CUT

CUT
Tiket...


__ADS_3

Makan malam pertama di rumah mertua terasa berbeda bagi Cut. Jika di rumah Mak Cek Siti, ia harus melayani Faisal sampai membawa talam ke dalam kamar tapi di rumah orang tua Faisal, ia tidak perlu melakukan itu. Mereka makan bersama dengan anggota keluarga yang lain di satu meja makan.


 


Melayani suami di meja makan menjadi keharusan untuk Cut selama mereka menikah tapi hal tersebut tidak berlaku ketika mereka berada di rumah orang tua Faisal. Bagi orang tua Faisal, apa yang Cut lakukan adalah sebuah tanda bakti yang biasa mereka lihat bahkan sudah tidak menghiraukannya lagi. Berbeda dengan pandangan 2J yang merasa itu berlebihan dan sedikit norak.


 


“Fais, sejak kapan kamu cacat?” tanya Kak Juli.


 


“Apa maksudmu, Juli?” tanya sang ibu bingung.


 


“Fais bukan cacat, Kak tapi, manja. Kasihan sekali adik ipar kita harus melayani suami manja seperti Fais. Makan saja harus Cut yang mengambil piring, sekalian saja kamu minta suapi.” sahut Bang Adi dengan nada mengejek.      


 


Ibu dan bapak Faisal hanya bisa menghela nafasnya ketika menyadari apa yang diperdebatkan oleh kedua anaknya.


 


“Juli, Adi.” keduanya langsung terdiam ketika suara berat sang ayah menyebut nama mereka tentunya diiringi dengan sorot mata tajam.


 


Kedua saudara itu akhirnya memilih diam sambil menghabiskan makanan mereka dari pada dipermalukan oleh sang ayah di depan adik ipar yang baru pertama kali datang ke rumah mereka.


 


“Buk, Pak, sebelum Fais masuk kerja, Fais mau jalan-jalan dulu ke medan sama Cut ya!” kedua J yang tengah menikmati makan mereka langsung menoleh pada sang adik.


 


“Iya, Ibu sama Bapak tahu kalau kalian mau bulan madu. Pergilah! Dan kamu harus menjaga Cut dengan baik sampai di sana.”


 


“Pasti, Buk.”


 


“Kapan kalian berangkat? Naik apa?”


 


“Naik bus, Pak.”


 


“Kenapa tidak naik pesawat saja? Situasi saat ini masih belum jelas. Bapak takut terjadi apa-apa di jalan.”


 


“Tidak apa-apa, Pak. Kan sekarang lagi gencatan senjata.


 


Setelah memberitahukan rencana bulan madu bersama Cut ke Medan pada kedua orang tuanya. Faisal juga memberitahukan pada keluarga Cut tiga hari setelah mereka menghabiskan waktu bersama di rumah Faisal.

__ADS_1


 


Bagi Abu dan Umi, rencana Faisal tidaklah buruk mengingat mereka masih muda dan Abu serta Umi juga menginginkan Cut untuk menikmati masa-masa indah pernikahannya. Keesokan harinya, Cut mulai berbenah menyiapkan pakaiannya serta milik sang suami untuk dibawa ke Medan. Ada rasa bahagia dalam hati Cut hingga tanpa sadar ia tersenyum sendiri ketika memasukkan baju-baju tersebut. Sementara Faisal sedang berada di loket penjualan tiket bus yang berada di terminal bus antar provinsi.


 


“Di jalan aman kan, Bang?” tanya Faisal pada penjual tiket di salah satu konter.


 


“Aman. Kan lagi angkat senjata. Itu baru pulang dari Jakarta.” jawabnya seraya menunjuk salah satu bus yang bertuliskan ‘PMTOH’ baru tiba dari Jakarta.


 


Setelah membeli tiket, Faisal langsung kembali ke rumah. Sementara di rumah Mak Cek Siti yang masih dipenuhi oleh keluarga besar dari Abu dan Umi terlihat raut wajah berbeda dari beberapa orang termasuk Rabiah.


 


“Mak, Biah mau cari suami orang kota saja. Lihat Kak Cut, habis menikah, Bang Faisal langsung mengajaknya jalan-jalan tidak seperti orang-orang di kampung kita. Habis nikah malah disuruh ke sawah dan ladang. Kapan bahagianya?” keluh Rabiah yang membuat ibu serta kerabat yang lain tertawa getir. Kebanyakan dari para kerabat menikah dengan tetangga kampung atau lain kecamatan.


 


Profesi para suami juga hanya petani atau pedagang. Keluhan Rabiah memang ada benarnya karena mereka yang sudah lama menikah bahkan ada yang memiliki cucu tidak pernah merasakan seperti yang Cut rasakan saat ini.


 


Menikmati waktu berdua setelah menikah menjadi sesuatu yang tidak lazim di kampung mereka. Jika ada waktu berdua maka itu saat mereka pergi ke sawah atau ladang dan yang sudah pasti saat mereka di kamar.


 


“Minta sama Mak Cek Siti supaya dicarikan jodoh orang kota untukmu.” ucap Ibu Rabiah.


 


 


“Assalamualaikum,” Faisal memberi salam.


 


“Walaikumsalam, Bang Faisal sudah pulang?” Rabiah menjawab salam dengan girang dan penuh semangat.


 


“Abang jadi pergi berlibur? Aku ikut boleh?” Faisal menghentikan langkahnya lalu menatap Rabiah yang dari tadi berjalan di sampingnya.


 


“Maaf ya, Abang pergi sama istri tidak boleh ajak siap pun.” ucap Faisal dengan nada lembut seraya tersenyum manis.


 


“Yaaaa...aku kan ingin juga lihat kota Medan.” ucap Rabiah dengan nada manja seraya mengerucutkan bibirnya.


 


“Maaf ya. Abang masuk dulu.” Faisal pergi meninggalkan Rabiah yang tengah merajuk.


 


Tok...tok....

__ADS_1


 


“Sudah siap ya?” tanya Faisal lembut saat melihat sang istri tengah menutup koper mereka.


 


“Sudah, apa Abang mau lihat lagi?”


 


“Tidak usah, aku percaya sama kamu.” ucap Faisal lalu mengecup bibir sang istri lembut.


 


Cut menatap manik mata sang suami yang tengah memeluknya. Ia bahagia, sang suami ternyata sangat menyayanginya.


 


“Aku tampan ya?” tanya Faisal dan tanpa sadar Cut malah menganggukkan kepala hingga membuat Faisal terkekeh geli.


 


“Bagaimana kalau ada wanita lain yang menyukai wajahku?” senyum di bibir Cut seketika sirna. Faisal kembali terkekeh, “Kamu cemburu?”


 


“Tidak ada perempuan yang ingin dimadu.” jawab Cut lalu melepaskan pelukan mereka.


 


“Kamu marah?” Faisal memeluknya dari belakang.


 


“Saya memang dari kampung dan dalam agama juga tidak dilarang tapi saya belum siap berbagi suami dengan wanita lain. Kalau Abang menyukai wanita lain lebih baik tinggalkan saya!”


 


“Hei...kenapa jadi panjang begini? Aku hanya bercanda saja tadi. Sudah ya, jangan dipikirkan dan jangan marah-marah lagi. Kita mau bulan madu tapi sudah bertengkar begini. Apa kata orang nanti.” ucap Faisal seraya menggoda sang istri dengan tangannya yang sudah bergerilya kemana-mana.


 


Cut tidak bisa menolak, ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya untuk tidak bersuara. Apa yang Faisal lakukan selalu bisa membuat Cut melambung tinggi hingga dalam detik berikutnya ia sudah sepenuhnya menyerahkan diri secara suka rela bahkan ia sudah tidak malu untuk mendekati sang suami lebih dulu jika ingin meminta lebih.


 


Cut memeluk sang suami dengan posesif seakan tidak mau kehilangan bahkan ia rela menjadi pemain utama untuk memuaskan sang suami. “Apa Abang puas?” tanya Cut ragu setelah mengakhiri percintaan mereka.


 


“Kamu liar juga kalau lagi cemburu. Aku harus sering-sering membuatmu cemburu.” mendengar ucapan sang suam, Cut langsung melepaskan pelukannya. Ia menatap sang suami dengan tatapan yang sulit diartikan. Sementara itu, Faisal hanya terkekeh apalagi melihat tubuh polos Cut serta bekas-bekas gigitannya di dada sang istri.


 


Cut yang dari tadi menatap Faisal tiba-tiba menyadari jika mata sang suami justru sedang melihat ke titik lain. Dan detik itu pula, ia langsung memeluk sang suami sambil menarik selimutnya.


 


“Kenapa sembunyi? Aku kan sudah melihat semuanya.”


***

__ADS_1


LIKE....KOMEN...SHARE...


Terima kasih buat kalian pembaca setia yang tidak bosan2nya sama Cut. updatenya juga sering tidak jelas waktu. maafken yeee.....😊


__ADS_2