CUT

CUT
Kotak Misteri...


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat bagi mereka yang bahagia. Setelah banyaknya gunjingan dari orang-orang membuat Abu selaku orang tua mengambil sikap untuk melarang Faisal  menjemput Cut setiap hari Minggu. Merek baru bertemu jika berurusan dengan persiapan pernikahan itu pun tidak hanya berdua melainkan bersama para orang tua.


Seminggu menjelang pernikahan, Cut telah pindah ke rumah Mak Cek Siti. Abu dan Umi harus merelakannya karena kondisi ruko tidak memungkinkan untuk melakukan semua proses menjelang pernikahan.


Hari-hari Cut dihabiskan bersama Rendra, Intan dan Faris. Seperti sekarang, mereka yang tengah bercanda ria bersama di ruang tamu dikejutkan dengan suara orang memberi salam.


“Walaikumsalam.” ucap mereka serentak.


Faris bangun dari duduknya lalu mengintip lewat jendela.


“Siapa, Bang?” tanya Intan penasaran karena mereka tidak sedang menunggu tamu.


“Abang tidak kenal.”


Tidak ada orang tua satu pun di rumah saat itu. Banyaknya kejadian penembakan oleh orang tidak dikenal membuat siapa saja lebih waspada dengan tamu yang datang ke rumah apalagi tidak mereka kenal.


“Tidak usah buka, Intan takut.” bisik Intan saat Faris kembali ke tempat duduknya.


“Tapi tadi sudah jawab salam, bagaimana ini?” tanya Faris bingung.


Cut bangun dari duduknya lalu kembali mengintip lewat jendela disusul Intan.


“Kakak kenal?” bisik Intan.


Cut hanya menggelengkan kepalanya. “Cari siapa, Pak?” cut memberanikan diri bertanya dibalik jendela.


“Saya diminta untuk memberikan kotak ini kepada Cut Zulaikha. Apa orangnya ada di rumah?”


“Dari siapa, Pak?” tanya Cut kembali.


“Saya tidak tahu namanya. Dia naik becak saya lalu minta saya untuk mengantar kotak ini kemari. Dia bilang dari sahabat Teuku Muhammad Ilham."


Deg...


“Itu kan nama almarhum abang Kak cut.” bisik Intan.


“Khalid.” batin Cut.


“Taruh saja di situ, Pak. Nanti saya ambil. Terima kasih.” Balas Cut.


“Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu.


"Assalamualaikum.”


“Walaikumsalam.”


Cut dan Intan saling menatap dengan pertanyaan yang sama dalam benaknya.


“Kira-kira isinya apa ya?” tanya Faris setelah mengintip lewat jendela.


“Tidak mungkin bom kan?” jawab Intan.

__ADS_1


Ketiganya saling menatap tanpa berani mengambil barang tersebut. Terlebih lagi mereka tahu si pengirimnya.


“Kita tunggu ayah sama mamak pulang aja. Biar mereka yang buka.” usul Faris.


“Bagaimana kalau isinya-...iiiii...serem.” ucap Intan membuat Cut dan Faris menatapnya bingung.


“Kalian tidak pernah dengar istilah cinta ditolak dukun bertindak?” tanya Intan pada Faris dan Cut.


Plak...


Sebuah sentilan diberikan oleh Faris pada adiknya.


Perdebatan keduanya pun berlanjut sampai akhirnya Mak Cek Siti pulang dari kantor. Setibanya di depan rumah, Mak Cek Siti merasa heran dengan kotak yang tergelatak di teras rumahnya.


Lantas, Mak Cek Siti memanggil kedua anaknya untuk keluar. Mendengar teriakan Mak Cek Siti, Cut ikut menyusul kedua sepupunya.


“Kiriman dari siapa ini?” tanyanya pada Intan dan Faris.


“Kiriman untuk Kak Cut. Tapi kami tidak berani mengambilnya.” jawab Intan.


“Kenapa? Siapa tahu dari keluarga jauh Cut.”


“Kalau keluarga jauh sudah pasti ada nama dan dikirimnya lewat jalur resmi bukan titip lewat tukang becak.” tukas Faris.


Mak Cek Siti tanpa sadar melangkah kakinya menjauhi kotak tersebut. “Telepon Ayah, suruh pulang sekarang!” titah Mak Cek Siti pada Faris.       


Mereka memilih masuk ke dalam rumah meninggalkan kotak tersebut di tempatnya. Segala yang berbau tidak jelas menjadi sesuatu yang menakutkan dan dihindari oleh setiap warga di Aceh.


Setelah dilakukan pemeriksaan menggunakan alat yang mereka bawa. Kotak tersebut akhirnya dibukan dan isinya membuat semua orang lega. Sebuah mukena putih dengan bordiran bunga di ujungnya terlihat cantik.


Pluk...


Sebuah amplop berisi surat jatuh ketika mukena tersebut diangkat oleh petugas.


 


Kepada: Cut Zulaikha


 


Assalamualaikum...


*Selamat atas pernikahan kamu. Abang berdoa semoga kamu bahagia dengan pernikahan ini sampai akhir hayat seperti Ilham. Maafkan Abang karena selama ini sudah banyak membuat kamu menderita tapi itu semua Abang lakukan semata-mata untuk kebahagiaan kamu.


Abang tidak mau kamu menikahi orang yang tidak pantas menjadi pembimbing kamu dunia akhirat. Mereka yang tangannya dilumuri darah tidak pantas memegang kain putih yang masih bersih. Begitu juga dengan kamu. Abang berharap laki-laki ini akan memberikan kebahagiaan di sepanjang hidupmu. Maaf karena Abang hanya bisa memberikanmu hadiah ini. Walaupun murah tapi itu halal. Sekarang, Abang sudah tenang karena janji Abang kepada Almarhum Ilham sudah Abang tepati*.


Abang berdoa tulus dari hati semoga kamu bahagia. Dan sekali lagi, maafkan segala kesalahan yang pernah Abang lakukan padamu dan pada mereka yang dekat denganmu. Walaupun Abang tahu kesalahan Abang sulit dimaafkan.


Selamat menempuh hidup baru, Cut Zulaikha.


Semoga berbahagia.

__ADS_1


 


Dari: Hamba Allah


 


 


Petugas tersebut menyerahkan surat yang sudah ia baca pada Pak Cek Amir.


“Maaf, Pak. Kami harus membukanya!” ucapnya setelah menyerahkan surat itu.


“Yang mana Cut Zulaikha?” tanyanya kembali dengan sorot mata yang sulit diartikan.


Pak Cek Amir memperkenalkan Cut pada petugas tersebut. Cut menganggukkan kepala sedikit.


Kejadian siang itu cukup menggegerkan perumahan di sekitar rumah Pak Cek Amir dan berita tersebut dengan cepat menyebar ke dalam area pasar.


Perbincangan terebut masih menjadi topik hangat di kalangan penghuni pasar. Pertanyaan demi pertanyaan muncul dari benak setiap orang hingga membuat Abu serta Umi lelah untuk menjawab. Begitu juga dengan Mae dan keluarga Mak Cek Siti tak terkecuali keluarga Faisal.


Walaupun sudah mengetahui masa lalu Cut, tapi bagi Kak Juli dan Bang Adi itu menjadi semacam bahan untuk mengganggu adik bungsu mereka.


“Kamu tidak penasaran dengan isi surat itu?” tanya Kak Juli berdiri di pintu kamar sang adik.


“Kak, jangan bersikap kekanak-kanakan. Aku bukan remaja SMA yang mudah dibakar cemburu.” Tukas Faisal.


“Cemburu tanda sayang. Kalau tidak berarti kamu ???” sahut Bang Adi yang ikut berdiri di samping sang kakak.


“Apa yang kalian lakukan? Berhenti mengganggu Fais!” larang Ibu Faisal pada kedua anaknya.


“Harusnya kalian bersikap dewasa serta memberikan contoh yang baik untuk Fais bukan bersikap seperti anak SD merebutkan mainan. Umur sudah 30 perangai seperti anak-anak. Mau jadi apa kalian?”


Kak Juli dan Bang Adi akhirnya memilih pergi dari pada mendengar ceramah menjelang tidur.


Setelah kedua anaknya pergi, Ibu Faisal mendudukkan diri di tepi ranjang sang putra. “Ibu harap semoga semua berita itu tidak mengubah pikiranmu untuk menikahi Cut.”


“Insya Allah, Buk. Fais akan tetap menikahi Cut.”


 


 


***


LIKE...KOMEN...


yang banyak yah....


 


 

__ADS_1


__ADS_2