CUT

CUT
Satu Talam...


__ADS_3

Makan malam kali ini terasa ramai dan meriah. Kehadiran sanak keluarga dari kampung sedikit banyak sudah mengobati kerinduan Abu, Umi dan Pak Cek Amir yang sudah lama tidak bertemu dengan mereka. Sang pengantin baru tentu saja menjadi objek penting untuk diperbincangkan atau dijadikan bahan gurauan.


 


Seperti saat Faisal hendak mengambil piring, para saudara langsung heboh. “Jangan makan di sini. Cut, ajak Faisal makan di kamar.” ucap salah satu adik perempuan Abu dari kampung.


 


Umi mengambil talam lalu berkata, “Ajak Faisal makan di kamar!” Cut tidak bisa lagi mengelak. Padahal, ia sudah bersusah payah untuk menghindari Faisal selepas pulang dari masjid. ia bahkan tidak menaruh mukenanya di kamar karena malu bertemu Faisal bahkan ia sampai menyibukkan diri di dapur.


 


“Fais, makan di kamar ya!” ucap Mak Cek Siti pada sang keponakan.


 


“Mak Cek, udah gak jaman pengantin makan di kamar. Fais makan di sini aja, ya?” rengek Fais.


 


“Kalau Mak Cek tidak masalah. Kamu tahu sendiri tradisi di kampung Cut. Sudah ikut saja sana jangan membantah. Lagian lebih enak kalau kalian makan berdua dari pada di sini."


 


Dengan terpaksa Fais melangkahkan kakinya menuju kamar disusul Cut dengan mukena yang belum ia simpan selepas pulang dari mesjid. Sesampai di kamar, Fais langsung merebahkan diri di tempat tidur sementara Cut mencoba menyibukkan diri dengan melipat mukena secara perlahan seraya membelakangi sang suami.


 


“Aku rasa tradisi makan di kamar bagi pengantin sudah tidak cocok lagi diterapkan apalagi bagi kita yang tinggal di kota, ya kan? Kenapa kita harus memisahkan diri dari para keluarga? Seharusnya aku disuruh bergabung supaya lebih mengenal mereka bukan menyuruh makan di sini. Ada-ada saja tradisi di kampung kamu, Cut.”


 


“Mungkin tujuan dari tradisi ini supaya istri dan suami saling mengenal karena di pengantin di kampung kami hasil dari perjodohan bukan saling mengenal, pacaran lalu menikah.” tukas Cut.


 


Faisal bangun dari tidurnya lalu tersenyum menatap Cut yang sedang membelakanginya. “Seperti kita, ya?” tanya Faisal memastikan.


 


“Iya,” jawab Cut singkat.


 


Faisal bangun dari duduknya hendak mendekati Cut namun suara ketukan pintu berhasil menggagalkan rencananya.


 


Faisal membuka pintu lalu mengambil talam yang sudah berisi berbagai lauk pauk serta nasi lengkap dengan air cuci tangan dan air minum.


 


“Satu talam berdua. Bagaimana kalau sepiring berdua?” goda Fais.


 


“Makan saja! Abang bilang tadi lapar.” jawab Cut pura-pura tidak mendengar godaan sang suami.


 


Fais tersenyum lalu mengambil piring kosong. Saat ia hendak menyendok nasi ke dalam piring tiba-tiba, Cut menyerahkan piring yang sudah berisi nasi ke tangan Fais.


 


“Buat aku?” tanya Fais.


 


“Iya.”

__ADS_1


 


“Sebentar!” ucap Fais lalu ia menyendok kembali nasi ke dalam piring kosong di tangannya.


 


“Ini buat kamu!” Fais menyerahkan piring itu untuk Cut.


 


“Kita mulai dengan bertukar piring nasi. Setelahnya kita akan bertukar banyak hal, setuju?” ditanya seperti itu Cut hanya bisa mengangguk tanpa berpikir panjang. Sementara Fais tersenyum lebar menatap sang istri.


 


Fais makan dengan santai dan lahap berbanding terbalik dengan Cut yang merasa tidak tenang. Rasa malu akan kejadian menjelang magrib tadi belum juga hilang kini harus berhadapan kembali dengan sosok yang mampu membuat jantungnya berdegup kencang.


 


Setelah keduanya menyelesaikan makan malam mereka, Cut hendak membereskan piring kotor untuk dibawa keluar sampai ia terlonjak ketika tangannya ditahan oleh Fais. “Biarkan dulu di sini. Nanti aku yang bawa keluar.”


 


“Tapi-“ belum selesai Cut berucap kepala Fais sudah lebih dulu menggeleng tanda tidak setuju.


 


Fais menggeser talam merapat ke dinding lalu sebelah tangannya menepuk di samping tempat ia berada.


 


"Duduk sini.”


 


Cut sadar akan posisinya saat ini hingga dia tidak kuasa untuk menolak permintaan Fais selaku suami. Cut mendudukkan dirinya di samping sang suami seraya bersandar disisi tempat tidur.


 


 


“Bulan madu?” tanya Cut kembali seraya menatap sang suami.


 


“Iya. Jangan bilang kalau kalian tidak berbulan madu setelah menikah?” selidik Faisal.


 


“Kami tidak ada tradisi seperti itu. Bulan madu itu seperti apa?” tanya Cut penasaran.


 


Faisal tertawa kecil menatap sang istri. Akal sehatnya seakan tidak sejalan dengan jiwa kelaki-lakiannya saat ini. Berdua dalam satu kamar apalagi sudah mencicipi lembutnya bibir wanita bergelar istri tersebut membuat lahir dan batin Fais sebagai lelaki normal menjadi menggebu-gebu untuk mencicipi kembali. Sesekali, Fais harus menghela nafasnya untuk meredam jiwa yang sedang bergejolak di dalam sana.


 


“Aku masih ada waktu sebulan untuk liburan. Bagaimana kalau kita liburan ke Medan? Di sana banyak teman-temanku. Mereka juga ingin kenal sama kamu, bagaimana?” tanya Fais memastikan.


 


“Cut kan sudah jadi istri Abang. Sudah seharusnya seorang istri mengikuti ke mana pun suami mengajak.” jawab Cut tulus.


 


“Kalau begitu aku mau ajak kamu ke kamar mandi, bagaimana?”


 


Glek...

__ADS_1


 


Cut harus menelan salivanya dengan susah payah. “Mau apa ke kamar mandi berdua?” tanya Cut polos.


 


Cut yang lahir dan besar di kampung ditambah dengan pengetahuan yang terbatas tentu tidak pernah terbesit maksud lain dari ajakan suaminya.


 


“Mandi bersama? Bolehkan suami istri mandi bersama?”


 


Glek...


 


Lagi-lagi Cut dibuat bingung sekaligus terkejut dengan pertanyaan dari sang suami. Fais, pemuda yang lahir dan besar di kota ditambah dengan pergaulan selama kuliah jauh dari orang tua tentu sangat paham hal semacam ini. Sangat berbanding terbalik dengan istri yang baru ia nikahi.


 


Fais menggeser duduknya menghadap Cut dengan satu tangan menopang kepala. Dengan sebelah tangannya, ia menyentuh lembut pipi Cut yang bersih tanpa jerawat. “Kamu sangat jarang menatapku, kenapa?”


 


Cut kembali menunduk malu. Ia juga meremas jari jemarinya karena Fais telah berhasil membuatnya gugup kembali.


 


Fais memutar dagu Cut untuk menatapnya dengan perlahan ia pun mendekatkan wajahnya hingga kedua ujung hidung mereka bersentuhan. “Lihat aku!”


 


Cut memberanikan diri menatap Fais perlahan dan –


 


Cup...


 


Sebuah kecupan kembali Fais layangkan di bibir sang istri dengan lembut. Tangan Fais yang tadinya berada di dagu kini secara perlahan bergerak menuju tengkuk sang istri. Dan kecupan demi kecupan kembali Cut terima dengan pasrah bercampur dengan rasa malu serta rasa aneh yang belum pernah Cut rasakan sebelumnya.


 


Kecupan yang tadinya lembut dengan durasi cepat kini mulai berubah menjadi ciuman yang susah Cut imbangi. Fais begitu lihat hingga Cut kalah dalam permainan ini. Suara Azan terdengar hingga ke dalam kamar mereka.


 


Fais masih memegang tengkuk sang istri yang berlapis kain penutup kepala. Tanpa meminta persetujuan sang istri, Fais membuka jilbab Cut untuk pertama kalinya secara perlahan. Cut kembali menunduk malu ketika sang suami membuka jilbabnya. “Kamu sangat cantik.” ucap Fais setelah berhasil membuka jilbab Cut.


 


Fais bangun dari duduknya sambil memegang tangan Cut. Tanpa tanya, Cut mengikuti Fais tepat di depan pintu kamar.


 


Klep...


 


Fais mengunci pintu dengan sebelah tangannya lalu ia membalikkan badan menghadap sang istri. Tangan yang tadinya menggenggam erat  tangan Cut kini beralih ke pinggang sang istri setelah sebelumnya mendorong pelan sang istri dalam pelukannya. Jantung Cut berdegup kencang ketika dadanya menabrak dada sang suami. Untuk pertama kalinya mereka berpelukan seperti ini.


 


“Apa kamu takut?”


***

__ADS_1


LIKE...KOMEN...SHARE...BIAR RAME YANG FAVORITKAN...MAKASIH


__ADS_2