
Di depan laptop dalam ruangan tempat kerjanya, mata Thomas terbelalak. Untuk memastikan keamanan keluarganya, laki-laki ini memasang mengintegrasikan rekaman CCTV di rumah Nyonya Sarah dengan semua perangkat gadget miliknya. Ponsel, iPad maupun laptop tempat biasa laki-laki itu bekerja akan terkoneksi dengan rekaman CCTV tersebut. Di layar monitor yang ada di depannya, terlihat putrinya Alexa sedang berada di laboratorium istrinya.
"Alexa.. kamu sudah datang nak.. Ternyata keyakinanku tidak perlu membutuhkan waktu lama, kamu akhirnya datang dan langsung mencari mamamu.." Thomas mengusap pelan wajah Alexa yang terlihat jelas di depannya.
"Aku yakin.. kamu tidak akan bisa mengelabui dan mempermainkan mamamu. Istriku Sarah bukan seperti wanita kebanyakan, istriku sangat cerdas dan pintar.." keluar gumaman dari bibir Thomas, memuji istrinya sendiri dengan senyuman lebar di bibir laki-laki itu.
Tiba-tiba Thomas menutup dan melakukan shut down pada laptopnya, laki-laki itu kemudian berdiri. Dari arah pintu, tiba-tiba pintu ruang kerja laki-laki itu dibuka dari arah luar. Tampak Alicia dengan pakaian yang sangat seksi, masuk ke dalam ruang kerja laki-laki itu. Perempuan itu terkejut, ketika melihat Thomas sudah memasukkan laptop ke dalam tas kemudian mengangkatnya.
"Tuan Thomas mau kemana. Bukannya acara lunch dengan PT. Galaxy masih nanti pada pukul 12.30. Kenapa Tuan Thomas sudah bersiap untuk pergi dari sini?" Alicia merasa kebingungan. Perempuan itu berjalan menghampiri Thomas, kemudian berdiri di depan laki-laki itu.
Thomas menatap sebentar ke arah pakaian yang dikenakan perempuan itu, dan terlihat Alicia merasa senang mendapatkan tatapan seperti itu. Tapi tiba-tiba laki-laki itu mendorong tubuh Alicia ke samping, dan Thomas berjalan meninggalkan perempuan tersebut.
"Jangan pernah mengenakan pakaian menjijikkan itu lagi ketika di depanku!" ucap Thomas tidak diduga.
Mendengar perkataan laki-laki itu, Alicia mengerutkan dahinya tetapi kemudian perempuan itu malah tersenyum. Dia menyimpulkan jika laki-laki itu tergoda dengan melihatnya berpenampilan demikian. Tiba-tiba muncul keberanian pada diri Alicia untuk merayu Tuan Thomas.
"Kenapa Tuan Thomas.. apakah aku terlihat merangsang dengan pakaian ini. Jangan khawatir Tuan.. jika Tuan Thomas mau, dan mengajak ALicia. Kapanpun ALicia akan siap Tuan.." dengan tidak tahu malu, ALicia mengikuti Thomas dan memeluk laki-laki itu dari belakang.
Thomas kaget dengan keberanian dan kegeeran perempuan di belakangnya itu. Tanpa peringatan, tangan kanan Thomas menarik tubuh ALicia kemudian mendorong perempuan itu dengan keras ke samping.
__ADS_1
"Brakk.. aaaw.." Alicia menjerit kesakitan. Tubuh perempuan itu membentur sandaran sofa yang ada di dalam ruang kerja Thomas. Tatapan laki-laki itu dengan tajam menghujam kepadanya.
"Aku tidak akan segan untuk memecatmu dari perusahaan ini ALicia, jika kamu berani melakukan hal yang menjijikkan ini kepadaku." dengan nada tinggi, Thomas membuat kalimat peringatan pada perempuan yang ada di depannya itu.
Alicia menunduk ketakutan sambil mengusap punggungnya yang masih terasa sakit. Tanpa ada rasa kasihan sedikitpun, Thomas membuka pintu dan meninggalkan ALicia sendiri di dalam ruangan. Sepeninggal Thomas, perempuan itu meneteskan air mata, dan tidak ada keberanian untuk menahan laki-laki itu berjalan meninggalkannya. Padahal siang sampai sore, laki-laki itu memiliki jadwal padat untuk bertemu dengan relasi kerja...
"Aku harus mendapatkanmu Tuan Thomas.. entah apapun caranya. Aku akan menyingkirkan perempuan itu.." ALicia menggumam, dan menatap kebencian pada ingatannya akan wajah nyonya Sarah.
*********
Raveena tidak berkedip melihat kedekatan dan keakraban kakak iparnya dengan Nyonya Sarah. Tampak keirian muncul di mata gadis itu, seakan ingin merasakan hal yang tidak dapat dia peroleh dari Nancy.. mamanya. Raveena merasa jika mamanya Nancy.. hanya peduli dengan sosialita lingkungannya, bahkan sedikitpun tidak ada perhatian yang tercurah untuknya. Sejak kecil, Raveena hanya tumbuh kembang dengan didampingi pengasuh dan baby sitter, demikian pula dengan kakaknya Ravendra.
"Maaf ma.. Lexa terlupa mengenalkan Veena pada mama. Ini Raveena ma.. adik kandung kak Ravend putri Tuan Besar Abraham dan Nyonya Besar Nancy.. Sini Veena.. beri salam pada mama kakak.." Alexa mengenalkan identitas Raveena adik iparnya.
Raveena berjalan mendekati perempuan itu, kemudian mencium punggung tangan Nyonya Sarah.
"Tante.. saya Raveena adik kak Ravendra. Maaf.. tadi terlupa tidak mengenalkan diri Veena pada tante.." Raveena mengenalkan dirinya sendiri pada Nyonya Sarah.
"He.. he..he... untuk apa memanggilku dengan panggilan Tante.. sayang. Kamu adiknya Ravendra menantuku.. berarti kamu ini juga putriku sayang. Ganti panggilan Tante dengan mama sayang.. apakah kamu keberatan?" tidak diduga, ternyata Nyonya Sarah minta dipanggil mama.
__ADS_1
Raveena terkejut dengan penerimaan perempuan di depannya itu, matanya berbinar. Belum habis keterkejutannya, Nyonya Sarah memeluknya erat.
Raveena membalas pelukan erat itu, dan di dada perempuan itu, Raveena menyandarkan kepalanya. Gadis itu merasa hangat, dan seakan merindukan untuk mendapatkan pelukan seerat itu. Nyonya Sarah seakan tahu jika gadis ini sangat kesepian, dan perempuan ini membiarkan pelukan itu beberapa saat.
"Mama.. ke ruang tengah yukk. Lexa sudah capai berdiri dari tadi.." tiba-tiba Alexa mengajak Nyonya Sarah menuju ruang tengah.
"Okay... okay.. masak mama membiarkan kedua gadis mama kehausan dan kecapaian ya. Ayo kita ke ruang tengah, semoga Lili sudah membuatkan minuman teh panas untuk kita." akhirnya Nyonya Sarah melepaskan pelukan pada Raveena.
Perempuan paruh baya itu akhirnya berjalan, sambil merangkul kedua perempuan itu di kanan kirinya menuju ke pintu lift. Alexa mengikuti keinginan mamanya, akhirnya mereka turun ke lantai dua dengan melewati lift. Sesampainya di bawah, mata Nyonya Sarah membulat melihat bunga-bunga segar kesukaannya terangkai indah, menghiasi ruang tengah tersebut. Perempuan itu menengok ke arah Alexa..
"Iya ma.. tadi pengawal kak Ravend yang menyiapkannya untuk mama.." sahut ALexa menjawab isyarat pertanyaan dari Nyonya Sarah itu.
Nyonya Sarah mendekati bunga yang sudah ditempatkan di vas bunga besar oleh Lili, kemudian menciumnya sambil memejamkan matanya. Raveena dan ALexa tersenyum melihat reaksi perempuan paruh baya itu.
"Lexa juga membawa perhiasan dari batu-batu permata mam.. Kak Ravend yang banyak memilihnya untuk mama, karena waktu itu Lexa sedang pusing.." Alexa menunjuk sebuah kotak perhiasan yang ada di atas meja. Perempuan itu sangat tahu, jika mamanya memang pecinta semua asesoris dari batu-batuan alam. Banyak koleksinya terpajang di lemari dan meja kaca.
"Kalian memang putra putri mama yang paling tahu kesukaan mama." dengan mata berbinar, Nyonya Sarah membuka kotak perhiasan itu. Matanya mengerjap tidak mau berpindah tatapannya dari batu-batuan cantik di depannya itu.
********
__ADS_1