CUT

CUT
Khalid...


__ADS_3

“Abang bahagia bisa melihatmu tertawa bahagia walaupun hanya dengan mereka. Asalkan kamu tidak bersama tentara itu, Abang tidak masalah jika tidak memilikimu sebagai istri. Abang tidak rela kalau pria yang telah menembak sahabat baik sekaligus abang kandung kamu malah menikahimu. Itulah sumpah Abang di samping jenazah Ilham.” batin Khalid.


 


Dari kejauhan, Khalid duduk di bangku kayu depan rumah Keuchik Banta yang merupakan kepala desa Pulau Breuh. Cut sedang membantu istri Keuchik Banta yang bernama Mak Ubiet serta kedua anak perempuan mereka yang bernama Putro Ceudah dan Putro Tari.


 


Sama seperti warga kampung lainnya yang selalu berpendapat jika anak perempuan tidak harus bersekolah tinggi-tinggi karena sudah kodratnya untuk menjadi istri, mengurus rumah tangga serta anak-anaknya kelak. Alhasil, kedua anak-anak Keuchik Banta hanya menyelesaikan sekolah sampai tamat SD.


 


Sedangkan Abang mereka yang bernama Banta Husna bisa melanjutkan sekolah sampai perguruan tinggi karena dia anak laki-laki yang nantinya akan memikul banyak tanggung jawab.


 


Mak Ubiet pandai membuat kelapa fermentasi atau yang biasa di sebut plik ue dalam bahasa Aceh. Sudah enam bulan mereka di Pulau Breuh. Banyak kemajuan yang terjadi pada Cut. Kini, ia sudah berbicara pada siapa saja, keceriaannya kembali seperti dulu. Hanya Khalid yang tidak ia sapa.


 


Khalid sendiri tidak mempermasalahkan itu semua. Baginya, Cut bisa bicara atau tertawa saja sudah sangat membahagiakan. Tujuan Khalid yang dulu ingin memiliki Cut pelan-pelan sirna seiring berjalannya waktu. Ditambah dengan status palsu mereka yang selama ini diyakini oleh warga satu pulau.


 


“Saya tahu kamu mendengarkan apa yang saya bicarakan ini. Saya harap, kamu tidak membicarakan hubungan kita pada orang lain. Saya janji tidak menyakiti kamu atau memaksa kamu untuk menikah. Biarkan orang-orang tetap beranggapan kalau kita adalah adik-abang.”


 


Kata-kata itu pernah keluar dari mulut Khalid saat melihat Cut mulai berbicara dengan anak-anak Keuchik Banta. Khalid khawatir jika Cut akan menceritakan semuanya kepada mereka. Kekhawatiran Khalid ternyata tidak beralasan karena setelah beberapa bulan Cut kembali berbicara. Ia tetap merahasiakan hubungan mereka yang sesungguhnya.


 


Karena status keduanya juga membuat masalah baru kembali menghampiri Khalid. Kedua anak Keuchik Banta ternyata menyimpan rasa padanya. Jika Putroe Tari yang berumur 16 tahun berkulit coklat dengan bulu mata panjang serta hidung mancung secara terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada Khalid. Berbeda dengan sang adik, Putroe Ceudah yang berusia 18 belas tahun serta perawakan yang tidak jauh berbeda dengan sang adik justru lebih pemalu sehingga ia lebih memilih mengungkapkan lewat secarik kertas yang selalu Khalid temukan di kamarnya.


 

__ADS_1


Kedua gadis remaja tersebut sudah menyimpan rasa pada Khalid saat pertama kali Khalid menginjakkan kaki di rumah mereka. Wajah Khalid cukup tampan, kulit sawo matang, hidung mancung serta mata sayu dengan alis hitam lebat serta rambut hitam pekat yang lurus. Jika dilihat, wajahnya khas pria India yang merupakan nenek moyang masyarakat kampung Khalid.


 


Keberanian kedua gadis tersebut mulai terlihat sebulan terakhir. Banyak yang terjadi ketika mereka bersama selama enam bulan Khalid bekerja membantu ayah mereka di ladang. Bahkan, Khalid juga jadi pemanjat pohon kelapa untuk ayah mereka. Semua Khalid kerjakan untuk bertahan hidup di sana. Hal terpenting untuknya adalah Cut. Semua ia lakukan untuk Cut. Cut sembuh, bahagia dan tidak menikahi musuh abangnya.”


 


Di setiap kesempatan saat mereka berkumpul, Keuchik Banta selalu menyinggung tentang jodoh pada Khalid. Hal itu juga turut di dengar oleh Cut. Seperti saat mereka bersantai di sore hari seperti saat ini. Mak Ubiet membuat dugoek atau kolak untuk disantap saat sore.


 


“Apa kamu tidak berencana untuk menikah?” kedua gadis serta Cut yang ikut bergabung di sana juga turut mendengarkan.


 


“Belum, Abu. Saya masih ingin melihat Cut sembuh dulu.” jawab Khalid sambil melirik Cut sekilas. Yang dilirik malah terkesan tidak peduli.


 


 


“Abu, sebenarnya saya sudah pernah menikah. Saya minta maaf jika selama ini saya tidak mengatakannya pada Abu sekeluarga.” seluruh anggota keluarga kecuali Cut terkejut mendengar pengakuan Khalid. Bahkan, mereka semua menatap penuh tuntutan padanya.


 


“Istri saya sudah meninggal saat kontak senjata di pedalaman hutan saat kami mencari tempat perlindungan.” Cut yang tadinya terkesan tidak peduli kali ini ia ikut terkejut lalu menatap Khalid dengan tatapan menuntut yang membuat Khalid sedikit tersenyum.


 


“Kak Limah sudah meninggal? Kapan kejadiannya?” tanya Cut.


 


“Ia, dia sudah meninggal terkena peluru para biadab itu. Apa kamu puas? Apa itu cukup membuatmu sadar kalau mereka itu bukan manusia. Mereka itu biadab, sudah tahu Halimah perempuan masih saja ditembak.”

__ADS_1


 


Cut diam, ia tersudut namun apa yang harus ia katakan. Kenangan singkatnya bersama Halimah kembali terlintas. Air matanya kembali turun, satu persatu kejadian kembali membuatnya menangis sampai dadanya sesak. Ia langsung berlari menuju pantai, ia butuh udara lebih banyak untuk mengurangi rasa sesak di dadanya.


 


Khalid mengejar Cut yang tengah berlari ke arah pantai. Bagaimanapun, kondisi kejiwaan Cut yang tidak mendapat pengobatan dari dokter membuat Khalid harus selalu waspada.


 


“Kenapa kamu lari? Apa kamu akan bersembunyi lagi dalam diam seperti sebelumnya? Ternyata kamu hanya wanita lemah. Jika tahu begini, Abang sendiri yang akan merawat Fikri. Ayah dan ibunya adalah orang yang kuat walaupun hidup dalam ancaman kematian. Tapi sayang, Ceceknya justru wanita lemah yang mencintai laki-laki pembunuh kedua orang tuanya.”


 


“Setelah dia membunuh orang tua Fikri, dia mengincar Abang. Sayangnya, ia gagal lalu mengincar istri Abang. Sungguh pria yang tidak pantas dijadikan seorang suami. Tapi, kamu tetap mencintainya. Jika Ilham masih ada, Abang tidak tahu apa yang akan ia lakukan untukmu.”


 


“Lalu, apa yang kalian pada Miftah, Cek Wan dan para Keuchik yang tidak mau menuruti permintaan kalian? Apa kalian tidak malu mengatakan keburukan orang lain sedangkan kalian juga melakukan hal yang sama? Setidaknya, mereka hanya melakukan itu pada orang yang bersalah dan pantas bukan pada orang yang tidak bersalah dan tidak pantas menerima kekejaman kalian.”


 


“Apa kamu sudah menjadi seorang suami yang baik untuk Kak Limah? Sebelum menilai orang lain lebih baik nilai diri kamu sendiri.” Cut meluapkan emosinya lalu meninggalkan Khalid sendiri di pinggir pantai.


 


Sebuah senyum terbit di sudut bibir Khalid, “Sepertinya kamu sudah pulih. Sabarlah sebentar lagi!” ucap Khalid pada diri sendiri.


 


***


LIKE...KOMEN...LIKE....KOMEN...


 

__ADS_1


__ADS_2