
Setelah perbincangan kemarin sore dengan Pak Cek Amir, Abu serta Umi ikut mengiyakan apa yang dikatakan oleh beliau. “Jangan tergesa-gesa untuk mengambil keputusan apalagi jika menyangkut pernikahan yang insya Allah akan kamu jalani selama sisa hidup kamu nanti. Jadi, saran Pak Cek, kamu pikirkan kembali. Kita pindah dulu ke Banda Aceh dan memulai hidup dari nol kembali. Jika suatu saat kamu bertemu dengan dia lagi berarti dia memang jodoh kamu. Segala yang terjadi dalam hidup kita sudah diatur oleh yang maha kuasa. Jadi, untuk apa kita takut. Begitu juga dengan jodoh.”
Kami memutuskan untuk mengikuti Pak Cek Amir ke ibu kota provinsi. Setelah sebelumnya Abu dan Pak Cek Amir mendatangi pos tentara untuk menyampaikan keinginan pindah. Mereka juga meminta alamat serta foto kopi KTP merah putih milik Pak Cek sebagai jaminan jika suatu waktu mereka membutuhkan kami untuk memperoleh keterangan.
Malamnya kami langsung berkemas. Tidak banyak yang mesti kami bawa karena saat memasuki rumah ini kami hanya membawa beberapa pakaian saja.
Keesokan paginya, setelah berpamitan pada para tetangga, kami langsung menuju terminal bus antar kota.
Tidak ada yang Abu katakan saat kembali dari markas. Aku sendiri tidak bertanya lagi. Abu hanya mengatakan jika suatu hari Rendra mencari kamu dia pasti tahu ke mana harus pergi.
Bismillah...
Perjalanan panjang kembali kutempuh... semoga di sana kami benar-benar menemukan kehidupan baru yang lebih baik dan lebih aman... Amin...
Waktu tempuh dari kabupaten utara ke ibu kota provinsi seharusnya sekitar 6 jam. Tapi, bus yang kami tumpangi harus berhenti setiap mencapai perbatasan kabupaten. Ada tiga kabupaten yang harus kami lalui untuk mencapai ibu kota provinsi. Dan ketiga kabupaten tersebut berada di zona hitam. Di mana, zona dengan jumlah pemberontak yang cukup banyak serta intensitas kontak senjata yang cukup sering terjadi. Kabupaten terakhir sebelum ibu kota provinsi adalah kabupatenku.
__ADS_1
Kali ini kami hanya melewatinya saja. Aku bisa merasakan jika Abu dan Umi pasti sangat merindukan kampungnya yang tentu saja tidak akan terlihat dari jalan raya. Kampung kami yang terletak jauh di pelosok desa tidak akan terlihat.
Tiba di perbatasan, kami sudah ditunggu oleh banyaknya tentara bersenjata lengkap. Semua orang yang ingin melewati perbatasan harus berhenti. Kami yang berada dalam bus diminta untuk turun tanpa membawa barang apa pun. Hanya KTP merah putih saja yang kami bawa turun lalu berbaris seperti yang mereka minta.
Satu persatu mereka memeriksa KTP sambil memperhatikan wajah kami dengan saksama. Sementara itu, beberapa tentara yang lain menggeledah barang kami di dalam bus. Aku melihat Abu sedang ingin mengambil sesuatu di dalam saku baju, namun Pak Cek langsung mencegah sembari berbisik sesuatu kepada Abu.
Dan hal tersebut justru membuat beberapa tentara yang sedang berada di pos sambil memegang sebuah benda hitam yang dia taruh di mata memanggil Abu dan Pak Cek. Keadaan semakin mencekam tatkala beberapa tentara langsung bergegas menghadang Abu dan Pak Cek dari depan dan belakang.
Umi memegang tanganku erat dengan raut wajah ketakutan sama sepertiku. Abu dan Pak Cek dikawal ketat menuju pos. Apa yang terjadi di dalam sana tidak ada yang tahu. Selama beberapa saat kami menunggu akhirnya, Abu dan Pak Cek keluar dengan selamat lalu kembali bergabung bersama kami.
“Untuk sementara Abang dan keluarga tinggal dulu di rumah kami. Besok kita bisa bertemu dengan Ampon Nawi yang punya ruko di depan pasar ikan.”
“Untuk apa, Mir?” tanya Abu bingung.
“Ampon Nawi punya banyak ruko di pasar ini. Semua rukonya di sewakan, yang di depan pasar ikan ada tiga ruko yang dia sewakan. Salah satunya sudah saya tawar sebelum menjemput Abang. Saya sudah berencana untuk menyewakan ruko tersebut untuk Abang usaha di sini. Abang dan Cut Kak pasti tidak mau lama-lama tinggal sama kami. Makanya, saya sudah lebih dulu meminta Ampon Nawi untuk menyimpan ruko tersebut buat saya.”
Abu menghela nafasnya, “Terima kasih banyak karena kamu sudah bersusah payah membantu kami.” ucap Abu.
“Bang, sesama muslim saja kita harus saling membantu apalagi sedarah. Saya juga tidak tenang setelah tahu apa yang terjadi pada Abang sekeluarga. Ditambah lagi ada anak yatim piatu yang harus kita besarkan sama-sama supaya ia tidak mengulangi kesalahan orang tuanya lagi.” Abu hanya menganggukkan kepala.
__ADS_1
“Sudahlah, Bang. Kita ini keluarga sudah sepatutnya saling mendukung. Soal KTP nanti biar saya bantu di kantor.” sela Mak Cek Siti yang baru datang dari dapur lengkap dengan beberapa suguhan makanan.
“Anak-anak ke mana, Ma?” tanya Pak Cek pada istrinya.
“Biasa ke kolam renang, Bang.”
“Cut, ada rencana untuk lanjut sekolah?” pertanyaan Mak Cek Siti benar-benar mengagetkanku.
Jujur saja aku bingung jika ditanya seperti ini. “Biarpun kita terlahir perempuan, kita juga harus sekolah, jangan berpikir bahwa karena kita perempuan terus menikah dan berakhir di dapur saja sebagai istri. Kita juga harus mandiri, memiliki keterampilan serta ilmu. Ilmu kalau tidak dicari ya tidak akan dapat. Pak Cek bilang, kamu tidak tamat SD, benar begitu?”
Aku hanya bisa mengangguk karena semua itu memang benar. “Besok Mak Cek cari info di kantor supaya kamu bisa lanjut sekolah dan yang penting kamu mau kan?” kali ini aku mengangguk kecil.
“Bagus, Mak Cek senang kalau begitu. Kita pintar bukan buat orang lain tapi untuk diri kita sendiri. Tidak selamanya kita menjadi istri, hidup kan tidak ada yang tahu. Jika kita tahunya pemberian suami ketika dia tidak ada, bagaimana? Di situlah gunanya ilmu dan keterampilan, setidaknya kita bisa bertahan untuk diri kita sendiri apalagi jika sudah punya anak. Tidak apa-apa kan, Kak, Bang jika saya carikan sekolah buat Cut?”
Aku menatap Abu dan Umi, terlihat jelas jika mereka seperti memasrahkan segala urusan pada Mak Cek. Dari situ aku mengetahui dari mana pikiran terbuka yang dimiliki oleh Pak Cek. Ternyata itu semua ada andil Mak Cek di dalamnya. Mak Cek Siti seorang pegawai negeri dengan pendidikan tinggi serta terlahir di kota tentu memiliki pemikiran yang luas dan terbuka. Sedangkan kami hanya orang kampung yang tidak tahu bagaimana kehidupan perkotaan.
“Assalamualaikum...” suara serentak dari ketiga anak Pak Cek Amir.
“Walaikumsalam....”
“Kalian baru pulang? Sudah salat ashar?” tanya Pak Cek Amir.
“Sudah Ayah, tadi sebelum pergi kami salat dulu.” jawab anak laki-laki yang paling tinggi di antara ketiganya.
“Salam dulu sama Abuwa, Makwa dan Kak Cut! Ini yang paling tinggi dan paling tua Teuku Razi, ini yang nomor 2 Teuku Faris dan yang terakhir Dek Cut Intan. Razi kuliah sudah semester akhir, Faris kelas 3 SMA dan Intan kelas 3 SMP. Tapi tingginya hampir sama kan?” seloroh Pak Cek Amir.
Ketiga sepupuku memang tinggi-tinggi dan mereka juga sangat tampan serta cantik. Penampilan mereka juga sangat mencerminkan anak kota sangat berbeda denganku. Entah seperti apa perjalanan hidupku di sini. Kota yang tidak memiliki pagar tak terlihat seperti di kampungku.
***
__ADS_1
LIKE...LIKE...LIKE...