Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa

Cinta Tulus Dan Pengorbanan Alexa
Altar Ibadah


__ADS_3

Ravendra menatap wajah Uncle Thomas dengan tatapan kebingungan.. Jika apa yang dikatakan laki-laki itu benar adanya, sampai kapanpun dia sebagai suaminya tidak akan pernah mengijinkannya. Alexa hanya miliknya, tidak akan menjadi siapapun selain menjadi istri dan ibu dari anak-anak Ravendra.


"Uncle.. apa maksud ucapan Uncle. Alexa is mine..., tidak akan ada yang bisa mengambilnya dariku. Siapapun yang akan menjadi penghalang bagi hubungan kami, aku tidak akan membiarkannya. Hal itu berlaku juga bagi Uncle.., hati-hatilah dalam bertutur kata." dengan wajah berlipat, Ravendra mengkonfirmasi perkataan papa Alexa.


Thomas tersenyum kecil mengalihkan pandangannya pada laki-laki yang sudah menjadi menantunya itu. Sebagai seorang papa, sebenarnya laki-laki itu harus dan sangat berbangga dengan cinta yang besar untuk putrinya. Tetapi untuk masalah takdir, dia juga tidak akan bisa mengendalikannya.


"Jangan salah sangka dengan ucapan Uncle.. Ravendra. Tetapi semua akan menjadi kehendak takdir, kita hanya akan melihatnya saja. Apa yang akan terjadi di depan kita nantinya." Thomas berusaha menjelaskan pada anak muda itu.


Tetapi ekspresi Ravendra tidak berubah. Laki-laki itu mendekati Alexa, kemudian mendekapnya dari belakang. Retakan-retakan di dinding batu, saat ini sudah terbuka lebar. Mereka membelalakkan mata, melihat ada sebuah rak kecil di dalam ruangan itu.


"Tuan Thomas.., apakah rak itu yang Tuan maksud, dan ada di dalam mimpi nona muda Alexa?" Johan bertanya pada Thomas, laki-laki itu sengaja tidak mau membawa-bawa nona mudanya, mengingat ekspresi menyeramkan dari tuan mudanya.


"Aku juga kurang memahaminya Johan. Bagaimana Alexa ., apakah rak itu yang muncul dalam mimpimu?" Thomas mengalihkan pertanyaan Johan pada putrinya.


"Iya pa... sama persis dengan yang ditunjukkan kakek-kakek yang datang dalam mimpi Alexa." gadis itu menganggukkan kepala. Melihat reaksi yang ditunjukkan Ravendra, sama halnya dengan Johan, gadis itu tidak berani untuk berbicara. Kemarahan suaminya, akan bisa menjadi kemarahan dunia.


"Mmmm... jika seperti itu, kita harus segera membuka Rak dari batu itu. Johan ayo kita lakukan..., kita tidak mungkin untuk melibatkan putriku Alexa." Thomas akhirnya mengajak Johan untuk menemaninya membuka rak batu tersebut.


Johan menganggukkan kepala, laki-laki itu segera berjalan mendekati ke tempat rak itu berada. Demikian pula dengan Thomas, laki-laki itu meminta Alexa untuk pergi sedikit menjauh darinya.


"Mari Tuan Thomas.. kita lebih dekat ke dalam isi rak tersebut." Johan mengajak Thomas untuk menemaninya.

__ADS_1


Tanpa menjawab, papa Alexa segera mendekati Johan. Tangan Thomas terulur dan membuka rak batu itu. Mata kedua laki-laki itu berbinar, melihat di depannya terdapat sebuah gulungan kertas, dan sebuah ikatan untuk dilingkarkan di atas kepala. Tetapi melihat warna ungu muda keemasan, ikatan di kepala itu seperti diciptakan untuk seorang perempuan. Melihat keberadaan Ravendra disitu, Thomas dan Johan sengaja merahasiakannya.


"Kami menemukan ini tuan muda..., apakah kita akan membacanya saat ini,. ataukah setelah kita berhasil keluar dari dalam goa ini?" takut salah bertindak, Johan bertanya pada Ravendra dengan suara pelan.


"Kapanpun mau dibuka tidak akan menjadi masalah bagiku. Aku tidak begitu peduli, yang kuinginkan saat ini hanya membawaku istriku Alexa keluar dari dalam sini. Di dalam rahim istriku, ada penerus Ravendra dan Alexa... kalian harus ingat akan hal itu." Ravendra menanggapi perkataan Johan.


Thomas menghela nafas, kemudian laki-laki itu berjalan menghampiri Johan.


"Kita tunda saja untuk membuka gulungan kertas itu. Saat ini yang terpenting adalah bagaikan kita bisa keluar dari tempat ini. Karena tidak akan mungkin kita menghabiskan waktu di tempat ini." Thomas membuat usulan.


"Saya ikut apa yang tuan muda perintahkan, dan juga usulan tuan Thomas.." akhirnya Johan menyetujui pendapat dari dua laki-laki itu.


*******


Mata Cathy dan putra laki-lakinya menerobos kegelapan hutan. Pusaran hutan yang membingungkan banyak orang ketika mereka masuk ke dalamnya, seperti sesuatu yang mudah untuk perempuan itu. Merasa mereka tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Alexa disitu, Cathy mengajak putranya untuk berpindah tempat.


"Mama tidak bisa menemukannya... kita harus berpindah dari tempat ini." ucap Cathy pada Andrew putranya.


Andrew menatap perempuan tua itu, mencoba menelaah apa yang ada dalam pikirannya. Sepertinya Cathy menyadari tatapan yang diberikan Andrew padanya.


"Ada apa Andrew.. apa ada yang aneh dengan mama?" perempuan itu bertanya pada laki-laki di sampingnya itu.

__ADS_1


"Heh.. Andrew merasa aneh saja melihat perilaku mama. Jika berbicara tentang perempuan bernama Alexa itu, Andrew melihat mama menjadi bersemangat. Apakah mama betul-betul yakin, jika Alexa adalah cucu mama, putri dari kak Deborah dan Maxell." dengan rasa penasaran, Andrew memberanikan diri bertanya pada mamanya.


Cathy terdiam untuk beberapa saat, kemudian...


"Mama tahu Andrew.. perempuan itu bukan cucu mama, bukan keponakanmu. Tetapi sudut hati mama berbicara, jika mama harus berbuat sesuatu untuk gadis itu. Akan banyak yang mengincar nyawanya, dan sepertinya altar tempat sakral kaum vampire, terhibur dengan gadis itu. Meskipun gadis itu tidak menyadarinya, lambat lain altar akan menentukan sendiri siapa pewarisnya." dengan lancar Cathy menanggapi pertanyaan Andrew


"Mama selalu berbicara tentang altar.., altar.. Tempat manakah itu, mama sendiri belum pernah membawa dan mengajak Andrew kesana. Hingga sampailah saat ini, Andrew sering berpikiran.. apa yang ada di pikiran mama. Apakah mama terlalu banyak halusinasi." Andrew memprotes tindakan perempuan itu.


"Bersiaplah Andrew... mama akan membawamu kesana saat ini. Sudah teramat lama, mama juga belum melakukan ibadah di altar itu." tiba-tiba Cathy mengajak Andrew. Laki-laki muda itu terkejut dengan perkataan mamanya, dan Andrew langsung menyetujui ajakan itu.


Cathy melihat ke sekeliling tempat itu, kemudian mengambil nafas panjang. Setelah beberapa saat, perempuan itu tersenyum sendiri. Andrew tidak berhenti mengamati perubahan wajah mamanya. Tiba-tiba tangan perempuan tua itu terangkat ke atas, dan kawanan burung kembali muncul di atas pepohonan.


"Andrew... burung itu adalah penunjuk arah kita. Ayo kita ikuti mereka..." Cathy segera mengangkat tubuhnya ke atas, perempuan itu mengikuti arah burung-burung itu. Dari belakang putra laki-laki Cathy mengikuti di belakangnya.


Beberapa saat kedua orang itu melayang mengikuti kawanan burung-burung itu di angkasa. Sepertinya burung itu memang menjadi penunjuk arah untuk dapat keluar dari pusaran hutan. Hanya beberapa yang dapat menterjemahkan petunjuk itu. Bagi yang tidak bisa, mereka hanya akan selamanya tersesat dan musnah dalam kumpul pohon-pohon di hutan tersebut.


"Burung itu akan terbang kemana mama..?" Andrew bertanya dengan suara pelan.


"Hanya dengan bersama mereka, kita akan datang ke altar ibadah putraku. Bersabarlah sebentar lagi.." sambil terus berada di belakang burung, Cathy menjawab pertanyaan Andrew.


*********

__ADS_1


__ADS_2