
Pesta resepsi berlangsung meriah dengan mengusung ala militer. Cut dan Rendra berjalan di bawah pedang yang berjejer di atas kepala mereka. Mereka berjalan pelan dengan kondisi Cut yang pincang tentunya memberikan sedikit kemudahan. Rasa minder kembali menghantui Cut mulai dari pagi hari hingga sampai di acara puncak. Satu persatu tamu yang datang memberi ucapan selamat kepada mereka. Tentu saja para tamu sudah melihat kecacatannya dari pertama.
Walaupun wajahnya terus menyunggingkan senyuman manis. Namun, hatinya sangat gusar diliputi rasa tidak percaya diri. Cut yang terlihat anggun dengan menggunakan kebaya berwarna hijau lumut senada dengan warna seragam Rendra. Hiasan di kepala Cut juga dibuat sesederhana mungkin supaya tidak memberatkan pengantin wanita.
Sepasang suami istri mendekati kedua pengantin untuk memberikan selamat. “Sayang, mereka mantan mertuaku.”
Deg…
Cut tersenyum canggung lalu berjabat tangan dengan kedua orang tua tersebut.
“Selamat ya, Nak. Semoga ini menjadi yang terakhir untuk kamu. Semoga kamu berbahagia selalu.”
“Terima kasih, Pa, Ma.” Ucap Rendra lalu memeluk sekilas mantan papa mertuanya.
“Kamu tidak akan memperkenalkan kami pada istrimu?”
Jika sebelumnya, Rendra sudah membisikkan pada Cut kini ia memperkenalkan secara resmi mantan mertuanya pada Cut.
“Selamat ya, Nak.” Ucap kedua orang tua itu pada Cut secara langsung.
Perceraian Rendra dengan mantan istrinya tidak membuat hubungan yang sudah terjalin lama antara kedua orang tua mereka hancur. Pernikahannya memang hancur tapi persahabatan Bapak Wicaksono dengan mantan mertua Rendra tetap terjalin dengan baik.
Acara terus berlanjut dan terlihat sekali jika Rendra sangat menikmati pestanya. Dia terus saja tersenyum ketika bertemu dengan tamn-teman seangkatan dan para atasannya yang ikut hadir. Dari tempat yang tidak telalu jauh, Bang Adi sedang duduk bersama dengan Faris dan Intan sambil memangku Iskandar.
Selama kepergian mereka ke Jawa, Iskandar sering dibawa oleh Bang Adi. Ia tidak mau merusak hubungan sepasang suami istri yang baru terjalin dan tentunya mereka butuh waktu dan ruang untuk lebih dekat.
__ADS_1
“Menurutmu, Apa Kak Cut bahagia dengan pernikahan ini?” tanya Intan seraya menatap ke atas pelaminan.
“Entahlah, kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing begitu tiba ke sini sampai lupa menanyakan itu padanya.” Jawab Faris.
“Tidak perlu bertanya, lihat saja sendiri! Aku merasa senyumnya tidak selepas Bang Rendra. Apa Kak Cut minder sama kondisinya ya?” tanya Intan.
“Kasihan sekali kalau Kak Cut sampai sedih kembali. Aku jadi tidak tega meninggalkannya di sini.”
Bang Adi mendengar pembicaraan kedua adik sepupunya. Dalam diam, ia juga merasa khawatir pada Cut yang akan tinggal sendiri di sini. Melihat semua tami dan bagaimana mereka menatap kekurangan Cut menjadi sebuah kerisauan tersendiri di hati Bang Adi. Ini adalah pilihan Cut termasuk memilih memberikan Iskandar dalam pengasuhan keluarganya. Tidak mudah melepaskan seorang anak tapi begitulah pilihan Cut.
“Cut takut tidak bisa memberikan kasih sayang maksimal apalagi kondisi Cut sendiri sedang tidak baik-baik saja. Sementara di sini tidak ada seorangpun kerabat kita. Jadi, Cut memberikan Iskandar pada Ibu dan Bapak juga pada Mak Cek Siti dan Pak Cek Amir. Cut yakin, Iskandar tidak akan kekurangan kasih sayang bersama kalian.”
Begitulah ucapan Cut saat memberikan keputusannya sehari sebelum hari akadnya. Tentu saja mantan mertuanya sangat bahagia sementara Mak Cek Siti dan Pak Cek Amir hanya bisa pasrah karena semua keputusan ada pada Cut selaku ibu kandung dari Iskandar.
Rendra memapah Cut untuk duduk.”Saya juga lelah tapi karena saya senang. Jadi lelahnya tidak terlalu terasa. Maaf ya karena membuatmu harus mengikuti acara yang melelahkan ini.” Ucap Rendra menggenggam tangan Cut lembut.
Rendra sangat berusaha untuk membuat Cut nyaman berada di sisinya. Ia tidak mau istrinya itu merasa sedih bahkan minder karena kondisi fisiknya.
Reni dan Riko sibuk menjamu beberapa teman dekat mereka tanpa peduli pada Bang Adi. Tanpa Reni sadari, segala tingkahnya terekam penuh oleh ekor mata Bang Adi. Termasuk saat Reni mengamit lengan seorang pria lalu mengajaknya naik ke atas pelaminan. Sepasang mata lain juga sedang menatap lekat ke arah putrinya yang sedang bersama pria yang tidak mereka ketahui. Bapak Wicaksono yang berada di sisi kanan pelaminan bersama istri dapat melihat jelas apa yang putrinya lakukan.
“Mama kenal siapa pria yang digandeng Reni?”
Ditanya sang suami begitu, Ibu Yetti langsung mencari sosok yang dimaksud dan tentu saja beliau kaget. Putrinya tidak pernah sedekat ini dengan pria tapi sekarang malah memerkan di hadapan mereka tanpa rasa bersalah.
“Mama tidak tahu, Pa. Kita panggilkan Riko saja supaya mengawasi adiknya.”
__ADS_1
Ibu Yetti segera menghubungi Riko dan memerintahkannya untuk mendatangi Reni. Padahal saat itu, Riko sedang menemui rekan-rekannya. Dengan kesal, Riko mendatangi Bang Adi yang tengah memangku Iskandar.
“Bang, sebaiknya Abang lakukan tugas Abang sekarang dengan baik. Papa dan Mama menyuruhku untuk menghentikan aksi Reni. Kalau aku yang bilang, dia tidak akan mendengar. Kalau Abang mau menunjukkan diri di depan Papa. Maka, inilah saatnya.
Bang Adi menghela nafasnya sesaat. Tanpa permisi, Riko sudah menggendong Iskandar yang tadinya berada dalam pangkuan Bang Adi. Iskandar bisa nyaman dengan siapa saja terutama para laki-laki.
“Ayo, aku kenalin sama teman-temanku!” Riko mengajak Faris dan Intan ikut bersamanya. Sementara Bang Adi yang memakai kemeja batik seragam khusus keluarga mempelai berjalan pelan menghampiri Reni. Wajahnya datar bahkan lebih cendrung tidak bersahabat.
“Kalau mau pamer jangan di sini.” Bisik Bang Adi yang membuat Reni terkejut hingga reflek berbalik arah dan saking cerobohnya. Ia hampir terjatuh ke belakang karena terpeleset dengan heel yang digunakan. Beruntung, Bang Adi sigap hingga langsung menarik pinggang Reni hingga sedikit menabrak dadanya. Sempat terdiam beberapa detik hingga suara jepretan kamera menyadarkan keduanya.
“Yang satu tampan, yang satu cantik. Kalian pasangan yang serasi.” Celutuk sang fotographer.
Kedua anak manusia itupun salah tingkah karena sudah menjadi tontonan para undangan. “Kalau mau mencari perhatianku jangan setengah-setengah!” Bang Adi pergi meninggalkan Reni dengan kemarahannya yang memuncak.
Harga dirinya terluka setlah mendengar kata-kata tajam dari Bang adi. Dia langsung mengikuti pria itu tanpa peduli pada laki-laki yang dari tadi di sampingnya.
“Ren, kamu mau kemana?” pertanyaan dari pria itu seperti tidak sampai ke telingan Reni.
Langkahnya dipercepat walaupun sedikit susah karena rok sempit yang ia gunakan. Dia terus mengikuti Bang Adi dengan kemarahan yang membuncah. Kali ini dia akan merealisasikan keinginannya untuk mencakar pria itu. Bapak Wicaksono dan Ibu Yetti turut memperhatikan tingkah keduanya.
“Mama suruh Riko kenapa dia malah menyuruh pria itu?” gumam Ibu Yetti dan didengar oleh Bapak Wicaksono.
***
__ADS_1