari sudah akan menjelang malam. Lihatlah kabut sudah mulai turun dan memenuhi pinggiran danau ini. Bagaimana jika kita menepi saja, dan meluncur untuk pulang ke rumah.." melihat kabut putih yang sudah mulai memenuhi tepian danau, Ravendra khawatir jika putranya akan merasakan kedinginan.
__ADS_1
"Okay no problem kak.. kita bilang awak kapal saja untuk membawa kita ke tepian.. Kita harus segera meninggalkan tempat ini.." Alexa segera menyetujui keinginan suaminya.
Ravendra mengambil selimut tebal, kemudian meletakkan ABhimana di pangkuan Alexa dan mulai menyelimuti putra mereka. Sebuah ciuman diberikan Ravendra di kening dan kedua pipi ABhimana, kemudian meninggalkan istri dan putranya. Laki-laki itu segera keluar dari kamar dan mendatangi awak kapal yang mengemudikan kapal pesiar.
"Bagaimana tuan muda.. apakah ada yang bisa kami lakukan.." melihat majikan mereka datang, seorang awak kapal segera menyambut kedatangan Ravendra.
"Putar balik arah kapal, bawa kami ke tepian. Lihatlah kabut tebal sudah semakin memenuhi daratan.. istriku khawatir jika kita terjebak di Luzern tidak bisa kembali." ucap tegas laki-laki itu.
"Baik tuan muda.. segera kapal ini kami tepikan. Sebenarnya tidak ada masalah meskipun kabut tebal itu turun tuan muda.. karena kapal pesiar ini sudah memiliki teknologi tertinggi.." nakhoda kapal menjelaskan untuk mengurangin rasa khawatir pada diri laki-laki di depannya itu.
"Apakah kalian pikir, kita akan menginap di dalam kapal ini. Tidakkah kalian berpikir bagaimana kami harus melewati jalan berkabut untuk dapat sampai ke kastil..' dengan nada tegas, Ravendra menegaskan.
Tanpa ada perdebatan lagi, nakhoda segera membawa kapal pesiar ke tepian danau. Ravendra kembali ke tempat ALexa dan Abhimana berada.
********
Tiba-tiba mobil jeep yang membawa Ravendra dan keluarganya untuk kembali ke kastil dari danau Luzern berhenti di tengah jalan. Sopir terlihat panik, karena tidak berani untuk melanjutkan perjalanan. Ravendra yang masih membuka matanya merasa terkejut, kemudian membuka matanya dan pandangannya menembus keluar dari dalam mobil. Tampak tebing yang berada di pinggir jalan yang akan mereka lewati longsor, dan beberapa pohon pinus roboh serta batangnya memenuhi jalanan di depan mereka.
__ADS_1
"Bagaimana tuan muda.. kita tidak bisa melanjutkan perjalanan. Sepertinya kita tidak bisa meneruskan perjalanan menuju ke arah kastil. Jalanan yang akan kita lewati sudah terblokir tuan muda.." nada bicara sopir terlihat panik. Namun untuk menyarankan mereka berhenti dan menginap di sekitar Luzern juga bukan merupakan sebuah ide yang bagus. Keberadaan penginapan di sekitar tempat itu, masih dalam kategori di bawah standar.
"Hentikan mobil, bawa semua pengawal dan awak mobil untuk balik ke tepian danau. Kalian bisa gunakan beberapa penginapan untuk menginap kalian." sopir kaget mendengar perkataan tuan mudanya, sedikitpun tidak ada rasa khawatir, apalagi rasa marah melihat apa yang terjadi di depan mereka saat ini.
"Maksud tuan muda.. kita semua akan menginap saja di tempat ini. Atau kita akan menunggu pengawal mengirim helikopter untuk membawa tuan muda, nona muda, dan tuan kecil keluar dari sekitar danau ini.." merasa bingung, sopir menegaskan rasa ingin tahunya.
"Tidak perlu kalian khawatir dengan kami, khawatirkan saja urusan kalian sendiri. Putar baliklah, dan tinggalkan kami bertiga disini." dengan tegas, Ravendra meminta driver untuk berputar balik.
Selesai berbicara, Ravendra segera membuka pintu mobil, kemudian menepuk bahu ALexa istrinya. Perempuan muda yang sedang tertidur sedikit tersentak, tapi melihat gelapnya tempat dimana mereka berada, sepertinya Alexa langsung memahami apa yang sedang terjadi.
"Apa yang akan kita lakukan kak.. akankah kita kembali ke sekitar danau Luzern?" sudah sering mengalami kejadian ekstrim dalam perjalanannya, tidak ada rasa khawatir maupun gugup dalam nada bicara Alexa.
Perempuan muda itu segera mengambil ABhimana, membungkus tubuh bayinya itu dengan selimutm kemudian keluar dari dalam mobil mengikuti suaminya. Ravendra langsung memeluk tubuh istrinya, dan memberi isyarat pada driver untuk segera menjalankan mobil mereka. terlihat keraguan di mata sopir..
"Segera pergi dari tempat ini kataku.. Sebentar lagi hujan juga akan turun, tidakkah kalian khawatir jika mobil kalian akan semakin banyak menghadapi rintangan.." dengan tegas, Ravendra kembali memerintah sopir mobil yang membawanya, juga mobil pengawal untuk putar balik.
"Baik Tuan muda.. nona muda.. tolong berhati-hatilah.." dengan penuh ketakutan, driver segera menjalankan perintah dari Ravendra. mereka segera memutar mobilnya, dan membawanya kembali ke tepian danau.
__ADS_1
*********