
Pengawal memberhentikan mobil di depan pintu masuk kastil. Beberapa orang yang masih tersisa untuk mengamankan kastil berlari menyambung kedatangan mereka. Tanpa mengajak mereka untuk berbicara, Johan dan pengawal langsung memberondong mereka dengan tembakan. Setelah melihat orang-orang itu sudah pergi melarikan diri, Johan kembali masuk ke dalam mobil.
"Miss Alexa.., aku minta kerjasamanya. Kami akan masuk ke dalam kastil, dan kita tidak dapat memastikan bagaimana keamanan di dalam sana. Aku harap kamu tetap berada di dalam mobil ini, tidak keluar sedikitpun. Mobil ini sudah dilengkapi dengan fitur keamanan yang canggih, kamu akan aman disini." Johan meminta Alexa tidak mengikutinya ke dalam.
"Aku tidak bisa kak Johan . Saat ini kita tidak ada yang tahu bagaimana keadaan kak Ravend. Pengawal sibuk mengamankan lokasi, kak Johan akan sendirian menghadapi kemungkinan serangan dari dalam kastil. Tidak akan ada yang sempat untuk membawa pergi kak Ravend.." Alexa menolak pengaturan itu.
"Miss Alexa,..., listen to me..! Apakah kamu lupa jika kami adalah manusia vampire?? Kami memiliki insting bagaimana kami bisa bertahan hidup, kamu tidak perlu mengkhawatirkan kami." Johan tetap bersikeras menolak Alexa mengikutinya ke dalam.
"Kak Johan...,aku bukan orang bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan manusia vampire. Setelah aku memutuskan untuk bersama kak Ravend, aku telah mempelajari bagaimana kehidupan kalian. Setiap manusia vampire yang masuk dalam ruang penyekap dalam kastil Santorini, mereka akan kehilangan kekuatan mereka untuk bergabung saat. Baru setelah mereka dibawa keluar, kekuatan mereka akan pulih dengan sendirinya. Jangan berbohong padaku kak, aku akan tetap masuk ke dalam." Alexa tetap menekan Johan untuk membawanya.
"Hmm.. baiklah, segera bersiaplah. Hati-hati kamu menjaga dirimu..., fokusku akan terbagi-bagi di dalam. Aku tidak memiliki waktu untuk mengawasimu." akhirnya tidak dapat meyakinkan gadis itu, Johan memutuskan untuk membawa Alexa ikut bersamanya.
Akhirnya Alexa dan Johan berjalan mengikuti beberapa pengawal yang sudah berjalan di depan mereka. Baru saja beberapa saat mereka berjalan...
"Dor..., dor.." kembali suara tembakan terdengar dari senjata api yang dipegang Johan. Dua orang dari kubu lawan terlihat jatuh terkapar. Beberapa orang di antaranya lari bersembunyi dengan menyingkir dari tempat itu. Alexa terlihat pucat, tetapi tekadnya untuk mengetahui bagaimanakah keadaan suaminya, membuat Alexa berusaha untuk bertahan.
"Are you okay Miss...?" melihat keterkejutan yang dialami Alexa .., salah satu pengawal bertanya pada gadis itu.
"No matter, I.m okay .." dengan singkat Alexa mengkonfirmasi keadaan dirinya.
__ADS_1
Mereka kembali melanjutkan perjalanan masuk ke dalam kastil. Johan memimpin di depan, dengan pengalamannya mendampingi Ravendra dalam setiap situasi, insting laki-laki itu menjadi lebih tajam. Tetapi baru saja mereka sampai di depan pintu utama, tiba-tiba pintu besi turun menghadang mereka. Mereka saling berpandangan, dan pengawal segera maju ke depan untuk memeriksa pintu tersebut.
"Pintu besi ini memiliki ketebalan yang tidak bisa dihancurkan dengan menggunakan senjata biasa Tuan Johan." pengawal melaporkan keadaan pada Johan.
"Kita cari jalan alternatif lain terlebih dahulu, jika tidak kita ketemukan, satu-satunya jalan dengan menghancurkannya dengan senjata bazoka." sahut Johan dengan dingin.
"Tetapi jika kita gunakan senjata itu, kastil bisa hancur luluh lantak Tuan Johan. Kami akan berputar dulu untuk mencari jalan alternatif yang lain." salah satu pengawal menawarkan alternatif.
********
Johan meminta Alexa berdiri dekat dengan dirinya, untuk memastikan keselamatan istri dari Tuan Mudanya itu. Beberapa pengawal masih mengelilingi kastil, dan mereka masih menunggu informasi untuk dapat masuk ke dalam kastil tersebut. Alexa terdiam, pikirannya tidak bisa lari dari memikirkan keadaan yang dialami Ravendra di dalam kastil.
"Drttt..., drttt...," tiba-tiba terdengar panggilan masuk ke ponsel Johan.
"Miss Alexa bersiaplah, kita akan memanjat bangunan kastil ini untuk dapat naik ke atas. Semua akses masuk sudah ditutup, hanya tempat itu satu-satunya jalan keluar untuk kita." setelah mengakhiri panggilan telepon, Johan segera memberi tahu Alexa untuk bersiap.
"Aku siap kemanapun saat ini kak Johan, untuk kak Ravend aku akan ikut. Ayo kita berangkat." tanpa mengeluh, Alexa segera mengikutimu langkah Johan dan beberapa pengawal.
Sesampainya di samping kastil, pengawal yang sudah lebih dulu berada di atas melemparkan tangga darurat yang terbuat dari tali dari atas atap. Johan meminta Alexa untuk naik terlebih dahulu, dan laki-laki itu memastikan keselamatan gadis itu. Dengan cekatan, Alexa yang tidak asing dengan tangga itu segera naik dengan cepat ke atas. Baru kali ini gadis itu merasakan manfaat bergabung dengan mahasiswa pencinta alam saat masih duduk di bangku kuliah. Saat mereka terjebak di tebing, sering menggunakan tangga monyet seperti ini.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di atas kastil. Di atas sudah siap helikopter dengan mesin yang sedang menyala, siap untuk diterbangkan.
"Periksa helikopter itu, ada siapa di dalamnya?" Johan berteriak meminta pengawal untuk memeriksa helikopter tersebut. Tidak menunggu Johan mengulangi perkataan, pengawal segera berlari mendekat ke arah helikopter.
"Dor..., dor..." suara tembakan menghujani pengawal itu. Dengan sigap, pengawal segera mencari pelindung.
Tiba-tiba mata Alexa melihat Robin dan Mr. Slovasky berjalan dengan memegang orang yang ditutup wajahnya. Perempuan itu dapat mengenali postur tubuh dan pakaian yang dikenakan laki-laki itu yang tertutup wajahnya itu.
"Kak Ravend..." gumam Alexa. Tanpa berpikir, Alexa berlari mengejar ketiga orang tersebut.
"Berhenti..., kak Ravend..." Alexa berteriak. Melihat kemunculan Gadis itu dan ada Johan serta beberapa pengawal bersama mereka, Robin dan Slovasky mengangkat tubuh Ravendra kemudian membawanya meloncat ke dalam helikopter. Alexa terus berlari mengejar tanpa mempertimbangkan keselamatannya.
"Dor..,. dor..." Alexa terkejut, gadis itu menoleh ke sisi kanannya, dan dua orang laki-laki sudah terjungkal terkena tembakan yang dikirimkan Johan.
"Miss Alexa.., mundur saja. Aku yang akan mengejar helikopter itu.." Johan berteriak memberi peringatan pada gadis itu, laki-laki itu segera menyusul ke arah helikopter.
"Cepat terbangkan helikopternya...!" terdengar teriakan Robin meminta pilot segera menerbangkan helikopternya.
Perlahan bolang-baling helikopter berputar dan menimbulkan angin dan suara menderu yang memekakkan telinga. Alexa berhenti dan berjongkok di bawah sambil menutup kedua telinga dengan menggunakannya kedua jari tangannya.
__ADS_1
Tanpa disadari terlihat sebuah bayangan melompat ke arah helikopter terbang.
*******