Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Pelarian


__ADS_3

Sarah menyiapkan nasi goreng untuk Thomas di atas meja makan. Meskipun banyak maid di kastil Ravendra, perempuan paruh baya itu memaksa untuk membuat nasi goreng sendiri. Perempuan itu khawatir, ada perbedaan rasa karena selera timur dan selera barat. Thomas tidak berkedip, sambil tersenyum melihat ke arah perempuan itu.


"Banyak sekali yang kamu siapkan pagi ini Mom..?" melihat di tempat nasi, banyak nasi goreng yang sudah disiapkan Sarah, Thomas mengambil suara sambil tersenyum.


"Iya.., sekalian nyiapkan untuk Alexa sekalian. Mommy yakin, gadis itu akan lebih menyukai nasi goreng ini, daripada menu yang disiapkan para maid disini." dengan nada santai, Sarah menanggapi perkataan Thomas.


"Hmm..., benar juga." ucap Thomas sambil mengambil gelas berisi air teh, kemudian meneguknya beberapa kali.


"Mama...." tiba-tiba dari pintu menuju dapur, terdengar teriakan Alexa. Melihat keberadaan Nyonya Sarah di meja makan, gadis itu langsung berlari dan menubruk perempuan paruh baya itu.


Nyonya Sarah meletakkan centong nasi, kemudian memeluk putrinya dengan erat. Kedua perempuan itu berpelukan dan tanpa sadar air mata haru mengalir dari sudut mata mereka.


"Ayo kita duduk dulu.., lihat papamu sudah dari tadi menunggunya kalian untuk sarapan." Nyonya Sarah mendudukkan Alexa ke kursi makan. Ravendra langsung berjalan dan duduk di samping istrinya. Thomas senyum-senyum melihat hal itu.


"Mamakah yang memasak nasi goreng ini?" melihat nasi goreng yang disajikan Nyonya Sarah di depannya, mata Alexa terlihat berbinar..


"Ehmm..., sedikitpun putri papa tidak menyapa keberadaan papa." tiba-tiba terdengar suara Thomas.


Alexa mengangkat wajahnya ke atas, dan menatap Thomas yang berada di depannya.


"Upsss..., selamat pagi papa..., terima kasih sudah membawa mama kesini. Betul-betul sebuah hadiah yang sangat berharga untuk Alexa.." dengan wajah cerah, Alexa mengucapkan terima kasih pada papanya.


Senyum lebar terlihat di bibir Thomas, laki-laki itu merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Ada istri yang setia mendampingi, seorang putri yang cantik dan juga menantu yang sekaligus masih keluarga dekatnya.


"Melihat putri papa tersenyum dan bahagia, dan istri papa selalu ada di samping papa, semua terasa indah. Papa harap kebahagiaan ini tidak akan cepat berlalu. Ayo.. kita segera nikmati masakan mama. Papa sudah menunggu sejak tadi." sudah tidak sabar melihat nasi goreng yang sudah tersaji, Thomas segera mengajak untuk makan bersama.

__ADS_1


Ravendra tersenyum melihat kelengkapan anggota keluarga istrinya, ada kehangatan yang mengalir di sudut hati laki-laki itu. Tanpa disadari, Alexa sudah meletakkan piring berisi nasi goreng di depannya.


"Kak Ravend makan nasi goreng ya.., nasi goreng bikinan mama... nomor Wahid di dunia. Chef manapun tidak ada yang bisa menyamai masakan mama. Kakak cobain ya.." sebuah sendok berisi nasi goreng dan potongan telur goreng, siap masuk ke mulut laki-laki itu.


Tanpa bicara, Ravendra langsung membuka mulutnya, dan suapan nasi itu masuk ke mulut laki-laki itu. Thomas melirik kedua laki-laki itu, kemudian melihat ke arah Sarah istrinya.


"Mom..., papa juga mau disuapi seperti Ravendra disuapi Alexa. Ayolah mom..." seperti anak kecil, Thomas memegang pundak Sarah, dan memajukan mulutnya mendekati istrinya.


"Sudah tua juga masih mau berlagak seperti anak muda..." tiba-tiba dengan nada sarkasme, terdengar celetukan Ravendra menanggapi perkataan yang diucap Thomas.


"Kak..." Alexa menarik tangan Ravendra agar laki-laki itu menghentikan sorotannya pada papanya.


*******


Begitu mendengar berita jatuhnya helikopter yang membawa Ravendra dan juga kakak laki-lakinya, Tami segera pergi melarikan diri dari Santorini. Gadis itu tidak mau mengambil resiko, tanpa berusaha untuk mencari tahu keberadaan kakaknya Robin, Tami memilih untuk pergi menyelamatkan diri.


"Good afternoon Miss... do you want to go to Romania?" ketika Tami sedang duduk di pojokan lounge room, seorang laki-laki muda memberi sapaan pada perempuan itu.


Tami mengangkat wajahnya ke atas, gadis itu lebih berhati-hati karena khawatir jika laki-laki yang menyapanya itu kenal dengan dirinya. Posisinya saat ini mengharuskannya untuk tidak begitu saja mempercayai orang asing. Tetapi melihat jika dia tidak pernah melihat laki-laki itu dalam lingkarannya, Tami mengangkat sudut bibirnya ke atas.


"Benar yang anda katakan, saya akan menuju ke Rumania. Kebetulan saya memiliki keluarga di negara itu." dengan sedikit menutup rahasia, Tami menjawab sapaan laki-laki itu.


"Hmmmm, jika begitu..., bolehkah saya duduk bergabung di meja sini. Kebetulan kita memiliki tujuan yang sama." laki-laki itu ternyata memiliki ketertarikan dengan Tami.


Tami diam sebentar, setelah mempertimbangkan sisi positif dan sisi negatif jika bergabung dengan laki-laki itu, akhirnya Tami mengijinkan laki-laki itu bergabung dengan dirinya.

__ADS_1


"Silakan..., lumayan kita bisa berbincang sambil menunggu boarding." laki-laki itu kemudian duduk di samping Tami.


Beberapa saat kemudian, laki-laki itu melambaikan tangan memanggil waiters di lounge tersebut. Dan seorang waiters laki-laki datang menghampiri laki-laki tersebut.


"Hot coffee no sugar...., sandwich tuna..." laki-laki itu menyampaikan pesanan pada waiters tersebut.


"Siap akan segera kami sajikan. Mohon untuk menunggu sebentar." waiters segera berjalan meninggalkan mereka.


Setelah waiters pergi, laki-laki itu kembali menatap wajah Tami yang sejak tadi terlihat seperti menyembunyikan wajahnya dari pandangan orang lain. Tetapi untuk menghindari kecurigaan dari laki-laki itu, meskipun agak menurunkan topinya, Tami berusaha juga menatap wajah laki-laki tersebut.


"Oh ya kenalkan saya Abel Andreas, call me Abel.." laki-laki itu mengulurkan tangan mengajak Tami berkenalan.


"Mmmm..., Tami Rebecca.. call Tami.


" dengan sedikit ragu Tami akhirnya juga memperkenalkan dirinya.


Kedua orang itu akhirnya terlibat dalam pembicaraan yang seru, dan rupanya Abel termasuk orang yang pandai dalam mengambil topik pembicaraan. Tami yang ingin menyamarkan kehidupannya dari manusia vampire untuk sementara waktu, memanfaatkan kebaikan laki-laki itu untuk membantu dirinya.


"Jadi.., kamu belum memiliki tujuan akan kemana setelah sampai di Rumania?" Abel bertanya pada Tami.


Perlahan Tami menganggukkan kepalanya, dan pura-pura malu menatap Abel.


"Sebenarnya aku ke Rumania, hanya untuk mengobati rasa kangenku pada negara ini. Kuliner negara itu selalu ingin aku cicipi kembali. Mungkin aku juga akan membutuhkan waktu untuk membersihkan rumah keluargaku, karena sudah lama rumah itu tidak berpenghuni. Mungkin sesampainya di Rumania, aku akan tinggal di dalam hotel." dengan muka yang terlihat sedih, Tami mencolok mengambil hati Abel.


Abel menatap Tami dengan tatapan kasihan, kemudian...

__ADS_1


"Ikutlah pulang denganku. Aku akan menemanimu keliling ke negara itu."


*******"


__ADS_2