
Alexa kaget menatap seorang laki-laki paruh baya dengan ketampanan mirip dengan Ravendra yang juga menatapnya dengan tidak berkedip. Tetapi Ravendra mengisyaratkan agar dia duduk di meja yang sama dengan laki-laki itu. Akhirnya tanpa bertanya, Alexa menuruti permintaannya dari suaminya itu.
Beberapa saat tidak ada yang bicara dalam meja makan itu. Ravendra juga dengan ketus tidak mau memulai pembicaraan terlebih dulu, tetapi juga tidak memberi teguran pada laki-laki paruh baya yang masih terus melihat kepadanya. Tiba-tiba dari arah samping, pelayan berdatangan dan menyajikan banyak menu makanan di atas meja. Yang membuat mata Alexa berbinar, menu yang tersaji di depannya adalah menu masakan Asia. Ada nasi lengkap dengan lauk pauk kesukaannya.
"Bagaimana honey.., aku sengaja meminta chef untuk menyiapkan makanan kesukaanmu. Sudah cukup lama, menu makananmu kurang berkualitas, dan terlihat kamu kurang menikmatinya." Ravendra menanyakan menu yang disajikan pada Alexa.
"Terima kasih kak, iya menu kali ini kesukaan Alexa semuanya." dengan senyum cerah, perempuan itu menanggapi perkataan suamiku.
"Hmmmm..., uhuk.., uhukk.." tiba-tiba laki-laki paruh baya yang berada dalam satu meja yang sama dengan mereka, terbatuk-batuk.
Secara reflek Alexa berdiri, kemudian mengambil satu gelas air putih dan mengantarkan ke meja laki-laki itu.
"Tuan.., minumlah dulu, semoga bisa mengurangi batuk pada diri tuan.." Alexa memberikan gelas pada laki-laki, dan tanpa bicara laki-laki itu menerima minuman itu dan langsung meminumnya. Ravendra tersenyum melihat respon yang ditunjukkan Alexa.
"Papa..., jika papa memang sudah merasa lapar, tidak apa-apa jika papa makan duluan. Tidak perlu kheki melihat sikap romantis Ravendra pada Alexa." tiba-tiba Alexa terkait mendengar ucapan dari suaminya pada laki-laki yang ada di depannya itu.
Lalu paruh baya itu melirik pada Ravendra dengan mata tajam. Tetapi laki-laki yang dilihatnya malah tertawa terbahak-bahak.
"Ha..., ha., ha.."
"Mohon maaf.. jadi Tuan ini adalah Tuan Abraham, papa kandung kak Ravend..?" dengan suara tercekat, Alexa bertanya pada Abraham.
"Maafkan Alexa Tuan..., saya betul-betul tidak tahu. Karena kak Ravend tidak pernah bercerita." tiba-tiba Alexa semakin gugup, karena laki-laki paruh baya itu masih menatap Ravendra dengan lekat.
__ADS_1
Ravendra berdiri kemudian memegang pundak Alexa dari belakang. Laki-laki itu mengajak istrinya untuk duduk kembali di kursinya, tetapi Alexa tidak mau bergerak.
"Honey..., tidak perlu kamu pedulikan tanggapan papa kepadamu. Yang penting dan paling utama adalah aku selalu mencintai honey. Apapun yang terjadi, honey akan tetap berada di sisiku."Ravendra berbicara pada Alexa. Namun perempuan itu malah menatap kembali wajah suamiku dengan keheranan.
"Kenapa Kak Ravend berbicara seperti itu? Jika Tuan Abraham ini adalah papa kak Ravend, berarti beliau adalah papa mertua Alexa juga. Menjadi kewajiban bagi Alexa untuk memohon doa restu pada beliau, bukan malah mendiamkannya." dengan nada kurang suka, Alexa menangkis perkataan suaminya.
Tidak diduga melihat sikap tegas yang ditunjukkan Alexa pada putranya, Tuan Abraham mengulum senyum di bibirnya. Laki-laki paruh baya itu mengamati Alexa dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Bukan begitu honey.. Aku tidak ingin kamu terluka,. abaikan semua yang ada di sekitar kita untuk sementara. Lebih baik menghargai orang-orang yang memang mereka juga menghargai kita. Dari pada sakit hati jika kita meminta dihargai oleh seseorang." Ravendra melanjutkan perkataannya.
"Maaf kak... Alexa tidak setuju. Perkataan kakak okay.. tetapi itu hanya berlaku untuk orang luar. Dan akan menjadi tidak berlaku untuk orang-orang dekat kita, apalagi ada hubungan darah di antara kita." Alexa memberi tanggal kembali pada perkataan suaminya.
Jadilah perdebatan antara suami istri, dan disaksikan Tuan Abraham sambil senyum-senyum. Ravendra tidak mau mengalah, demikian juga dengan Alexa.
"Selamat gadis, meskipun aku belum mengenalmu. Aku sangat menyukaimu, dan menerimamu sebagai anggota baru dari keluargaku. Aku menerimamu sebagai menantuku.." suara Tuan Abraham dengan nada bersahabat tiba-tiba terdengar di ruangan itu.
Alexa terhenyak, dan dengan takut-takut perempuan itu berani menatap Tuan Abraham secara langsung. Ravendra juga terdiam,. laki-laki itu tidak mempercayai penglihatannya, dan juga mengarahkan pandangannya pada papa kandungnya.
"Kemarilah putriku.., siapa tadi namamu? Alexa bukan.." dengan senyum kebapakan, Tuan Abraham menanggapi Alexa untuk datang mendekat.
"Baik Tuan.." untuk menghormati laki-laki paruh baya itu, Alexa berjalan mendekatkan diri padanya. Di depan laki-laki itu, Alexa membungkukkan badannya, kemudian mencium punggung tangan Abraham.
Tanpa sadar dengan penuh keharuan, Abraham mengelus kepala menantunya itu, kemudian juga memberi tepukan pada punggung Alexa.
__ADS_1
"Sini duduk dekat papa. Tidak ada dalam kamus, seorang menantu memanggil mertua dengan sebutan Tuan. panggil aku dengan sebutan papa.. putriku." sambil tersenyum Abraham menepuk kursi yang ada di sampingnya.
"Baik papa.., terima kasih sudah menerima Alexa." ucap Alexa perlahan. Perempuan itu segera menduduki kursi yang sudah dipilih oleh papa mertuanya.
"Honey..., kalau kamu duduk disitu, terus siapa yang Nemani aku?" melihat istrinya memilih duduk dekat papanya, Ravendra merajuk.
"Kamu sudah besar, ratusan tahun sudah usiamu tahun ini. Duduk sendiri di situ. Kali ini papa akan lebih mengenali menantu papa." dengan cepat, Abraham menanggalkan protes puteranya pada Alexa.
"Ijin mengambilkan makanan untuk Kak Ravend dulu pa.." ingat tugasnya sebagai seorang istri, Alexa berdiri untuk membantu Ravendra menyiapkannya makanan untuknya.
"Iya lakukanlah.., sekalian papa ya.." dengan tidak berdaya, Abraham akhir mengijinkan Alexa.
Tidak mau menunggu lagi, Alexa segera mempersiapkan nasi beserta lauk untuk suaminya. Baru saja perempuan itu meletakan piring di depan Ravendra, laki-laki itu memegangi tangan Alexa kemudian memberikan kecupan di atasnya. Alexa merasa malu dan tersentak, perempuan itu langsung menarik tangannya kemudian mempersiapkan makanan untuk papa mertuanya.
Melihat perilaku Ravendra, Tuan Abraham hanya geleng-geleng kepala. Setelah semua sudah siap, Alexa kembali duduk di kursi.
"Apakah benar kamu berasal dari Indonesia Lexa..?" sambil mengunyah makanan, tiba-tiba Abraham bertanya tentang asal-usul Alexa.
"Iya pa.., terakhir kali dengan mama, Alexa tinggal di kota Batam. Jika sebelumnya tinggal di pulau Jawa pa.." dengan tegas, Alexa menjawab pertanyaan dari Abraham.
"Tidak perlu basa-basi pa.., sebenarnya informan papa sudah memberikan informasi semua tentang istriku Alexa kan?" dari seberang meja, Ravendra berbicara dengan nada ketus.
"Kak Ravend.. dengar dululah papa bicara'. Jangan suka berburuk sangka, tidak baik." Alexa memprotes perkataan Ravendra. Tuan Abraham kembali tersenyum mendengar pembelaan Alexa untuknya.
__ADS_1
*******