
Ke empat orang itu akhirnya kembali memasuki goa. Mereka langsung menuju ke arah bebatuan yang sudah ditemukan Alexa dan Thomas lebih dulu. Di depan dinding batu, Thomas kembali mengusap dinding tersebut dan menepuknya beberapa kali.
"Dung.. dung.. dung.." suara kosong di balik dinding batu itu mulai terdengar. Kembali Thomas mengusap, dan mencari lobang untuk memasukkan anak kunci ke dalamnya.
"Di pojok bagian bawah pa.. sepertinya di bagian itu Alexa melihat ada celah kecil." dari bawah, Alexa memandu papanya. Thomas kembali mengamati tempat yang diinformasikan oleh putrinya, kemudian setelah melihatnya, perlahan laki-laki itu mulai memasukkan anak kunci ke dalamnya, dan mulai memutarnya perlahan.
"Bantu aku, sangat berat anak kunci ini diputar ke samping." Johan bergegas maju dan membantu Thomas memutar kunci. Seperti mendapat sebuah firasat, Ravendra mengekang senjata api dan bersiap-siap dari kemungkinan terburuk ketika dinding batu terbuka. Alexa berdiri di depan Ravendra, dan satu tangan laki-laki itu mendekap untuk berjaga-jaga akan keselamatan istrinya.
"Klek,, kreet.." terdengar anak kunci sudah mengenai pengait dinding, dan perlahan terlihat pintu di dinding batu mulai merenggang. Thomas dan Johan saling berpandangan, mereka tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Hati-hati Uncle... Johan.. kita tidak tahu ada apa di balik dinding batu tersebut." terdengar suara Ravendra berpesan pada kedua orang itu. Thomas mengangkat tangannya, menyetujui apa yang diucapkan oleh menantunya itu. Perlahan Thomas dan Johan mendorong dinding batu perlahan, danĀ tidak lama kemudian pintu mulai terbuka. Tetapi mata Thomas dan Johan terbelalak melihat apa yang mereka lihat di depannya,,
"Singkirkan tangan kalian.. dor.. dor.." Ravendra melepaskan tembakan dua kali, dan terlihat seekor ular besar menggelepar beberapa saat di depan mereka, Thomas dan Johan memegang jantung mereka yang tampak berdebar keras, mereka tidak menyangka akan ada penampakan ular besar di depan mereka. Untungnya Ravendra sudah merasakan ada yang tidak nyaman dalam perasaannya, sehingga laki-laki itu sudah bersiap dengan senjata di tangannya.
"Berhati-hatilah saat masuk ke dalam. Aku akan berada disini sambil menjaga Alexa. Kalian berdua, masuklah ke dalam." setelah mereka terdiam beberapa saat, ravendra membuat sebuah pengaturan. Thomas dan Johan mengambil nafas, kemudian perlahan mereka mulai memasuki ruang kosong di balik dinding tersebut. Johan menyingkirkan bangkai ular ke samping, dan setelah memastikan tidak ada sesuatu yang berbahaya di dalam ruangan tersebut, Johan kembali menengok keluar.
__ADS_1
"Tuan muda.. sudah kita pastikan tidak akan terjadi apa-apa disini. Masuklah.. semua sudah aman," Johan memanggil tuan muda Ravendra.
Dengan berhati-hati, Ravendra membimbing tangan ALexa, kemudian meminta istrinya untuk masuk terlebih dahulu. Johan membantu Alexa naik, kemudian Ravendra mengikuti di belakangnya, Sesampainya di dalam, ruangan itu terlihat kosong, tidak ada barang yang menarik untuk mereka lihat. Mereka saling berpandangan, kemudian..
"Apakah sudah ada orang yang masuk ke ruangan ini sebelumnya. Kemudian mereka mengambil barang-barang yang disampaikan pada Alexa lewat mimpinya." Thomas bertanya dengan suara pelan,
"Sepertinya tidak mungkin Uncle.. Mungkin memang tidak mudah untuk menemukan barang tersebut. Kita harus teliti lagi untuk mencarinya." Ravendra menanggapi perkataan papa mertuanya itu. Laki-laki itu menitipkan ALexa pada Thomas, kemudian Ravendra berjalan ke depan memeriksa ruangan itu.
Mata Ravendra terfokus pada satu dinding polos, yang terlihat memiliki warna berbeda dengan dinding yang lain. Laki-laki itu memberi isyarat pada Johan, agar laki-laki itu mendekat padanya. Tanpa berbicara, Johan mendekat sambil menyiapkan senjata di tangannya,
"Apakah kamu melihat keanehan pada dinding ini Johan.. sepertinya warna batuan ini sedikit berbeda dengan warna batuan yang lain. Amatilah dengan teliti." Ravendra meminta Johan untuk melakukan pengamatan pada dinding tersebut. Johan segera melakukankannya, kemudian..
"Dor.., dor... trang..." tidak diduga, peluru yang ditembakkan Johan ke arah dinding tersebut, terpental berbalik arah ke belakang. Dinding itu seperti tidak bisa ditembus dengan menggunakan peluru. Ravendra dan Johan saling berpandangan, sejenak kedua laki-laki muda itu merasa kebingungan,
"Apa yang terjadi kak.. kenapa pelurunya terpantul kembali?" Alexa berjalan mendekati Ravendra, tetapi laki-laki itu tidak memberikan ijin pada perempuan itu. Satu tangannya menahan agar ALexa tidak datang mendekat padanya.
__ADS_1
"Mundurlah honey... ini urusan laki-laki. Menjauhlah dari tempat ini, aku khawatir fokus dan konsentrasi kami malah akan terganggu dengan kedatanganmu ke tempat ini." terdengar suara Ravendra melarang istrinya. Dahi Alexa berkerut, hatinya terus membisikkan jika dia harus mendekat dan melakukan sesuatu untuk membuka dinding itu. Gadis itu tetap berada dalam posisinya, sedikitpun tidak ada gerakan untuk meninggalkan tempat itu.
Melihat keteguhan putrinya Alexa, Thomas berjalan mendatangi mereka. Laki-laki berdiri di samping Alexa.
"Ravendra.. ingatlah. Informasi keberadaan ruang ini, dan anak kunci yang Uncle dapatkan, semua disampaikan lewat putriku Alexa. Jadi.. menurut Uncle.,. tidak ada salahnya putriku mencoba untuk membuka dinding itu kembali." suara Thomas terdengar membela Alexa.
Ravendra menoleh ke belakang untuk melihat wajah papa mertuanya, dan juga melihat ke wajah ALexa. Gadis itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya, akhirnya Ravendra mengambil nafas panjang dan mengijinkan istrinya untuk mendekat ke arah dinding itu..
"Kemarilah honey.. aku akan menemanimu." akhirnya Ravendra memanggil istrinya. Alexa berjalan lebih mendekat ke arah dinding. Telapak tangan gadis itu kembali meraba ke permukaan dinding di depannya, dan seperti merasakan ada aliran seperti magnet yang bergetar di tangannya.
"Papa.. apakah papa masih menyimpan anak kunci untuk kita masuk ke ruangan ini tadi?" tiba-tiba gadis itu meminta anak kunci pada Thomas.
"Masih putriku.. ini terimalah.." Thomas menyerahkan anak kunci pada Alexa. Merasa jika telapak tangannya bereaksi, dan seperti ada medan magnet di dinding itu, gadis itu menempelkan anak kunci di permukaan dinding tersebut. Keajaiban terjadi di depan mata mereka. Anak kunci itu menempel pada permukaan dinding, dan sedikitpun tidak terlepas meskipun ALexa melepaskan pegangannya pada anak kunci tersebut.
Alexa terus melakukan pengamatan pada anak kunci tersebut, dan tiba-tiba setelah beberapa saat anak kunci menempel di dinding tersebut, muncul retakan-retakan seukuran helai rambut manusia. Retakan-retakan itu semakin melebar, dan tidak lama kemudian muncul sebuah laci sama persis dengan yang digambarkan dalam mimpi gadis itu.
__ADS_1
"Ternyata mimpi itu jadi kenyataan Lexa.. kamu benar-benar yang dipilih oleh leluhur manusia vampire untuk menyelesaikan misi perdamaian di antara kami kaum vampire. Terimalah takdirmu Lexa..." dengan mata berkaca-kaca, Thomas menyemangati Alexa.
*******